The Housemaid

The Housemaid
JN_heboh semua


__ADS_3

Vita masih kesal, sedang Jimmy pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, terlebih tadi Yulia melakukan itu toh tidak sadar.


"sudah sayang jangan marah," bujuk Jimmy yang menunda segalanya demi istrinya itu.


"itulah kenapa aku ingin kita tinggal seperti dulu, setidaknya tidak akan ada wanita yang bertindak seperti tadi," kata Vita.


"tapi sayang, kamu yakin bisa merawat kedua anak kita sendiri, aku tau kamu sudah bekerja di balik layar, tapi aku takut kamu kelelahan," bujuk Jimmy.


"sudahlah papa pergi saja, aku sedang ingin sendiri, aku tau mau bicara dengan siapapun," kata Vita.


Jimmy pun menghela nafas panjang, sebenarnya dia juga kurang nyaman dengan begitu banyak pembantu wanita, tapi ini semua demi istrinya.


"baiklah aku berangkat kerja dulu, nanti siang kekantor antar makan ya," kata Jimmy yang melihat Vita naik ke atas.


"baiklah," jawab Vita.


Jimmy pun bergegas pergi, dan baru bisa melihat ponselnya ternyata sudah banyak pesan dari Ferdi.


sedang di rumah Benny, pria itu pun nampak seperti biasa, tapi tidak dengan Dwi yang nampak sedih.


"ada apa sayang? kenapa kamu terlihat begitu sedih seperti itu? apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Benny.


"tentu tidak mas, aku hanya merasa jika aku belum jadi istri yang baik, terlebih aku belum tau kehidupan nyonya itu seperti apa?" jawab Dwi.


Benny bisa memaklumi itu karena istrinya itu memang gadis kampung yang bekerja jadi pelayan.


tapi dalam semalam semuanya berubah dan sekarang Dwi menjelma jadi seorang nyonya besar.


"bagaimana jika kamu berkunjung ke rumah Vira, ah disana kamu bisa saling cerita-cerita," usul Benny.


"ah benar, baiklah suamiku sayang, tapi bolehkah aku belanja untuk oleh-oleh buat kak Vita," kata Dwi meminta izin


"sayang, kenapa kamu harus minta izin sih, semua uang ku milik mu, dan maaf atas semua sikap buruk ku padamu," kata Benny.


"baiklah, tapi tolong jangan lakukan itu lagi, sebenarnya aku tau semuanya, aku merasa buruk karena bersyukur karena kematian kak Yuniar, tapi perempuan itu sudah keterlaluan karena bisa hampir merebut mu dariku," kata Dwi dengan sedih.


"maafkan aku ya sayang, aku tergoda oleh wanita itu, aku memang kurang bersyukur saat sudah memiliki mu," kata Benny.


"iya mas, sudah sekarang kita lanjutkan saja kehidupan kita," kata Dwi tersenyum.

__ADS_1


Benny pun selesai sarapan dan bersiap pergi ke kantor, setelah Benny pergi.


Henry mendekati Dwi,"tolong jangan mendekat, aku tak menyukaimu seperti ini," kata Dwi ketakutan.


"tapi kenapa nyonya, bukankah Anda sudah nyaman bersama ku, terlebih aku paling bisa di andalkan bukan,bahkan beberapa hari ini anda terus curhat dengan ku," kata pria itu.


"tidak, aku tak ingin melihat mu lagi, pergi!!" teriak Dwi marah.


dia pun langsung menuju ke lantai atas, dua takut melihat kepala pelayan Henry yang tak menghormati dirinya.


bahkan beberapa kali Dwi takut karena pria itu berusaha menciumnya.


Dwi langsung berganti baju dan mengambil semua kartu dan uangnya.


"nyonya anda ingin kemana?" tanya seorang pelayan.


"aku ingin pergi ke rumah teman ku, tadi suamiku juga sudah mengizinkan," kata Dwi.


"biar saya temani nyonya," kata kepala pelayan Henry.


