
Jimmy pulang ke rumah dengan sedih,bahkan dia nampak tak bersemangat sedikitpun.
Bu Kim heran melihatnya, pasalnya Jimmy pulang seorang diri, sedang Vita tak nampak batang hidungnya.
Jimmy langsung naik ke lantai atas dan memilih untuk mandi dan kemudian tidur.
dia tak bisa berpikir sedikitpun saat ini, sedang Bu Kim merasa heran saja sampai saat ini.
sedang di restoran tuan Zein melihat Vita yang sedang duduk sedih, "kamu dengar sendiri bukan, dan masih marah dengan Jimmy,"
"sepertinya aku memang sangat keterlaluan ya, ayah .... boleh tolong ajak aku pulang," mohon Vita.
"tentu nyonya, apapun untuk mu nyonya Jimmy," jawab tuan Zein tersenyum.
mereka pun berangkat menuju rumah, dan saat berada di jalan, Vita beberapa kali meminta ayahnya itu untuk berhenti.
akhirnya mereka pun sampai, Bu Kim sudah menunggu kedatangan Vita dan tuan Zein.
"nyonya," sapa bu kim.
"iya Bu, tolong bawa semua belanjaan ku dan tolong panaskan, karena aku ingin menemui suamiku terlebih dahulu," kata Vita yang langsung naik ke lantai atas.
dia sampai di kamar utama, saat dia masuk, Jimmy sedang tiduran di sofa kamar sambil memejamkan mata.
Vita masuk dan kemudian duduk di ranjang sambil memegangi perutnya, terlebih dia merasa begitu lelah dengan segalanya.
"ya Tuhan... kenapa aku tak bisa duduk dengan nyaman," gumam Vita.
Jimmy terbangun mendengar suara lirih dari istrinya itu, ternyata Vita sedang berjalan ke kamar mandi.
Jimmy kemudian kembali memejamkan matanya, sedang Vita yang baru keluar dari kamar mandi kesal sendiri melihat Jimmy yang tak berkutik.
dia pun memutuskan turun dan saat menutup pintu dia membantingnya cukup keras.
Jimmy tebangun karena kaget mendengar suara keras itu. dia pun buru-buru keluar.
ternyata lift sedang turun ke lantai satu, dia pun berlari mengunakan tangga dengan segera.
ternyata dia melihat Vita yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sendirian.
"sayang kamu pulang," kata Jimmy yang senang dan langsung memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"lepas ih ... mas bikin kesal saja, lepaskan, bukankah Anda tak peduli dengan ku tadi, lepas ih..." marah Vita.
"bukan begitu, aku kira tadi itu mimpi, jadi aku tak mengiranya itu sungguhan, sayang jika itu beneran kamu aku sangat senang." jawab Jimmy.
Vita pun mencebikkan bibirnya kesal, sedang Jimmy tersenyum cerah ceria.
"maafkan aku ya sayang, bukan aku tak ingin menghapus video tadi, kemarin saat ingin menghapusnya, aku mendadak ada rapat jadi lupa tak menghapusnya," kata Jimmy.
"iya aku juga minta maaf karena telah bersikap kekanak-kanakan seperti itu, terlebih aku sudah menghilang tanpa pesan tadi," kata Vita memeluk Jimmy.
"tidak apa-apa sayang, kamu gak salah karena seharusnya aku yang memang menyingkirkan semu kenangan lama itu, karena aku sudah bahagia dengan istri tercantik ku ini," jawab Jimmy mengecup pipi Vita.
keduanya pun berbaikan, tak hanya itu mereka bahkan berpelukan dengan erat.
sedang di tempat lain tuan Zein pun merasa senang bisa melihat keduanya berbaikan.
tuan Zein pun kembali ke rumahnya, ternyata Rio sudah berlari dan memeluknya.
"jagoan ayah, kamu sedang apa nak?" tanya tuan Zein.
"sedang main sama nunggu ayah pulang, karena ibu dari tadi sibuk di dapur, entah sedang buat apa?"
