Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 10


__ADS_3

Aciel pulang keapartemennya setelah pekerjaannya yang ada dikantor sudah selesai. Aciel melangkah masuk kedalam apartement mulai berantakan karena tidak dibereskan, karena biasanya Aeleasha yang membersihkan ruangan ini.


"Aelea ,Aku pulang." Panggil Aciel dan tidak ada sahutan sama sekali.


"Aelea Aku sudah pulang, apa kamu tidak mau menyambutku?" Aciel menatap lurus dan tetap tidak ada siapapun yang menyaut ataupun mendatanginya.


"Aelea." Teriak Aciel dan hanya kesunyian yang ada disana. Aciel duduk disofa ruang tamu dia berharap gadis itu muncul dihadapannya sekarang.


Ceklek


Pintu apartemen dibuka, wajah Aciel tampak senang tapi kembali murung setelah yang dia lihat adalah Bi Rami yang membuka pintu apartement. Bi Rami terkejut dengan ruangan yang berantakan dan penampilan tuannya yang kacau.


"Apa yang terjadi selama aku pergi?" Tanya Bi Rami dalam hatinya. Bi Rami makin terkejut dengan tuannya yang tengah menitikkan air mata.


"Itu Tuan Aciel-kan?" Pikir Bi Rami, dia tidak paham apa yang terjadi, kemana Aeleasha yang biasanya berdiri disamping Aciel.


"Aelea.." Gumam Aciel dengan pelan.

__ADS_1


Penyesalan selalu datang diakhir, dan cinta yang tidak diharapkan selalu hadir, tapi Aciel baru mengetahui perasaan aneh itu setelah penyesalannya datang, apa gunanya itu sekarang?


Di Inggris


(Sedikit pemberitau, seharusnya dialog disini menggunakan bahasa inggris tapi karena nanti takut kalian sedikit kesulitan karena harus membuat terjemahannya jadi aku putuskan pakai bahasa indonesia saja. *gak pandai bahasa inggris*)


Aeleasha berjalan keluar dari asramanya, mau berkeliling. Dirinya sudah satu hari didalam asrama, tidak keluar-keluar karena masih asing disana. Entah angin apa yang membawa Aeleasha mau keluar dari asramanya yang terbilang sangat nyaman itu.


Baru beberapa menit Aeleasha berjalan kepalanya mulai pusing lagi, mata Aeleasha mulai memburam tidak bisa melihat dengan jelas sehingga dia tidak sengaja menabrak seorang pria yang tengah membawa dokumen.


Bruk


"Kalau jalan it.." Pria itu tidak melanjutkan ucapannya karena Aeleasha mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang berbicara padanya. Pria itu terpesona karena wajah Aeleasha yang cantik dan juga imut, dia dikejutkan lagi dengan darah yang mengalir dihidung Aeleasha yang mancung.


"Hei kamu tidak apa-apa?" Tanya khawatir melihat kondisi Aeleasha, dia memegang pundak Aeleasha tapi seperti Aeleasha tidak mendengarkannya. Aeleasha sibuk dengan rasa sakitnya.


Aeleasha mendadak berdiri, membuat pria itu terkejut karena tindakan Aeleasha. Aeleasha berjalan sedikit sempoyongan, dia bahkan lupa untuk meminta maaf. Pria itu menatap Aeleasha iba, dia memungut kertasnya.

__ADS_1


Bruk


Pria itu mengalihkan tatapannya kearah suara, dia melihat Aeleasha yang sudah terjatuh pingsan. Pria itu segera berlari menghampirinya, dia menepuk pipi Aelasha tapi mata Aeleasha terpejam rapat.


Dia membaringkan Aeleasha lagi dan memanggil taksi yang baru saja lewat. Pria itu membawa Aeleasha kerumah sakit terdekat. Perawat dengan cepat mendorong tubuh Aeleasha yang terbaring keruangan UGD.


Pria itu terus mondar mandir didepan sana, pak supir taksi berdiri disana diam, dia ingin meminta tagihan tapi pria didepannya tampak sangat kacau. Pria itu menghela napas panjang matanya menangkap pak supir taksi tengah berdiri menundukkan kepalanya.


"Terima kasih pak ini uangnya maaf sudah membuat anda menunggu." Kata Pria tadi, dia memberikan beberapa lembar uang, dan tersenyum tampan.


Mendapatkan uangnya pak supir taksi segera pergi dari sana. Pria itu menatap punggung pak supir yang mulai menjauh, dia dikejutkan dengan tangan seseorang yang menepuk pundak.


"Maaf apa anda wali pasien? Apa anda bisa mendonorkan darah pada pasien karena pasien kekurangan darah dan darah yang perlu pasien gunakan setoknya sudah habis." Jelas dokter, sambil membetulkan kacamatanya.


"Tapi saya bukan keluarganya!. Apa golongan darahnya dokter?" Pria itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dia jadi bingung.


"Golongan darahnya O negatif." Jawab dokter, "Kenapa harus darah yang susah sekali mendapatkan pendonornya." Gumam dokter itu.

__ADS_1


Jantung pria itu mulai berdetak lebih cepat, "Darah O negatif? saya juga golongan darah O negatif." Jawabnya dengan senang, wajah dokter yang tadinya suram kembali ceria karena pasiennya bisa terselamatkan.


"Saya akan mendonorkan darah saya, untuknya dokter." Imbuhnya lagi, dokter menatapnya sebal. "Emang bukan kamu siapa lagi yang mendonorkan masa iya aku yang darah A ini?." Pikir Dokter itu kesal dengan jawabnya.


__ADS_2