
Seorang pria yang tadi menodongkan pistol kearah Joe kini terbaring dilantai dengan bersimbahan darah. Aciel lebih dulu menarik pelatuk pistolnya dibandingkan pria itu, Joe tersenyum senang tidak sia-sia dia mengajak Aciel ikut bersamanya.
Aciel menyimpan pistolnya mungkin itu masih akan berguna nantinya, berjalan mendekati Aeleasha yang menangis senggukkan. Joe berusaha menenagkan Aeleasha dan Aciel melepaskan ikatan tali yang mengikat Aeleasha. Semua ikatan sudah dilepas, Joe kaget karena Aeleasha terjatuh dalam pelukkannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Aciel panik melihat Aeleasha yang menutup matanya.
"Cepat bantu aku, kita harus segera membawa Aeleasha kerumah sakit." Bentak Joe, Aciel mengendong Aeleasha alah bridal style. Mereka berdua meninggalkan ruangan itu, tanpa memperdulikan mayat dan darah yang berserakkan dilantai.
Sampai didepan mobil, Joe membukakan pintu untuk Aciel agar dia lebih mudah masuk. Mobil hitam itu melaju meninggalkan lokasi menuju kerumah sakit. Aeleasha yang digendong Aciel berwajah pucat dan juga lemas, segera dibawah keruangan UGD ditangani Dokter David sendiri.
Aciel terus saja mondar-mandir didepan pintu ruangan UGD dan sekali-sekali berhenti memperhatikan lampu merah yang menyala entah kapan akan padam. Joe, dia duduk dikursi tunggu. Tangganya terlipat menyanga kepalanya yang pusing, entah apa yang harus dia jelaskan pada Wili nantinya.
__ADS_1
Ceklek
Seorang pria berseragam putih keluar dari ruangan UGD, Joe langsung berdiri menghampiri Dokter David. Wajah Joe dan Aciel dipenuhi dengan kecemasan dan pikiran, Dokter David mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan.
"Dokter Aeleasha tidak mengalami luka hanya saja..." Kecemasan itu sempat sirna dari kedua wajah itu tapi menegang karena ucapan Dokter David yang terpotong.
"Cepat katakan, jangan berbelit-belit." Geram Aciel dia menarik kerah baju David saking kesal dan jengkel dirinya. Joe menepuk pundak Aciel agar dia melepaskan cengkramannya, Aciel berdecak kesal lalu melepaskan cengkramannya.
Pintu ruang UGD terbuka, Aciel bisa melihat Aeleasha yang tengah berbaring dikasur dorong dengan selang infus ditangannya. Aciel mengikuti kemana para perawat mendorong kasur Aeleasha kesebuah ruangan yang sudah disiapkan.
Aciel duduk dikursi, matanya dengan fokus memperhatikan wajah Aeleasha yang pucat dan matanya yang tertutup dengan rapat. Entah kenapa melihat wajah Aeleasha yang pucat itu mengingatkannya akan kejadian tujuh tahun dulu.
__ADS_1
Dimana dia memperlakukan Aeleasha dengan sangat buruk agar wanita itu pergi dari hidupnya tapi takdir seakan mempermainkan dirinya kini dirinyalah mau wanita itu kembali kesisinya dan terus bersamanya.
"Aeleasha bangunlah, aku sangat minta maaf akan kejadian yang terjadi dulu. Kumohon buka matamu." Lirih Aciel tangannya menggenggam tangan Aeleasha dengan sangat erat.
Joe yang berdiri ditengah pintu tidak mengerti apa yang dikatakan Aciel, otaknya masih sedang mencerna apa yang dikatakan dokter David tadi.
"*Tuan Joe, saya sudah selesai memeriksa Dokter Aeleasha. pasien tidak mengalami luka yang berat hanya saja luka ringan tapi dia hanya mendapat sedikit trauma." Jelas Dokter David.
"Pasien mengonsumsi obat tidur dalam dosis yang sangat besar, jadi jangan heran jika pasien akan baru bangun saat dua atau tiha hari." Tambah Dokter David*.
Joe duduk disofa, tangannya menyangga kepalanya yang berat. Adikknya mengalami trauma sekarang apa yang harus dia jelaskan pada Wili Dadynya nanti.
__ADS_1
Aeleasha membuka matanya, yang pernah dia lihat adalah langit-langit yang berwarna putih, bau obat yang sangat menusuk hidungnya. Aeleasha tau dimana dia saat ini, rumah sakit. Otaknya hanya meningat kejadian dimana dia melihat sebuah tembakan yang meluncur menembus kepala seorang.