
tuan Zein mendapatkan seorang tamu di kafe miliknya, dia adalah pengacara yang di tunjuk oleh Vita untuk membereskan masalah dengan Sekar dan Virnie.
"bagaimana tuan apa anda ingin mengakhirinya Semuanya, atau anda ingin bertahan, tapi jika ingin bertahan pilihan anda, anda bisa pergi meninggalkan rumah nyonya karena dia tak ingin melihat kedua wanita itu," tawar pengacara Josh.
"tentu saja aku akan mengakhiri semuanya, aku tak mau berurusan dengan mereka lagi, aku sudah terlalu banyak terluka," kata tuan Zein yang langsung menandatangani semua surat-surat itu.
setelah itu pengacara ingin menuju ke penjara, tapi tuan Zein juga ingin ikut, setidaknya dia ingin mengucapkan selamat tinggal pada wanita yang pernah menemani hidupnya itu.
dia membawakan beberapa makanan kesukaan wanita itu, dia pun pergi bersama pengacara Josh.
mereka sampai di rutan kelas satu di pinggiran kota, mereka pun langsung masuk karena sudah ada pemberitahuan sebelumnya.
Sekar di hukum sepuluh tahun penjara karena semua ulahnya, dia terbukti mendorong Sonya untuk bunuh diri dan juga terbukti membantu Virnie untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada Vita.
tapi malah mengakibatkan dua cucunya sendiri yang tewas di tangan orang-orang suruhan mereka.
tuan Zein duduk di depan wanita itu terlebih dahulu, melihat suaminya itu, Sekar begitu senang.
"kamu ingin menyelamatkan aku, tolong rebus aku," mohon wanita itu.
"tidak bisa Sekar maafkan aku, aku sudah tak memiliki apa-apa lagi, semua uang sudah habis untuk pengobatan dari virnie, dia bahkan mungkin tak bisa di sembuhkan lagi," kata tuan Zein.
"apa maksudmu, semua hartamu itu banyak," marah Sekar.
"aku bangkrut Sekar, semua sudah aku jual Semua untuk membayar gaji karyawan, aku bahkan sempat jadi gelandangan," marah tuan Zein.
"kenapa kamu bodoh kamu punya putri kaya mu, minta dia membantu mu dasar pria tak berguna," marah wanita itu.
tuan Zein langsung bangkit dari tempat duduknya, "aku memang di bantu oleh Vita, tapi aku kesini bukan untuk melepaskan mu, tapi untuk memberikan surat cerai ini," kata tuan Zein.
"aku tak mau tanda tangan, kenapa kamu membuang ku saat aku seperti ini, dulu kamu yang membuatku agar sonya pergi jauh dan tak menganggu kita, itulah kenapa aku membuatnya bunuh diri, tapi ini balasan mu," marah Sekar menyerang tuan Zein.
"itu urusan mu, aku sudah tak ada urusan lagi dengan mu, dan untuk masalah itu kamu sendiri yang memilih jalan itu, dan maaf pernikahan dan hubungan kita selesai sampai disini,"jawab tuan Zein
"dasar pria biadab, kamu selalu membuang wanita yang sudah menemanimu, ku doakan kamu tak akan pernah dapat wanita yang tulus," kata Sekar murka
__ADS_1
dia merasa benar-benar tak berguna dan di campakkan oleh pria itu, "sayang Tuhan tak akan mendengar doamu,"
Sekar di bawa kedalam selnya, sedang tuan Zein pun di antar pulang karena Vita baru saja mengirimkan pesan tentang pesta sederhana itu.
terlebih hari ini Bu Elva juga akan pulang, karena kondisinya sangat baik setelah melakukan transplantasi jantung.
tuan Syam juga sangat bahagia melihat istrinya itu yang sudah mulai pulih.
