
Aeleasha merapikan pakaiannya dan punya Aciel kedalam koper, Aciel yang sudah selesai menelepon kembali masuk kedalam kamar.
"Sini biar aku yang bereskan." Kata Aciel, memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Udah selesai kok." Jawab Aeleasha, Aciel tersenyum gemas mengelus kepala Aeleasha. Rambut Aeleasha yang sudah tertata rapi jadi berantakan, Aeleasha menggerutu kesal.
Cup
Aciel memberikan kecupan kecil di pipi Aeleasha, Aeleasha yang belum terbiasa memegang pipinya. Aciel mulai mengatakan kata-kata aneh yang membuat Aeleasha merinding mendengarnya.
"Aeleasaha tubuhmu sangat kecil sampai-sampai aku rasa aku bisa memasukkanmu kedalam saku baju." Gumam Aciel pelan, menaruh tangannya diwajahnya seperti memikirkan hal lain.
"Aciel." Panggil Aeleasha, Aciel yang melihat ketempat lain langsung mengalihkan wajahnya kearah Aeleasha.
"Aku rasa kita harus mengubah nama panggilan, bagaimana kalau panggilan sayang untukku dan panggilan istriku untukmu." Saran Aciel.
"Istriku apa kamu selesai." Panggil Aciel dengan mesra, senyuman menghiasi wajahnya.
Aeleasha merasa sangat geli dengan panggilan itu, dirinya yang tadi berjongkok langsung berdiri mau kabur bersembunyi dari pandangan Aciel.
"Wajahku pasti sudah sangat merah." Kata Aeleasha dalam hatinya.
__ADS_1
"Istriku?" Aciel memeringkan kepalanya, tangan langsung menangkap tangan Aeleasha menahannya kabur. Aeleasha yang malu menundukkan kepala.
"S-sayang aku rasa kita harus cek out sekarang." Cicit Aeleasha sangat pelan. Aciel tercengang sebentar, wajahnya menjadi sangat cerah.
"Coba katakan sekali lagi." Aciel mau mendengarnya dengan jelas kali ini.
"Gak mau." Aeleasha menggelengkan kepalanya, menarik koper dan bergegas keluar.
Aciel tertawa senang, dia bisa melihat kalau telinga Aeleasha memerah. Mengejar Aeleasha yang sudah keluar dari kamar hotel, Aciel merebut koper dari tangan Aeleasha dan mulai mengoda Aeleasha lagi.
"Coba panggil lagi, aku mau dengar." Kata Aciel sambil tersenyum lebar, Aeleasha menggeleng, berjalan lebih cepat dari Aciel.
"Istriku, tunggu aku." Aciel menarik koper dan bergegas mengejar Aeleasha yang mempercepat langkahnya.
"Sudah aku bilang kan tunggu dulu. Kita tidak perlu cek out, hotel itu milikku jadi tidak masalah kalau kita keluar jam berapa." Kata Aciel mencium punggung tangan Aeleasha, matanya tetap fokus pada jalanan.
Aeleasha yang masih melamun tidak mendengarkan perkataan Aciel sama sekali, Aeleasha bahkan tidak tau bagaimana cara dirinya bisa berada didapur membantu Momy nya membuatkan minuman.
Sedangkan itu...
"Apa kamu bakal membawa putriku ke Indonesia? Tidak.. Tidak.. Aku tidak setuju." Tolak Wili dengan keras, Joe yang duduk disamping Wili mengangguk setuju dengan pendapat Wili.
__ADS_1
"Kamu bisa mengurus masalah perusahaan sendiri di Indonesia dan biarkan Aeleasha disini bersama kami sampai masalah itu selesai." Tegas Joe.
Joe membiarkan Aciel membawa adiknya tapi kalau dirinya harus berpisah dengan adiknya Joe sama sekali tidak setuju, Aciel melipat tangannya, berpikir sangat keras.
"Aku tidak mau jauh sedetik pun dengan Aeleasha." Jerit Aciel dalam hatinya tidak suka.
"Apa yang kalian bicarakan?" Aeleasha menaruh nampan diatas meja dan duduk disamping Aciel, Melisa yang mendengar sedikit dan mulai menebak-nebak.
"Apa kalian membahas tentang dimana tempat tinggal Aelea?" Tebak Melisa, dan tebakannya sangat tepat membuat ketiga pria dewasa itu terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
"Memangnya kenapa de-?"
Drett
Perkataan Aeleasha terhenti karena ponselnya berdering sangat keras, membuat semua tatapan mata tertuju pada Aeleasha.
"Ini, Mama yang telepon, aku akan angkat dulu." Aeleasha bangkit dari tempat duduknya berjalan pergi, melihat Aeleasha yang sudah berjalan pergi Wili dan Joe langsung bernapas lega.
Ting..
Kini giliran ponsel Aciel yang berdering, Aciel mengeluarkan ponselnya dari saku celana nya dan memeriksa ponselnya, Aciel tersenyum tipis melihat pesan itu.
__ADS_1
"Momy kamu yang terbaik." Ucap Aciel dalam hatinya, senang.