The Housemaid

The Housemaid
Tian Zein masuk desa 2


__ADS_3

dari kejauhan Riana mengetuk pintu, dan keluarlah seorang wanita mengunakan daster yang minim.


"oh.... ingat pulang ternyata, suamiku lihat mantan istrimu datang ingin menemui putranya," kata wanita itu dengan sombong.


"ibu..." kata bocah kecil yang langsung memeluk Riana, bocah itu berusia sekitar tujuh tahunan.


"Rio, ya Allah ibu kangen, maafkan ibu yang pergi cari uang ya nak," kata Riana dengan tangis.


"owh kamu pulang,bawa tuh bocah gak guna, tiap hari bikin orang emosi Mulu, dan aku sudah tak mau membiayai dia, jadi gak usah hubungi aku, tapi kalau kamu kesepian kamu bisa mencariku untuk memuaskan mu," kata pria itu.


"cih... gak sudi aku, lebih baik aku jadi janda tua dari pada harus kau sentuh lagi, jijik," kata Riana yang pergi.


mereka pun membawa bocah itu pergi dan barang-barang Rio juga di bawa.


saat keduanya pergi, mantan suami Riana kaget melihat seorang pria yang menghampiri mantan istrinya itu.


"cih ternyata sudah punya pria lain, tapi aku jamin dia pasti tak lebih kaya dariku," kata mantan suami Riana.


"tapi setidaknya dia terlihat ganteng," ledek istri pria itu.


"sudah masuk sana," usir pria itu kesal.


bocah itu terus melihat sosok pria di belakang ibunya itu, "ayah baru, ganteng ya Bu," kata bocah itu.


"ssttss... bukan dia itu juragan ibu di kota, kamu harus panggil tuan," kata Riana yang kaget.


"aduh anak baik, kamu juga ganteng kok, tidak masalah mau panggil ayah juga gak papa," kata tuan Zein.


"ayah baru bilang gak papa kok," jawab bocah itu.


tuan Zein tertawa, sedang Riana menepuk dahinya, pasalnya dia tak bisa memarahi tuannya itu.


tak hanya itu, sekarang putranya itu malah mengulurkan tangannya pada tuan Zein.


"ayah gendong," kata pria itu.


"sini jagoan tampan," kata tuan Zein yang menggendong bocah berusia tujuh tahun itu.


tapi dia terkejut merasakan tubuh bocah itu yang begitu ringan. "nak kamu tidak makan?"


pertanyaan itu mengejutkan Riana dan bapak Suki, pasalnya cucunya itu memang berbadan kurus.


"dia memang sulit makan, kata ayahnya suka pilih-pilih makanan," kata Riana.

__ADS_1


"kamu memang tau, orang kamu tak di sisinya?" tanya tuan Zein.


Riana pun diam,"aku gak suka makan, karena aku hanya boleh makan nasi dan tempe," jawab bocah itu.


"apa!!" kaget tuan Zein yang terlihat Langsung marah.


dia seakan melihat Vita yang dulu juga dia telantarkan, dan sekarang dia melihat bocah ini juga mengalami hal seperti ini.


"kenapa kok cuma tempe, padahal setiap bulan ibu kirim uang, Pak ini gimana?" tanya Riana.


"bapak juga tak tau nduk,saat bapak mengirimkan semua makanan dan jajan untuknya, dan uang untuk keperluannya, dia selalu bilang jika semua baik," jawab pak Suki.


"bang Rio?" kata Riana.


"Rio di pukul Bu, jika Rio bilang, Rio akan di kunci di kamar mandi sama Tante," jawab bocah kecil itu.


"kenapa cuma diam, cepat pulang," panik tuan Zein.


pria itu berlari membawa Rio pulang ke rumah Riana, semua orang yang membantu di rumah kaget melihat ketiganya.


tuan Zein melihat semua luka lebam di tubuh Rio, bahkan ada luka bekas sulutan rokok, dan juga ada luka pukulan benda tumpul seperti kemoceng.


"kita ke rumah sakit, Rio harus di obati, jika tidak dia bisa mengalami infeksi," kata tuan Zein.


