
Joe yang melihat senyuman Aciel menyipitkan matanya curiga dengan senyuman Aciel, Joe yang hendak membuka mulutnya kembali tertutup rapat begitu Aeleasha kembali dan duduk lagi disamping Aciel.
"Apa yang dikatakan ibu mertuamu Aelea?" Tanya Melisa penasaran, karena Aeleasha datang dengan rona merah diwajahnya.
"Momy memberikan tiket bulan madu ke Bali sebagai hadiah pernikahan kami." Ungkap Aciel merangkul Aeleasha mesra.
Will dan Joe menangis kecewa tetapi wajah mereka sangat datar seolah-olah tidak terjadi apa pun.
"Ah.. Iya Momy lupa." Melisa berjalan ke kamar tidurnya dan keluar membawa sebuah kotak warna merah ditangannya.
"Ini untuk Aciel dan Aeleasha dari Momy dan Daddy." Melisa menyerahkan kotak itu pada Aeleasha.
"Apa ini Mom?" Aeleasha penasaran sekali dengan isinya, menahan diri untuk tidak membukanya lebih dulu.
"Itu tiket ke pulau Hawai." Wili berdehem, mengalihkan tatapannya ketempat lain.
"Wah.. Sekarang impian adikku untuk pergi ke Hawai terkabulkan dengan sangat baik yah." Goda Joe, "Ah.. Aku sangat iri." Tambah Joe memasang wajah sedih.
"Salahkan dirimu sendiri yang belum menikah." Cibir Wili, Joe yang tertusuk terdiam seribu kata, tidak tau mau menjawab apa.
Mereka semua menertawakan Joe yang terdiam, Joe menghela napas berat. Fakta yang sangat menyakitkan jika diingat.
...****************...
__ADS_1
"Aelea." Panggil Joe tangannya melambai memberikan kode pada Aeleasha untuk mendekati dirinya.
Aeleasha terkikik lucu melihat Joe, padahal tidak ada siapa pun di taman tapi Joe malah bertingkah aneh.
"Aku akan membawamu ke sebuah tempat rahasia." Joe menarik tangan Aeleasha untuk mengikutinya keluar.
Mereka berdua berjalan menaiki tangga dan berbelok ke ke arah kamar Joe, disebelah kiri kamar Joe ada sebuah lorong yang menuju teras yang tepat menghadap ke terbitnya matahari dan disana juga ada dua buah kamar kosong yang saling berhadapan.
Salah satu kamar itu selalu terkunci dengan rapat, tidak ada hari dimana kamar itu tidak dikunci. Saat ini Joe malah membawa Aeleasha berdiri didepan kamar itu, Joe merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci kamar itu dan membukanya.
Joe menarik Aeleasha masuk kedalam kamar itu, kamar yang gelap gulita. Aeleasha tidak bisa melihat apa pun yang ada didalam ruangan, melihat ke kiri dan ke kanannya.
Joe menarik gorden yang ada dikamar itu, cahaya matahari langsung menyinari kamar gelap itu, sekarang Aeleasha bisa melihat dengan jelas apa yang ada didalam kamar itu.
"Kenapa ada dua kasur disini?" Gumam Aeleasha memperhatikan kasur itu, Aeleasha melirik ke kiri. Sebuah bingkai foto yang besar mengantung disana, ada dua remaja yang memakai seragam SMP tersenyum lebar.
Tangan Aeleasha terangkat menyentuh foto itu, tatapan Aeleasha beralih melihat sekelilingnya. Ruang kamar ini di penuh dengan berbagai macam sertifikat penghargaan.
"Aelea, disini." Joe yang duduk di kasur, menepuk kasur, meminta Aeleasha untuk duduk disampingnya.
"Kamu tau, aku tidak suka berbagi rahasia. Tapi kamu harus mengetahui ini." Joe menundukkan kepalanya bingung bagaimana harus menceritakannya.
"Haa... Baiklah. Aeleasha sebenarnya kamu memiliki dua kakak laki-laki, bernama Theo." Joe memberikan buka album yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
Aeleasha membuka buku album itu dan memperhatikan setiap foto yang ada disana, foto dari bayi hingga remaja. Aeleasha membalikan halamannya tapi tidak ada foto lagi, Aeleasha mengangkat kepalanya melihat Joe.
"Yah... Theo meninggal dunia sebelum dirinya menjadi dewasa, padahal dia itu adik yang sangat ceria dan baik." lirih Joe, mengalihkan wajahnya ketempat lain.
"Dia pergi lebih dulu bahkan sebelum bertemu denganmu, Aeleasha. Aku sama sekali tidak berguna sebagai Kakak." Joe meremas dadanya yang sesak, Aeleasha berjongkok didepan Joe dan menggenggam tangan Joe.
"Itu tidak benar Kak Joe, kamu sudah melakukan yang terbaik." Aeleasha tersenyum menghibur Joe, Joe menutup matanya dengan lengannya.
"Theo meninggal sebelum kamu lahir, lebih tepatnya dia meninggal saat baru kelas 2 SMP karena ditabrak trak. Semua itu terjadi sebab perbuatan paman yang iri pada Dady, paman ingin Dady hancur dengan membunuh Momy tapi Theo menyelamatkan Momy dengan mendorong Momy agar tidak ditabrak tapi..." Joe masih ingin bercerita tapi lidahnya terasa sangat keluh, tangan Joe terkepal erat memikirkan kejadian masa lalu.
"Ternyata aku punya dua orang Kakak yang hebat dan pemberani." Puji Aeleasha tersenyum lebar, Joe yang melihat senyuman Aeleasha ikut tersenyum juga.
"Aeleasha, ternyata kamu disini." Joe dan Aeleasha melihat ke pintu dimana Aciel berdiri tegak.
Aeleasha bangun dan berjalan mendekati Aciel, Joe yang melihat punggung Aeleasha yang menjauh tersenyum tipis.
"Apa kamu dengar itu Theo, adik kecil mu bilang kamu itu sangat hebat dan pemberani." Gumam Joe menyentuh foto dirinya dan Theo yang saling merangkul.
***
"Kenapa kalian cepat sekali sudah mau pulang, menginap saja." Bujuk Melisa.
"Aku juga maunya begitu Mom, tapi kami tidak bisa karena besok pagi aku dan Aeleasha akan berangkat ke bali." Aciel merangkul Aeleasha mesra.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aelea ingat selalu untuk menjaga kesehatan." Kata Melisa, Aeleasha tidak tau harus berkata apa hanya bisa memeluk Melisa dengan erat.
Wili dan Joe yang ada disamping juga ikut memeluk Aeleasha, setelah berpelukan Aeleasha masuk kedalam mobil dan Aeleasha juga tidak lupa melambaikan tangannya begitu mobil itu bergerak meninggalkan halaman rumah.