
butuh waktu lama, dan beberapa kali mobil Jimmy yang di supiri oleh Nat berhenti di stasiun pengisian bahan bakar.
bukan apa, istrinya itu merasa jika lelah dan selalu ingin ke toilet, belum lagi lapar, jadi mereka memilih lewat jalur biasa.
sedang tuan Zein dan keluarga barunya sudah lewat tol bersama yang lain.
mereka sampai lebih cepat, Riana pun mengikuti tuan Zein yang tinggal di paviliun, bukan tak tau malu menumpang di rumah Vita dan Jimmy.
tapi itu permintaan dari Vita yang tak mengizinkan mereka keluar dari sana.
karena Vita ingin selalu dekat dengan tuan Zein yang baru saja bersama dengan dia.
Riana langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sesuatu, sedang tuan Zein membawa putra kecilnya itu tidur.
meski belum di perbaiki dan di tata ulang, setidaknya Rio sudah nyaman di kamarnya itu, tak butuh waktu lama Riana meminta tuan Zein untuk makan dulu.
keduanya duduk di meja makan, dan makan bersama, tuan Zein melihat Riana yang nampak bingung.
"kamu kenapa? kenapa wajahmu begitu ketakutan?" tanya tuan Zein.
"emm... tidak ada kok tuan,"jawab Riana pada suaminya itu.
"katakan saja apa yang kamu inginkan, atau aku tak pernah tau apa yang kamu butuhkan atau perlukan," kata tuan Zein.
"baik tuan," jawab Riana sedikit takut.
"dan berhenti memanggilku tuan, kita suami istri panggil aku mas atau apapun itu, tapi jangan tuan," kata tuan Zein
"baik mas," jawab Riana.
tuan Zein tersenyum singkat dan sekilas, dia pun langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil laptop untuk melihat semua laporan dari restorannya yang baru saja buka.
ya, dia tuan Zein sudah membuka dua cabang baru, pria itu benar-benar pebisnis ulung, pasalnya baru di buka beberapa bulan.
restoran itu sudah membuka dua cabang yang ternyata juga sangat ramai, itulah kenapa Vita bisa mewarisi darah seorang pebisnis sukses dari ayahnya.
meski yang lalu tuan Zein bangkrut karena gaya hidup hedon dari istri dan putri sambungnya.
"mas butuh sesuatu?"
"tidak, istirahatlah dulu, jangan kamu bekerja terus, kamu pasti capek terlebih beberapa hari ini kita terus sibuk," kata tuan Zein.
"saya tidur di kamar bersama Rio ya mas," pamit Riana yang tak mau menganggu suaminya itu yang sedang fokus.
__ADS_1
"baiklah, tapi nanti malam kamu tidur di sini, karena Rio ada di kamar samping dan dia akan aku kasih penjelasan, tenang selama kamu tak mengizinkan aku menyentuh mu, aku tak akan melakukan apapun," kata tuan Zein.
"baik mas," jawab Riana yang langsung pergi ke kamar sebelah di mana Rio terlelap.
sedang mobil Jimmy molor hingga empat jam, para pelayan datang dan membawakan semua belanjaan Vita, dia juga meminta mereka membawanya ke paviliun milik tuan Zein.
Riana keluar dari kamar Putranya karena mendengar suara ribut-ribut, "ada apa Bu Kim, ini semua?"
"hadiah dari nyonya untuk adik barunya, dan Riana tolong jalankan tugas mu dengn baik, karena aku tau jika nyonya ingin melihat ayahnya bahagia," kata Bu Kim yang selama ini terlihat ketus.
"iya Bu Kim,saya mengerti," jawab Riana yang mengerti akan permintaan itu.
saat melihat semua hadiah itu, ternyata berisi baju,mainan, dan juga perlengkapan sekolah.
bahkan juga kebutuhan dari putranya itu juga tersedia. Riana tak mengira Vita bisa menerima dirinya dan juga putranya Rio seperti ini.
