
"ah maaf tuan, saya ke belakang dulu," panik wanita itu.
pasalnya dia merasakan yang seharusnya tidak dia rasakan, jantungnya saat ini sangat berdebar-debar.
pasalnya tubuh pria tadi begitu indah karena dia tak pernah melihat tubuh seindah itu.
bahkan tubuh tuan Zein masih terbentuk dan begitu kekar di usianya.
"ya Tuhan, tubuh tuan begitu kekar, padahal suamiku dulu saja meski tidak gemuk tapi perutnya tetap buncit, tapi tuan, ah... bisa gila aku," kata Riana yang langsung pergi ke rumah utama.
malam itu semua orang datang membawa sedikit hadiah, dan ternyata tuan Syam dan Bu Elva datang cukup malam.
mereka melakukan pesta kebun di belakang rumah, tapi Bu Elva memilih istirahat.
terlebih dia tak bisa terkena angin malam terlalu lama karena kondisinya.
Benny, Iwan dan Ferdi sedang duduk bersama, begitupun para wanita sedang Jimmy mengambilkan makanan untuk istrinya.
"jadi kalian kapan menikah? bukankah sudah mengantongi izin dari Steve?" tanya Jimmy penasaran.
"yang pasti bukan sekarang, terlebih aku masih ingin berkarir," jawab Yuniar.
"nyonya Jimmy tolong minta dia menikah dengan ku, karena dia itu sangat keras kepala, setidaknya saat kami bersama dia tak harus bekerja sekeras ini," kata Ferdi pada Vita.
"bagaimana menurut mu Yuniar?" tanya Vita penasaran.
"menyebalkan, aku tak ingin menikah, jika kamu buru-buru mending cari wanita lain, dan lagi aku tak ingin menjadi burung yang terkekang setelah menikah, dengan ucapan mu saja sudah bisa di tebak jika kamu ingin membuatku jadi ibu rumah tangga, tapi maaf, itu bukan diriku," kesal Yuniar
Ferdi pun hanya kaget, pasalnya dia tak mengira jika itu yang di pikirkan oleh Yuniar.
karena tak ada niat sedikitpun untuk membuat wanita itu merasa di kekang selama menjadi istrinya.
"bukan seperti itu, aku hanya tak suka melihat mu menghabiskan malam dengan pria-pria tak jelas itu," saut Ferdi.
"tapi sayangnya aku menyukai itu, jadi maaf ya tuan Ferdi jika aku bukan tipe anda," kata Yuniar.
"kasian..... kena tolak nih," ledek mereka semua.
tapi Yuniar hanya tertawa karena dia ingin melihat reaksi dari Ferdi, tapi pria itu malah langsung bangkit dan menciumnya.
"kamu gila!!" kaget Yuniar.
"ya aku gila karena mu," jawab Ferdi.
__ADS_1
tak butuh waktu lama, pesta pun berakhir, Vita menyempatkan diri melihat ibu mertuanya.
rumah itu begitu rapi dan steril, bahkan Vita dan Jimmy saat akan masuk harus di semprot desinfektan.
terlihat Bu Elva yang tersenyum kearah keduanya, "bagaimana keadaan mu Vita, mama dengan kamu juga sempat sakit?"
"ah iya mama, tapi beruntung aku dan bayiku baik-baik saja, terutama mas Jimmy yang terus menjaga ku dengan sangat baik," jawab wanita itu.
"baiklah, Jimmy kamu melakukan pekerjaan yang baik, terlebih kamu juga harus menjaga bayi di perut istrimu, karena itu pewaris kita," kata Bu Elva mengingatkan.
"iya mama, aku mengerti," jawab Jimmy.
"sudah-sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya sayang, jangan membuat kondisimu makin memburuk, dan kalian juga istirahat, ingat Vita kamu juga harus sehat-sehat," kata tuan Syam mengingatkan menantunya itu.
"iya papa," jawab Vita yang langsung pamit pulang bersama Jimmy.
mereka berdua pun masuk kedalam rumah dan terlihat ibu Kim sedang memberikan arahan.
Vita langsung menuju ke lantai dua bersama suaminya, dan Bu Kim memastikan tak ada yang berani lancang naik ke lantai dua tanpa perintah.
semua pun mengerti, tapi di paviliun sebelah, Riana sedang membuat roti bakar isi daging yang tadi tersisa cukup banyak.
dia pun memasaknya dan besok bisa di buat untuk sarapan bersama tuan Zein.
setelah selesai, Riana sedang membersihkan dapur tak sengaja tuan Zein datang ke dapur sambil memegangi kepalanya.