Jimmy dan Vita sengaja membuat pesta penyambutan dari orang tua mereka itu.
semua pelayan sibuk dengan urusan masing-masing, Vita sudah memarinasi semua daging yang dia beli.
tuan Zein datang membawa kue kesukaan dari Bu Elva, dia pun menyapa Vita yang sedang berada di dapur.
"halo nak, kamu sedang apa, kenapa tak istirahat saja, biar ayah yang mengerjakan semuanya," kata tuan Zein.
"tidak papa ayah, ini sudah selesai, aku cuma merendam ini semua dengan bumbu," jawab Vita.
"owh... begitu oh ya ini ada sedikit tambahan, sini ayah bantu," kata tuan Zein.
Vita merasa senang, pasalnya ayahnya itu sangat baik sekarang dan pria itu bisa bersikap menjadi ayah untuk Vita.
"sayang...."
"kenapa sih, malu memang aku salah ya, aku kan suami mu," kata Jimmy tak tau tempat.
"kamu ini benar-benar ya," kesal Vita yang di tanggapi dengan tawa oleh Jimmy.
"baiklah ayah pulang saja takut menganggu kalian, ini sudah selesai kan," kata tuan Zein.
"terima kasih ayah, dan nanti jangan lupa ya datang," kata Vita.
"baiklah sayang," jawab tuan Zein.
Jimmy pun mencebikkan bibirnya mendengar panggilan sang mertua.
__ADS_1
"ayah suamiku marah karena ayah memanggilku sayang," kata Vita melaporkan Jimmy.
"maaf ya Jimmy, sekarang ayah akan mulai memanjakan putrinya, jadi kamu siap-siap saja tersaingi," kata tuan Zein memanasi Putranya itu.
"hei.. apa, ayah jangan membuat aku marah ya, bagaimana pun dia ini tetap milikku dan tak boleh di miliki siapapun," kata Jimmy memeluk Vita seperti anak kecil yang posesif.
tuan Zein hanya tersenyum dan pergi, dia jadi ingat dulu saat Sonya hamil putri mereka Vita.
dia juga seperti itu, bahkan dulu saat mereka masih membangun usaha bersama.
mereka bahkan sempat makan sepiring berdua demi bisa makan untuk besok dan membeli sesuatu.
Sonya tak pernah mengeluh sedikitpun, bahkan wanita itu terus tersenyum di depan tuan Zein.
wanita itu sangat pengertian, bahkan saat tuan Zein menjual tanah warisan mertuanya demi untuk membayar gaji karyawan.
Sonya juga sangat mengiyakan tanpa syarat, bahkan tuan Zein begitu menyayangi istrinya itu.
tapi dia tergoda oleh Sekar yang notabene adalah sahabat dari Sonya, saat semua usaha yang dia rintis dari nol mulai sukses.
sekar melemparkan dirinya sendiri ke ranjang untuk menggoda tuan Zein, dan bodohnya pria itu tergoda, karena Sonya belum bisa melakukan kewajibannya sebagai istri karena baru saja melahirkan.
"Tuan sedang melamun?" tanya Riana yang mengejutkan Zein.
"ah... tidak maaf aku sedang tak konsen saja," jawab tuan Zein yang terkejut.
"owh begitu, apa anda ingin di buatkan sesuatu?" tanya Riana.
"tolong buatkan saya jus sayur ya, ingat jangan ada ampas ya, saya tak suka," kata tuan Zein.
"baik tuan saya mengerti," kata Riana.
tuan Zein pun memutuskan mandi karena tubuhnya begitu lengket dan sedikit pusing karena habis bertemu dengan Sekar yang menggila tadi.
dia menikmati acara mandinya, terdengar suara ketukan pintu dari luar, "tuan boleh saya masuk?"
__ADS_1
"masuk saja, dan taruh di meja, dan tolong buatkan roti bakar tanpa selai ya," kata tuan Zein yang keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Riana yang sempat melihat tubuh pria itu sedikit panas dingin, pasalnya tubuh pria itu tetap terjaga dengan baik meski sudah berusia lebih dari setengah abad.