Vita sudah berendam di bathtub, bersama Jimmy, keduanya pun menikmati suasana rileks ini.
setelah itu keduanya pun turun untuk makan malam bersama, Vita keluar dari lift bersama Jimmy.
"wah... kakak Vita dan kakak Jimmy keluar dari tembok," kata Rio yang terpukau.
"Rio..."
"Rio suka hadiahnya?" tanya Vita.
"suka, terima kasih kakak,"kata Rio senang.
"terima kasihnya ke kakak Jimmy ya, karena itu semua yang membelikan adalah kakak Jimmy," kata Vita tersenyum.
"terima kasih kakak Jimmy," kata Rio.
"iya sama-sama Rio," jawab Jimmy tersenyum.
tapi tak terduga, Yuniar datang bersama Yulio, "Vita kita dalam masalah besar!!!" teriaknya.
"ya Tuhan, kamu kenapa Yuniar, mengejutkan semua orang," kata tuan Zein.
Yuniar tak peduli, dia langsung menarik Vita untuk baik ke atas, dan Yulio bersama mereka.
"Yuniar!!! biar dia makan dulu!!" marah Jimmy.
terlebih istrinya itu sedang hamil tujuh bulan dan Yuniar begitu kasar.
__ADS_1
"dasar CEO tak kompeten, kenapa dia merepotkan seorang kedua dewan direksi," kesal Jimmy yang membawa makanan naik ke lantai atas.
Jimmy masuk kedalam ruang kerja, dan memberikan nasi yang dia bawa, "cepat makan, biar aku bereskan,"
"tapi ini, dia membajak semua IP perusahaan," kata Yuniar.
"karena kalian tak melakukan perlindungan sistem, sayang suapi aku yang akan membantumu, dan kamu harus makan juga," kata Jimmy yang memang ahli dalam IT dan bisnis.
Jimmy perlahan tapi pasti bisa mengembalikan semua seperti sedia kala, bahkan pria itu membuat hacker itu hancur dengan mengirimkan virus kuat.
"susah selesai, dan sayang terima kasih loh, kamu sudah kenyang kan, dan lupa suamimu ini," kata Jimmy.
"habis mas terlalu serius, hingga aku tak enak mengganggunya, jadi aku makan sendiri, sini aku suapin sayang, masih banyak kok," kata Vita tersenyum.
"IP hacker itu dari Qatar, apa kalian punya musuh di sana?"
"tidak ada, kami hanya bekerja sama dengan tuan Kareem saja, karena kami jarang mau berurusan dengan keluarga kerajaan," jawab Yuniar.
"berarti kalian sudah di incar, sekarang perusahaan aman, kalian bisa tenang, dan berhenti menarik istriku seperti tadi, kamu membahayakannya," kata Jimmy memperingatkan kedua orang itu
"ah maaf... aku panik tadi," jawab Yuniar yang menang sangat panik.
"tak apa-apa, sekarang kita turun dan makan dulu, aku tau kalian pasti belum makan kan?" kata Vita dengan lembut.
"ya terima kasih nyonya," jawab Yulio
semua sedang duduk di ruang keluarga untuk menonton film bersama, sat keempatnya keluar dari lift.
"bagaimana, apa semuanya beres?" tanya tuan Syam.
"beres dong pa, Kan ada mas Jimmy, kalau begitu kami makan dulu ya," kata Vita.
"iya nak, ibu Kim tolong siapkan semuanya," kata tuan Syam
Rio sedang anteng di pangkuan tuan Zein, bocah itu seakan tak mau lepas dari ayah sambung yang begitu mencintainya.
keempatnya sedang di meja makan, Yuniar dan Yukio makan dengan sangat lahap karna tadi keduanya belum sempat makan tapi sudah panik karena masalah perusahaan.
kedua keluarga itu pun pamit untuk beristirahat,Rio sudah berani tidur sendiri.
sedang Riana saat ini sedang memijat tuan Zein, pria itu pun begitu menikmati setiap sentuhan dari Riana.
perlahan dia pun sudah terlelap dalam tidurnya, karena sudah terlalu lelah karena kegiatannya selama di desa.
__ADS_1