"sepertinya aku mabuk, terlebih tadi Benny dan Iwan membuatku minum wine," kata pria itu.
"baiklah ini ada es krim, atau tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Riana.
"itu saja cukup, tapi bisakah tolong buatkan aku makanan hangat, boleh tidak?" kata tuan Zein.
"tentu tuan, saya buatkan, mau sup tahu dengan telur?" tawar Riana
"tentu dong, kamu selalu terbaik saat memasak," jawab tuan Zein.
Riana memasak untuk tuannya itu, dan saat tuan Zein memakan masakan itu begitu lahap.
itu menjadi kebanggaan dari Riana, karena dia bisa membuat tuannya itu puas.
sedang di salah satu lorong rumah sakit, virnie sedang menjadi pemuas nafsu dari tiga perawat pria itu.
terlebih virnie tetap menawan meski dia gila, bahkan saat ini wanita itu sudah hamil.
__ADS_1
tapi ketiga perawat itu tak peduli dan tetap menikmati apa yang sedang mereka lakukan.
di tempat lain, Sekar benar-benar di buat gila oleh para tahanan lain.
sekarang dia sedang memijat seorang wanita yang di panggil bos di area penjara.
terlebih wanita itu itu juga tak bisa bersikap semena-mena karena dia tak memiliki kekuatan untuk melawan wanita itu yang sangat kuat.
"hei siapa yang menyuruhmu berhenti!!" marah wanita itu saya Sekar berhenti sejenak.
"maaf," kata wanita itu.
pasalnya dia tak mengira jika hidupnya akan sehancur ini, karena telah di buat oleh suaminya.
"hei ... aku menyuruh mu untuk memijat kakiku, bukan menangis tak jelas seperti ini, dasar wanita tak berguna, sialan!!!" maki wanita yang menguasai penjara.
karena dia marah, dia pun langsung menampar pipi dari Bu Sekar dan membuat wanita itu menghantam dinding dengan keras.
kepala wanita itu pun terluka parah, bahkan darahnya langsung mengalir keluar dengan sangat deras.
semua tahanan kaget melihat hal itu, "kenapa cuma diam, cepat panggil sipir penjara!!" perintahnya
tubuh Sekar pun kejang-kejang dan akhirnya meregang nyawa malam itu, dalam kondisinya yang begitu memprihatinkan.
"dasar kalian ini, kenapa membunuhnya, kamu tau jika dia bukan orang sembarangan!" kata seorang sipir wanita yang datang.
"dia saja bodoh, kenapa membenturkan kepalanya ke dinding,jadi kenapa menyalahkan kami," saut para tahanan.
"bener tuh," jawab tang lain.
akhirnya mayat Sekar di bawa ke rumah sakit, dan rumah sakit menghubungi nomor Jimmy dan tuan Zein.
"tuan ponsel anda berdering," kata Riana yang melihat sering ponsel itu.
"tolong bawa kesini," kata tuan Zein yang berada di ruang keluarga sambil menonton tv.
dia tak mengenal telpon itu dan langsung mengangkat panggilan itu, "maaf apa ini benar dengan tuan Zein, saya dari penjara wanita jelas satu, tempat Bu Sekar menjalani hukumannya," kata kepala lapas itu.
"iya ada apa menghubungi ku malam-malam seperti ini, aku harap ini terakhir kalinya karena kami sudah tak memiliki hubungan apapun," jawab tuan Zein yang sedikit malas.
"baiklah tuan maafkan saya, karena hanya nomor anda yang tertera di semua data milik Bu Sekar, saya hanya ingin mengabarkan jika Bu Sekar melakukan bunuh diri di dalam penjara, dan sekarang jenazahnya ada di rumah sakit, saya hanya ingin mengabarkan itu," jawab kepala lapas itu.
"ah... baiklah besok aku akan datang dan melihatmu, terima kasih sudah mengabari saya," jawab tuan Zein.
__ADS_1
dia pun menutup telpon dan menghela nafas, melihat tuannya sedih Riana menepuk punggung tuan Zein agar tenang.
"ada apa tuan, kenapa anda terlihat sedih?" tanya Riana khawatir.