"bukan begitu mas, aku sedang membuat kue, habis Rio yang tak mau bantu ibu, kenapa sekarang bilang lain lagi sama ayah," kata Riana pada putranya itu yang sedang tersenyum sambil bersembunyi di balik tubuh tuan Zein.
"benarkah?" tanya tuan Zein melihat bocah itu.
"Rio gak bisa buat kue, Rio bisanya menghabiskan kue," jawab bocah itu dengan manja.
"kalau begitu, sekarang Rio antar kue ini ke tempat kakak Vita bisa kan?"
"baik ibu," jawab Rio dengan semangat empat lima.
bocah itu mengambil nampan berisi kue, dan segera menuju ke rumah utama.
dia pun berjalan dengan pelan-pelan agar tak jatuh, terlebih ada kue di tangannya.
saat sampai di rumah utama, Rio melihat Vita sedang duduk bersama Jimmy menonton tv lebar.
"wow .... layar tancap ya kak," kata Rio yang berdiri belakang kursi sofa.
"Rio, bukan sayang, itu tv kok, Rio bawa apa kesini?" tanya Vita yang melihat bocah itu membawa sesuatu di tangannya.
__ADS_1
"ini ada kue dari ibu, semoga kak Vita suka," kata Rio dengan senang.
"terima kasih Rio,"kata Vita menerimanya.
setelah Rio mengangguk dan langsung lari ke paviliun, Vita tau karena bocah itu selalu senang saat bersama tuan Zein.
pasti Rio ingin di temani main oleh pria itu, jadi dia tak mau menyia-nyiakan waktu bersama ayahnya itu.
Vita meminta Bu Kim menyimpan kue itu, dan melanjutkan untuk nonton bersama dengan Jimmy.
sedang tuan Zein dan Rio sedang bersama-sama akan berenang, bahkan Riana juga memiliki baju renang yang cukup tertutup.
akhirnya ketiganya berenang, Riana juga sudah menyiapkan air dingin dan kue di samping kolam.
Bu Elva dan tuan Syam sedang pulang ke rumah mereka karena Jefry yang sedikit lepas kendali jadi mereka harus mengikat pria itu dulu.
Rio memakai pelampung karena belum bisa berenang, tuan Zein mengajari Putranya itu dengan senang hati.
Rio pun cepat belajar dengan bimbingan dari tuan Zein, dia sekarang sedikit demi sedikit bisa berenang meski masih memakai bantuan.
Riana pun berenang tapi tak terduga malah menabrak tubuh tuan Zein yang sedang berdiri di samping kolam renang.
"hei nyonya apa yang kamu raba," kata tuan Zein yang merasakan sentuhan tangan Wanita itu.
Riana pun berdiri dan pas di depan tun Zein, bahkan tangannya juga belum di pindahkan dari sana.
"jangan memprovokasi diriku Riana, atau aku tak akan bisa menahannya lagi, meski aku tua, tapi aku masih bisa jika membuat mu mati lemas," bisik tuan Zein menaruh kepalanya di bahu Riana.
mendengar itu tubuh Riana pun rasanya seperti tersengat aliran listrik, dan jantungnya berdegup kencang.
dia merasakan malu dan sedih, "maafkan saya tuan, tapi anda harus mengetahui sesuatu sebelum benar-benar bisa menyentuhku, dan nanti malam aku akan menunjukkannya pada anda," jawab Riana.
tuan Zein pun penasaran, tapi dia harus sabar karena dia tak boleh membuat wanita itu takut atau bahkan lari darinya.
sore sudah hampir berubah malam, mereka pun berhenti untuk berenang dan bersiap untuk mandi.
selama tuan Zein membersihkan tubuhnya, otaknya bekerja kera untuk mengartikan ucapan dari Riana.
pasalnya selama beberapa hari menikah, mereka memang belum melihat tubuh masing-masing, jdi apa yang di maksud istrinya itu.
"apa jangan-jangan Riana pun tanda lahir besar hitam di tubuhnya, ih... itu pasti bikin ilfill, atau bahkan penyakit kulit," gumam tuan Zein yang sudah meremang membayangkan hal itu.
__ADS_1