"tapi tuan," kata Riana yang tak memiliki uang lagi karena semua uangnya untuk keperluan pernikahan adiknya.


Riana pun mengendong Rio, dan mereka pun pergi mengunakan mobil.


semua orang kaget melihat pria itu marah, pasalnya dia terlihat begitu khawatir dan panik saat melihat semua luka Rio.


saat menuju rumah sakit di butuhkan waktu satu jam dari rumah Riana, dan sesampainya di rumah sakit Rio pun langsung di obati.


dan ternyata benar, beberapa luka akan meninggalkan bekas karena sudah terinfeksi dan di biarkan.


"kita laporkan dia ke polisi, ini penganiayaan, kita tak boleh tinggal diam," marah tuan Zein.


"jangan tuan, keluarga saya bisa di bunuh, mereka termasuk keluarga kaya di desa," mohon Riana.


"tapi putra mu seperti ini, bahkan bobotnya saja cuma lima belas kilo, padahal anak seusianya harusnya tumbuh sehat," kata tuan Zein yang masih kesal.


"aku mohon jangan tuan," tangis Riana.


tuan Zein pun memeluk wanita itu, entahlah dia bisa semarah ini, dia seperti melihat Vita kecil yang harus berjuang keras dulu, dia merasa bersalah dan terluka.

__ADS_1


setelah dokter mengizinkan mereka pulang dan sudah menebus obat, tuan Zein mengajak mereka menuju ke minimarket yang masih buka.


"Rio sayang, kamu boleh pilih apa saja yang kamu inginkan," perintah tuan Zein.


"benarkah ayah?"


"iya nak, ayo pilih Rio mau apa?"


Riana membawa satu keranjang berwarna biru itu, ternyata Rio mengambil sebuah wafer coklat dan sebuah permen yang ada mainan diatasnya.


"itu saja nak," tanya tuan Zein.


"kebanyakan ya ayah, maaf ya jangan pukul Rio, Rio kembalikan," kata bocah itu takut.


"tidak nak, kamu boleh mengambil semua mainan atau bahkan makanan di rak, tak perlu takut, ayah tak marah, kamu bisa mengambil yang lebih banyak," kata tuan Zein.


"tidak ini cukup ayah," karena bocah itu.


"pegang putramu Riana," kata tuan Zein.


dia pun mengambil tiga keranjang belanjaan, dan langsung memasukkan semua susu untuk pertumbuhan.


semua jenis makanan, mulai dari mie, coklat dan lainnya, "tuan itu terlalu banyak," kata Riana.


"tidak, Rio harus sehat dan pintar, kamu tak mau melihat putra mu juara,"


kasir pun mulai menghitung semua belanjaan, dan tuan Zein masih memilih makanan Frozen food.


tak hanya itu, Rio juga di berikan es krim yang besar, dan bocah itu nampak bahagia, setelah itu tuan Zein membayarnya dengan debit.


dalam perjalanan pulang, Rio terus memakan eskrim yang mungkin jarang dia sentuh, apalagi ukuran besar.


"terima kasih ayah, ini pertama kali Rio memakan es krim sebanyak ini, terus tidak di marahi," kata bocah itu.


"tapi Rio harus mulai makan sayur dan minum susu, jika tidak nakal ayah bisa belikan apapun yang Rio minta oke," kata tuan Zein.


"baik ayah, Rio akan menurut pada ayah," jawab Rio.


akhirnya mobil pun sampai di rumah pukul sepuluh malam, setelah parkir pak Suki dan istri kaget melihat ada beberapa perban di tubuh Rio.


"Mbah, Rio beli makanan dan eskrim, ayah yang belikan," kata bocah itu dengan senang hati.


Riana dan tuan Zein masuk dengan semua belanjaannya,dan menyimpannya di kamar Riana.

__ADS_1


"Rio sayang ayah," kata bocah itu.


tuan Zein pun mengusap kepala bocah itu dengan kasih sayang, bahkan Riana baru kali ini melihat senyum putranya yang begitu ceria.


__ADS_2