The Housemaid

The Housemaid
kenekatan Virnie.


__ADS_3

"apa maksudmu dia sudah mati?" tanya tuan Zein.


"ya, dia mati setelah dua tahun kamu tinggalkan, dan aku tumbuh di jalanan dengan keras, dan sekarang kamu mengakui aku putrimu, bullshit ..." marah Vita.


"sudah puas Zein, sekarang silahkan pergi dan jangan menganggu calon menantu kami, jadi silahkan pergi kamu tau pintu rumah ini Jan, silahkan," kata tuan Syam mengusir pria itu.


tuan Zein pun merasa tak ada pilihan lain karena semua jalan untuk mendekati Vita sudah tertutup.


tuan Zein pulang karena dia frustasi, terlebih masalah perusahaan seperti sudah tak ada jalan keluar lagi.


pria itu kaget melihat mobil yang di bawa Virnie sudah terparkir di garasi.


"kenapa kamu sudah pulang, bukankah kamu seharusnya masih di rumah sakit?" tanya tuan Zein.


"maaf pa, aku sudah di pecat, karena melakukan kesalahan," kata virnie.


"apa? kenapa kamu begitu bodoh, dan sekarang bagaimana dengan kekasihmu itu? dia harus bertanggungjawab terhadap mu dan anak di perutmu," kata tuan Zein.


"aku belum memberitahukannya tentang kondisiku, tapi aku akan menemuinya nanti sore untuk mengatakan semua ini, tapi kenapa papa di rumah, bukannya di kantor?" tanya Virnie.


"sudah tak ada yang bisa di selamatkan lagi, besok tim audit keuangan akan menyatakan jika perusahaan kita sudah bangkrut," jawab tuan Zein.


"apa? kenapa bisa seperti ini, aku tak mau jatuh miskin," kata Bu Sekar.


"kalau begitu pergi dari rumah ini, dasar wanita matre, aku yakin kamu juga akan jadi gelandangan jika bukan aku dan Sonya dulu yang mengambil mu dan putrimu itu, bahkan sekarang aku menyesal telah meninggalkan keluargaku demi kalian berdua," marah tuan Zein yang naik ke lantai atas.


dia tak mengira di usianya, dia malah kalah melawan putri kandung yang telah dia sia-siakan.


"kenapa hidup kita bisa sampai bisa seperti ini," kata Bu Sekar patah semangat.


"semua ini karena wanita itu, jika bukan karena dia, kita tak akan menjadi seperti ini," marah Virnie.


"ya kamu benar, wanita itu harus mati," kata Bu Sekar.


"ya mama benar, seharusnya dulu kita membunuh dia agar tak mengacaukan kehidupan sempurna kita," jawab Virnie.


"jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, karena aku ingin melihat mereka berakhir," jawab Bu Sekar.

__ADS_1


"serahkan padaku mama, aku akan membereskan semuanya dengan caraku," kata Virnie.


virnie pun pergi dari rumah, dia tak bisa terus diam seperti ini, dia mencari seseorang yang bisa membantunya menanggani Vita.


siang itu Vita ingin keluar karena ada rapat bersama Yuniar dan beberapa tamu dari luar negri.


kebetulan jimmy juga sedang sibuk jadi dia berangkat setelah yulio menjemputnya.


"nyonya, kita langsung menuju tempat rapat?" tanya Yulio.


"ya, kita langsung berangkat saja, karena aku tak suka menunda-nunda pekerjaan," jawab Vita.


pasalnya ini adalah rekan bisnis yang sangat sulit di ajak kerja sama, tapi saat dia menghubungi Yuniar dan Yulia.


Vita mengiyakan tanpa curiga apapun karena pria itu memang sangat profesional dalam pekerjaan.


mereka sampai di hotel berbintang lima yang sangat mewah, itu adalah tempat yang tak umum kalau hanya di gunakan untuk rapat pekerjaan.


"ya Tuhan, aku sampai lupa jika rekan bisnis kita adalah seorang konglomerat asal negara timur tengah," kata Vita pada Yulio.


saat Vita masuk kedalam ruangan itu, semua orang di dalam ruangan berdiri.


Vita kaget melihat semua orang yang memakai baju khas mereka, "seharusnya aku memakai jilbab atau tidak?" lirih Vita.


"tidak perlu nyonya mereka tak keberatan," jawab Yulio


"selamat siang,maaf saya terlambat," kata Vita.


"tidak apa-apa nyonya, tuan kami juga sedang dalam perjalanan kesini," jawab mereka semua.


Vita menoleh ke arah para asistennya, dia tak mengira jika orang yang penting juga bisa telat.


padahal Vita di jalan sudah panik karena takut membuat mereka semua kecewa.


seorang pria datang dengan pengawalan ketat, dan yang membuat Vita kaget adalah pria itu.


tadi tak sengaja dia sempat menolong pria itu setelah pulang dari masjid.

__ADS_1


"halo nyonya," sapa pria itu.


"halo tuan," jawab Vita yang menjabat tangan pria itu.


"kenapa anda begitu kaget melihat saya, apa ada yang salah nyonya?" kata pria itu.


"sedikit, karena saya tak mengira jika orang yang tadi begitu sederhana ternyata orang yang begitu hebat," jawab Vita memuji.


"anda juga baik, meski tak mengenal orang, tapi anda mau membantunya dengan senang hati," jawab pria itu.


"terima kasih atas pujiannya," jawab Vita tersenyum.


"ehem... jadi bisakah kita mulai rapat ini tuan Kareem, karena kami tak mau menganggu waktu anda yang berharga," kata Yuniar.


"tentu Miss Yuniar, maaf saya terlalu senang saat tau rekan bisnis saya orang baik," jawab pria itu.


rapat berjalan sangat lancar, terlebih pria itu suka cara pekerjaan dari Vita yang begitu efisien dan sempurna.


sedang di sebuah club, virnie menemui seorang pria dan mengajaknya bicara.


"ada apa ini wanita yang memiliki kehormatan seperti ini mau datang ke tempat seperti ini dan menemui aku?" tanya pria itu.


"karena aku butuh bantuan mu dan anak buah mu, aku ingin kamu menculik dan membunuh seseorang, dan jika ada yang menghalangi mu bereskan juga," kata Virnie.


"kamu tentu tau berapa tarif meminta bantuan ku bukan?" tanya pria itu.


"tentu aku tau, sebab itu aku akan membayar mu dua kali lipat saat kamu berhasil melakukan itu dengan cepat dan tak menimbulkan jejak," kata Virnie.


"tentu, kamu tau pekerjaan kami bukan nyonya," jawab pria itu tersenyum sambil mencium rambut panjang virnie.


Virnie pun menunjukkan foto dan semua yang di butuhkan untuk melakukan rencananya.


dan setelah wanita itu tersingkir, dia bisa kembali pada Jimmy dan memulihkan semua keadaan.


dan dia juga harus melakukan aborsi dan membuat Bram membunuh anaknya sendiri, karena dia tak butuh pria seperti Bram yang tak bisa mendukungnya.


dan Virnie juga tak akan melepaskan dokter Bram begitu saja, jadi dia akan membuat dokter Bram dan tunangannya berakhir seperti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2