
7 tahun kemudian
"Senior Aelea, aku menyukaimu." Seorang Pria tampan menyodongkan bunga mawar pada Aeleasha. Aeleasha tersenyum manis, sudah 7 tahun dirinya berada diinggris.
Aeleasha sudah lulus kuliah bahkan magangnya sebagai dokter pun sudah selesai. Kini dia resmi adalah seorang dokter. Dokter termuda dan cantik yang bekerja dirumah sakit Hospitaly
"Maaf tapi saya sudah punya suami." Aeleasha menolak sehalus-halus mungkin agar pria tampan yang ada didepanya tidak tersinggung.
"Tapi..."
"Dokter Aelea, Dokter David ingin bertemu dengan anda diruangannya." Seorang suster menghampiri Aeleasha. Aeleasha bernafas lega, dia tidak perlu menjawab pertanyaan yang tidak perlu.
Aeleasha tersenyum lalu melangkah pergi menuju ruangan dokter David. Pria tadi menatap suster yang memanggil Aeleasha dengan tatapan tajam. Suster itu hanya bisa pura-pura tidak tau, dia melewati Pria yang hatinya tengah hancur saat ini.
Tok.. tok..
"Masuk Dokter Aelea." Aeleasha membuka pintu dan masuk kedalam ruangan David, Aeleasha tersenyum hangat pada Dokter yang sudah berumur lanjut itu. Dia adalah pembimbing Aeleasha saat Aeleasha mulai melakukan magangnya sebagai dokter
__ADS_1
"Dokter David ada apa anda memanggil saya?" Tanya Aeleasha, berdiri didepan meja David.
"Dokter Aelea termuda, cantik, banyak yang suka, dokter berbakat.."
"Sudah mentor, aku tau kamu mau aku melakukan sesuatu jadi langsung keintinya saja." Aeleasha memotong perkataan David, memasang wajah serius. Dia sangat tau kalau jika David memujinya maka pasti harus ada sesuatu yang akan terjadi pada Aeleasha.
Aeleasha tidak mengerti kenapa mentornya ini malah memanggil dia Aelea padahal namanya itu Aeleasha. Saat dia mulai magang hingga resmi menjadi dokter nama Aeleasha berubah menjadi Dokter Aelea.
"Kamu yang paling mengerti aku, Aelea kamu dipindahkan kecabang rumah sakit yang ada di Indonesia." Lirih David, dia tidak bisa membiarkan murid berbakatnya pindah dari tempatnya.
Aeleasha menepuk meja membuat David mengelonjak kaget. David mengangkat wajahnya perlahan-lahan, rawut wajah Aeleasha tampak sangat senang. David sedikit kebingungan melihat ekspresi Aeleasha.
"Benar... kamu lebih sayang kakakmu dari pada mentormu ini." Gumam David, sekarang giliran dirinya yang penuh dengan aura hitam masam.
Aeleasha terkekeh kecil, dia mengucapkan salam lalu keluar dari ruangan David dengan wajah ceria, semua orang menatap Aeleasha cemas karena biasanya jika Aeleasha keluar dari ruangan David akan seperti menusia kurus kering seperti kekurangan nutrisi.
Salah satu perawat mencoba mendekati Aeleasha, "Dokter Aelea anda terlihat bahagia sekali?" Tanya suster itu, berjalan berdampingan disamping Aeleasha.
__ADS_1
"Aku akan keluar dari rumah sakit ini." Pekik Aeleasha senang, tangannya memegang pundak suster itu, "Jadi jaga diri kalian baik-baik yah.." Imbuh Aeleasha berlari kecil menuju ruangannya dan tidak lupa dia melambaikan tangannya.
Suster itu bengong sebentar, lalu dirinya tiba-tiba panik. Berlari kesana-kesini memberitaukan kalau Aeleasha dipecat dari rumah sakit, "Kabar buruk Dokter Aelea dipecat sama Dokter David." Teriak suster itu diruangan istirahat sehingga menimbulkan kegaduhan dimana-mana.
"Bagaimana ini aku masih belum menyatakan cintaku." Kata dokter junior yang baru masuk dua minggu.
"Itu tidak penting, kita belum mengucapkan salam perpisahan." Teriak suster tadi, dia mengoyangkan bahu dokter junior yang tadi.
Suasana rumah sakit tampak seperti mayat hidup sekarang, pasien yang sakit malah bingung dengan dokter yang merawatnya selalu bergumam aneh bahkan ada suster yang salah mendorong pasien.
Aeleasha berdiri didepan rumah sakit, dia tersenyum senang. Dia mengosok matanya, saat ada debu berkeluaran dari pintu masuk rumah sakit. Aeleasha membelakkan matanya terkejut, dokter junior, senior, dan suster berlari keluar dari rumah sakit mengerumuni Aeleasha.
"Dokter Aelea anda tidak boleh pergi." Kata salah satu mereka sebagai perwakilan. Aeleasha memiringkan kepalanya bingung, dia tidak tau apa yang membuat mereka semua berhamburan keluar dari rumah sakit.
"Dokter Aelea kami tidak akan membiarkan kamu dipecat, sekarang juga kami akan melakukan demo diruangan dokter David." Imbuhnya lagi, tatapan mereka menyalah seperti api. David yang ada diruangannya mendadak merinding, punggunya sangatlah dingin. Dia melirik ruanganya kanan kiri dan mengosok tengkuraknya yang dingin.
"Tunggu kata siapa aku dipecat?" Tanya Aeleasha, kini dia paham apa yang menyebabkan mereka bergelombolan berlari keluar.
__ADS_1
"Hah... Astaga, Aku cuma dipindahkan kecabang rumah sakit yang lain." Imbuh Aeleasha, taksi yang dipesannya sudah tiba. Aeleasha tersenyum manis berjalan memasukkan barangnya kedalam mobil.
"Aku pergi dulu." Aeleasha masuk kedalam mobil, dia melambaikan tangannya dan mobil berjalan meninggalkan rumah sakit. Mereka bernapas lega, lalu bubar kembali ketempatnya masing-masing.