Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 77


__ADS_3

Bea menatap Alfread penuh kebencian, seorang pria mendekati Bea untuk melepaskan kain yang menutup mulutnya, karena kurang hati-hati tangannya malah digigit oleh Bea sehingga dia menjerit kesakitan.


Alfread yang mendengarnya berdecak kesal, Bea melepaskan gigitannya setelah tangan itu mengeluarkan darah. Bea meludah karena bau amis darah bercampur dengan salivanya, matanya menatap Alfread dengan mata yang masih berlinang air mata.


“Kenapa kamu membunuh  Momy ku? Kenapa kamu muncul di depanku? Apa mau mu? Ha...? Kenapa ?” Teriak Bea dengan sangat keras sedangkan, Alfread menguap bosan. Berdiri dari kursinya berjalan dengan arogan ke arah Bea.


“Kamu ingin tau kenapa?” Tanya balik Alfread, Bea menggertakan giginya. Alfread langsung mencengkeram dagu Bea dengan kuat.


“Karena kamu mengganggu seseorang yang seharusnya tidak kamu ganggu atau pun sentuh sedikit pun.” Alfread langsung menghempaskannya ke samping, tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan hand sanitizer dan menyemprot tangannya dan sekelilingnya.


“Siapa? Aeleasha Alister ?” Bea mengucapnya dengan sinis, Alfread menatap Bea dia tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan ini.


“Kalau pun iya, apa itu sebanding? Ha?” Teriak Bea, Alfread mengerutkan keningnya. Telinganya terasa sangat sakit karena Bea terus berteriak dari tadi.


“Berhentilah berteriak, adik.” Kata Alfread dengan sinis. Bea seketika membeku mendengar Alfread memanggilnya adik.


Sekilas ingatannya tentang kakak yang selalu membawakannya coklat terlintas diingatkannya.


“Kak Ad?” Cicit Bea dengan sangat pelan, Alfread tertawa sinis mendengar nama yang paling dia sukai sekarang terdengar sangat menjijikkan.


“Yah.. Aku kakak kandungmu Ad. Tapi sayangnya aku bukan Ad yang dulu, anak kecil yang polos yang selalu mengutamakan ibu dan adiknya yang imut.” Alfread mengatakannya dengan sangat santai tangannya terangkat ke atas seolah kejadian itu tidak pernah terjadi.


“Kenapa kakak membunuh Momy?” Tanya Bea dengan air mata yang kembali menetes, Alfread yang membelakangi Bea membalikkan badannya, tangannya memegang tangan kursi yang diduduki Bea.


“Kamu tau kenapa?” Tanya Alfread memiringkan kepalanya.


“ Ibu mana yang tega melantarkan anaknya yang baru berumur 9 tahun ke jalanan yang penuh dengan preman dan bahkan adik kandungnya tidak menghentikan ibunya. Dia hanya berani memperhatikan kondisi Kakaknya dibalik tembok.” Jelas Alfread, kakinya melangkah mundur beberapa langkah, Bea membeku mendengar perkataan Alfread yang menusuk tepat dihatinya.


“Krisan Bereskan semuanya dan jangan lupa siapkan tempat yang layak untuknya, karena aku tidak mau tau lagi. Kamu saja yang urus.” Kata Alfread memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berjalan pergi ketempat yang penuh dengan kegelapan, kegelapan itu langsung menelanya tanpa meninggalkan apa-apa.


“Baik.” Jawab Krisan matanya terus memperhatikan Alfread yang sudah pergi, sebagai tangan kanannya Alfread Krisan harus melakukan semua pekerjaan yang di suruh.

__ADS_1


“Kakak apa maksudmu? Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendirian disini!.” Teriak Bea dengan suara serak karena dari tadi dia terus berteriak tanpa mendapatkan setetes air pun.


Krisan menatap Bea dengan tatapan iba, tapi dia tidak bisa mengabaikan perkataan Alfread. Krisan berjalan ketempat yang menumpuk banyak sekali kotak kayu dan mengeluarkan sebotol air mineral dari sana dan memberikannya pada Bea.


Bea yang tidak ragu ataupun curiga langsung merebut botol air, meneguk airnya sampai habis, tangannya mengusap bibirnya yang basah.


Dan baru sebentar cairan berwarna merah mengalir keluar dari mulut Bea. Bea melototkan matanya tidak percaya, matanya yang tajam langsung menuju kearah Krisan yang menatapnya dengan wajah datar.


“Beraninya kamu...” Bea mengacungkan jarinya menunjuk Krisan, tiba-tiba dadanya terasa sakit. Bea terus meremas dadanya secara perlahan-lahan kegelapan mulai mengambil ahli tubuhnya.


Pagi Harinya dirumah sakit tempat Aeleasha


Aeleasha yang membuka kelopak matanya dengan perlahan-lahan, dia bisa mendengar ada dua orang yang sedang melakukan percakapan dan dia kenal betul kedua suara itu siapa. Itu adalah Kakaknya Joe dengan Aciel yang entah sedang membahas apa.


