
Aeleasha tampak berpikir sejenak, dia melihat Aciel yang bermuka datar tapi dalam hatinnya Aciel sedang berbunga karena tindakan Joe setidaknya dia bisa bersama dengan Aeleasha.
"Tidak perlu, nanti malah merepotkan lebih ba-" Perkataan Aeleasha terpotong begitu saja karena Aciel langsung membantah apa yang dikatakan Alea.
"Itu tidak akan merepotkan, Aeleasha lagian aku juga mau keluar membeli sesuatu." Jawab Aciel mengosok leher belakangnya, matanya melirik Joe yang bersandar pada sofa sambil mengangkat jempolnya.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Aeleasha, entah kenapa dia merasa sangat canggung, Aeleasha berjalan duluan meninggalkan Aciel yang mengambil kunci mobilnya.
Didalam Mobil
Suasana sangat sunyi semenjak mobil dijalankan, salah satu dari mereka tidak ada yang berbicara. Aciel fokus menyetir dengan wajah dinginnya dan Aeleasha sibuk membaca dokumennya melalui tab yang diberikan Joe.
"Apa pekerjaan kantor itu sulit?" Tanya Aciel sekedar basa-basi dengan Aeleasha, dia hanya ingin perhatian Aeleasha sedikit tertuju padanya.
"Ya?" Aeleasha mengedipkan matanya beberapa kali, dia tidak terlalu mendengarkan apa yang dikataan Aciel karena matanya terlalu fokus pada dokumennya.
__ADS_1
"Aku hanya bertanya, apa pekerjaan kantor itu sulit?" Ulang Aciel, sebuah senyuman tipis mengulas wajahnya, tidak ada yang bisa melihatnya karena senyuman itu sangat tipis.
"Ah... sebenarnya itu sedikit sulit sih, Tapi untuk beberapa hari ini tidak terlalu." Jawab Aeleasha mengangkat wajahnya menatap lurus kejalanan.
Kesunyian langsung melanda lagi karena mereka berdua langsung terdiam karena tidak ada yang dipertanyaakan dan perlu dijawab. Entah kenapa Aeleasha merasa sedikit canggung bercampur dengan gugup padahal biasanya dia tidak begini.
Mobil putih milik Aciel berhenti digerbang masuk perusahaan, Aeleasha yang merasakan mobil Aciel berhenti segera mengangkat kepalanya yang tertunduk.
"Terima kasih, Kak. Maaf sudah merepotkan." Ucap Aeleasha, keluar dari mobil Aciel. Aeleasha memperhatikan wajah Aciel dari jendela mobil.
"Sampai jumpa lagi nanti." Gumam Aeleasha sambil melambaikan tangannya, Aeleasha mengelengkan kepalanya beberapa kali dan menurunkan tangannya yang melambai.
"Sampai Jumpa lagi? Itu salamkan?" Tanya Aeleasha dalam hatinya, otaknya mencoba mencerna perkataan Aciel. Tapi dirinya malah dikejutkan karena tepukkan pada bahu kanannya.
Bola Mata Aeleasha bergetar, melihat Pria yang ada didepannya. Pria itu tersenyum hangat pada Aeleasha, walaupun wajahnya sudah berkeriput tidak mengurangi ketampannya.
__ADS_1
Aeleasha sangat mengenal orang ini, dia ingin sekali menangis tapi dia sekarang ada didepan umum dan itu bisa membuat keributan dan membuat masalah pada orang yang ada didepannya ini.
"Bagaimana kabarmu, Aeleasha?" Sapa orang itu, senyuman hangat itu tidak berkurang sedikit pun dari wajahnya.
Aeleasha ingin sekali menjawab sapaannya tapi lidahnya terasa keluh, mulutnya tidak mau terbuka dan menjawab sapaannya. Pria itu tersentum masam karena perubahan ekspresi Aeleasha.
"Bagaimana kalau kita bicara, dikafe itu." Kata Pria itu jarinya menunjuk kafe yang berada diseberang jalanan, Aeleasha menganggukkan kepalanya dengan cepat. Aeleasha dan Pria itu berjalan bersamaan menuju kafe yang ada disana.
Kring
Pintu yang didorong membunyikan bel, suara bel yang menandakan adanya pelanggan yang datang mengunjungi kafe tersebut, Aeleasha memilih tempat yang sedikit pojokkan.
Mereka berdua duduk saling berhadapan, tidak ada yang memulai pembicaraan sampai datangnya pelayan yang melayani apa yang mereka pesan. Aeleasha memesan dua gelas kopi, yang satunya ditambah gula dan satunya lagi tidak. Selesai dengan pesanan pelayan itu pun pergi memberikan catatannya.
"Papa Jiko, Bagaimana kabarmu?" Tanya Aeleasha, meremas tangannya. Pria yang ada didepan Aeleasha ini adalah Dady Angkat Aeleasha, Jiko Alister.
__ADS_1