"tidak perlu, aku tak butuh, aku akan di antar supir, sudah aku pergi dulu," kata Dwi yang bergegas pergi.


dia tau jika memiliki perasaan pada nyonya rumah adalah salah, tapi bukan dia yang membuat perasaan itu tumbuh.


melainkan sikap dingin Benny saat mengetahui istrinya hamil dan memilih wanita lain untuk bersenang-senang.


semua pelayan di rumah tak ada yang berani bilang apapun atau mengatakan apapun, terlebih semuanya selalu atas perintah kepala pelayan.


supir pun merasa heran melihat Dwi yang begitu sedih, bahkan wanita itu menangis sampai sesenggukan.


"nyonya, bukankah lebih baik kita pulang, sepertinya kondisi nyonya tak baik?" tanya pak Giman sebagai supir.


"tidak pak, jika anda melakukan itu, aku akan melompat keluar dan membuatku mati di sini," jawab Dwi frustasi.


"maafkan saya nyonya," kata pak Giman takut.


mobil pun memasuki area rumah dari keluarga Vita, terlihat semua pelayan berada di taman.


"ada apa ya?" tanya Bu Kim melihat Dwi.

__ADS_1


"bisakah aku bertemu dengan kak Vita, aku mohon...."


"masuk Dwi," kata Vita yang berdiri di balkon


Dwi pun perlahan masuk kedalam rumah, Vita turun dari lantai dua.


Vita langsung menyambut Dwi ke pelukannya, "ada apa dek, kenapa kamu terlihat begitu sedih?" tanya Vita.


"aku lelah kak, aku tak ingin terus seperti ini, karena dia terus membuatku merasa tak nyaman," kata Dwi yang sesenggukan.


"siapa orangnya dek? apa Benny melakukan sesuatu padaku yang menyakitimu lagi?"


"tidak kak, tapi kepala pelayan di rumah kami, dia adalah putra dari kepala pelayan yang lama, tapi sikapnya terus kurang ajar padaku, dia beberapa kali ingin menyentuhku, hanya karena aku pernah menangis dan curhat di depannya, hingga dia merasa aku bisa di perlakukan seperti ini," kata Dwi.


Vita pun langsung merasa marah,"sudah kami tenang dulu, sebaiknya kamu tetap di sini saja, sebentar lagi Farah dan Rika juga akan datang," kata Vita.


"benarkah, aku sebenarnya ingin melihat cara kalian berteman, karena aku ingin terlihat pantas saat menghadiri pesta bersama suamiku nantinya," kata Dwi jujur


"baiklah, pertama-tama kaku harus mengerti dasar fashion dan juga tentang pesta yang formal maupun bukan," kata Vita yang mengambil iPad miliknya.


tak butuh waktu lama, Vita memberikan sebuah pelajaran penting, bahkan dalam bersikap.


Dwi pun memperbaiki postur tubuhnya, Vita tersenyum melihat tingkah Dwi.


terlebih wanita itu sedang hamil enam bulan, jadi perut pun sudah mulai nampak.


Farah datang bersamaan dengan Rika, mereka pun tak mengira Dwi juga sudah datang, "loh ku kira Dwi tak bisa datang?"


"apa kalian mengajak ku juga?" tanya Dwi heran.


"tentu, tadi aku mengubungi rumah mu, dan kepala pelayan mu yang menjawab, dan bilang jika kondisi mu kurang baik,jadi jamu tak akan datang," jawab Rika


"apa? dia tak pernah mengatakan apapun tentang undangan itu, bahkan aku selalu di rumah dan sering merasa bosan," kata Dwi sedih.


"berarti pria itu bermasalah Dwi, dan sebaiknya Benny harus tau agar kedepannya kamu tak terus seperti ini, karena takutnya saat ada undangan penting kamu tak bisa datang," kata Vita


"tapi bagaimana caranya aku bilang,karena pria itu selalu pintar menguasai suasana rumah," kata Dwi.


"kenapa tidak menjebaknya kak, kamu pintar dalam membuat rencana," kata Farah tersenyum melihat Vita.

__ADS_1


__ADS_2