“...pembunuhnya.” Aciel mengeram kesal, mengacak rambutnya frustrasi.


Aeleasha mencoba mendengarkan dengan saksama apa yang Joe dan Aciel bahas  tapi telinganya  hanya bisa menangkap ujung perkataan mereka.


“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Aeleasha bangun dari tempat tidur mencoba duduk bersandar. Joe yang melihat hal itu segera membantu Aeleasha duduk.


“Ya?.” Joe yang kurang menangkap apa yang Aciel katakan memiringkan kepalanya bingung, Aciel menghampiri Joe, tangannya tiba-tiba terangkat merangkul Joe.


“Akh!” Teriak Joe, dia menatap Aciel dengan mata terbuka lebar. Aciel hanya tersenyum seperti sebelumnya, Joe menyingkirkan tangan Aciel yang mencubit perutnya.


“Tunggu aja nanti bakal aku balas.” Teriak Joe dalam hati nya, mengeluarkan tatapan tajamnya.


“Oh, iya Aeleasha tadi dokter bilang kamu sudah boleh pulang hari ini, aku dan Joe akan ke tempat administrasi jadi kalau kamu mau beres-beres silakan.” Jelas Aciel, tangannya merangkul tangan Joe dan segera menariknya keluar dari sana sebelum Aeleasha memberikan jawabannya.


Joe menghempaskan tangan Aciel ketika mereka berjalan sudah jauh dari ruang kamar Aeleasha.


“Apa sih mau mu, ha? Tadi cubit orang sekarang malah tarik orang.” Keluh Joe, entah kenapa hari ini dia sangat kesal.

__ADS_1


Pertama Daddy yang mengacuhkannya dengan tidak mendengarkan perkataannya dan langsung pergi menuju bandara ketika ada telepon masuk, Sekarang berita kematian orang yang menyebabkan kecelakaan Aeleasha.


“Ya, aku takutnya kamu keceplosan aja.” Jawab Aciel dengan santai mengangkat kedua tangannya ke atas. Joe menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang sudah berantakan jadi tambah berantakan.


...****************...


Aeleasha berbaring di kasurnya yang empuk dan lembut dengan nyaman, “Benar kata pepatah yang ada di buku, rumah sendiri itu adalah tempat yang paling nyaman.” Kata Aeleasha dengan riang, mencoba meregangkan otot tubuhnya.


Tok tok


“Aelea, kamu baru pulang kok langsung masuk ke dalam kamar?” Tanya Joe yang berdiri didepan  pintu kamar Aeleasha.


Aeleasha membuka pintu kamarnya dengan rambut panjangnya yang terurai, “Apa sih kak? Aku tuh Cuma mau baring bentar dan nanti aku bakal turun sendiri kok.” Jawab Aeleasha sembari mengunci rambutnya tinggi-tinggi.


 “Ya, aku akan gak maksa. Aku Cuma...”


Ting tong


Perkataan Joe terpotong karena suara bel yang menandakan ada tamu yang datang, Joe dan Aeleasha saling melirik.


“Aku yang akan membukanya.” Joe bergegas turun ke lantai bawah, disusul Aeleasha dengan santai.


Aeleasha yang sudah berada dipantau bawah, mendadak bingung melihat Joe yang hanya berdiri didepan pintu tidak mempersilakan tamu masuk, dia mencoba mengurungkan kepalanya agar bisa melihat wajah si tamu tapi karena tinggi badannya yang kurang dan juga badan Joe yang besar menutupi seluruh pemandangannya.


“Siapa sih, kak?” Tanya Aeleasha dengan santai mencoba memberitahukan kalau dirinya ada disana juga.


“Gak ada siapa-siapa kok.” Jawab Joe dengan acuh tak acuh, matanya menatap orang yang ada di depannya dengan tatapan dingin.


Aeleasha jadi makin penasaran siapa sebenarnya orang yang ada didepan sampai-sampai Joe tidak membiarkan dia melihat wajah orang tersebut.


“Aelea, bisa kamu buat segelas teh manis untukku?” Joe mengalihkan pandangannya kearah Aeleasha yang berada di belakangnya, Aeleasha hanya menganggukkan  kepalanya tanda kalau dirinya setuju.

__ADS_1


Melihat Aeleasha yang sedang berjalan kedapur, Joe langsung berjalan keluar dan menutup pintu. Matanya tengah mengawasi orang yang sedang berdiri di depannya ini yang tidak lain adalah adik tiri Alfread Kernes.


“Apa yang membawa kamu kesini Ian Kendrick?” Tanya Joe dengan tatapan penuh selidik, tangannya yang terlipat sambil memperhatikan Ian seperti seorang inspektur yang menyelidiki pelaku.


__ADS_2