
"Ini minumlah air putih." Joe memberikan gelas yang berisi air didalamya. Aeleasha menenguknya sampai habis dan menaruhnya gelas kosong itu dimeja.
Baru beberapa menit, tubuh Aeleasha terjatuh lemas. Matanya terpejam dengan erat, Aciel menatap Joe dengan tatapan bingung. Joe mengendong Aeleasha yang tertidur dengan alah bridal styla.
Aciel mengikuti Joe yang naik kelantai atas, dia juga membantu membukakan pintu kamar Aeleasha. Joe membaringkan Aeleasha dengan lembut, dan menyelimutinya sampai lehernya.
"Apa yang kamu berikan padanya?" Selidik Aciel menatap Joe dengan tatapan tajam, Joe yang membelakangi Aciel tidak sadar akan tatapan itu.
"Aku memberikannya obat tidur dan sedikit obat perusak ingatan." Jelas Joe, Aciel menarik kerah baju Joe.
Matanya yang tajam siap membunuh Joe jika itu bisa membunuhnya. Entah kenapa dadanya terasa sakit mendengarnya, apa ini penyebab Aeleasha tidak mengenalnya waktu pertama kali mereka ketemu.
Joe menepis tangan Aciel, memasang wajah tegas dan tatapan tajam. Aciel tersentak kaget, belum pernah melihat wajah Joe yang seperti ini.
__ADS_1
"Aku tidak mau Aeleasha mengali lebih jauh tentang masalah ini, apalagi Aeleasha adalah orang punya rasa keingintahuan yang sangat tinggi, biarkan waktu yang menjawabnya secara perlahan." Joe mengatakannya dengan wajah yang serius.
Wajah Joe kembali seperti semula, dirinya yang santai dan tenang. "Kamu tidak mau keluar?" Mata Joe menunjuk pintu keluar, tidak mau menganggu waktu istirahat untuk adiknya.
Mereka berdua menuruni tangga, Aciel dan Joe dikejutkan dengan kepulangan Wili. Wili berjalan masuk dengan perban yang melilit dikepalanya, duduk disofa lalu menyandarkan punggungnya.
"Dady apa kamu yang mengirim pesan kepada Aeleasha?" Tanya Joe, duduk disofa dengan tangan yang terlipat.
"Tidak, ini perbuatan 'dia'." Jawab Wili melepaskan perban itu, Joe membelakkan matanya kepala Wili mengalami luka goresan yang sangat panjang dikeningnya.
Joe berdecak kesal, orang itu pasti tidak akan membiarkan Dadynya hidup dengan tenang, apalagi angka perusahaan yang semakin meningkat pasti membuat dirinya makin iri dan benci.
Aciel bingung dengan suasana ini, entah berapa banyak lagi rahasia yang sembunyikan Joe darinya. Aciel mengacak rambutnya kesal, tengah berada didalam kamarnya jika dia diluar dengan Joe pasti akan diledek.
__ADS_1
Aciel menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, pintu kamarnya terbuka memperlihatkan kalau Joe tengah berdiri ditengah pintu dan tanpa permisi langsung menerobos masuk kedalam.
"Apa mau-mu?" Tanya Aciel masih dalam posisi yang sama, Joe juga menjatuh tubuhnya disofa yang ada didalam kamar.
"Kalau mau berbaring lebih baik dikamarmu." Usir Aciel, menoleh kekiri dimana Joe tengah berbaring. Joe mendengus kesal, bangun dari berbaring terlantang. Duduk menghadap Aciel.
"Ini rumahku, terserah akulah." Jawab Joe dengan enteng Aciel hanya menyeringai pahit, dia tidak akan menang jika berdebat dengan Joe jika, Joe dalam suasana hati buruk seperti sekarang.
"Sudah berapa lama Aeleasha mengkonsumsi obat itu?" Selidik Aciel kini bangun dari berbaringnya duduk menghadap Joe.
"Ini baru pertama kalinya." Jawab Joe dengan rawut penuh rasa bersalah, dia juga tidak mengira kalau akan mengunakan obat itu pada Aeleasha.
Suasana mendadak jadi hening, Aciel yang menatap keluar dan Joe yang menatap lantai yang dia pijak dengan kepala yang tertunduk membuat dirinya terlihat sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Apa Aeleasha pernah pacaran?" Gumam Aciel tanpa sadar, Joe menatap Aciel dengan tatapan horor seakan itu ada kenangan yang sangat buruk untuk diingat.