
"Tuan Alvaro?" Aeleasha menatap Tuan Alvaro dengan tatapan bingung, receptionis segera membungkukkan badannya saat Tuan Alvaro berjalan menghampiri.
"Selamat Pagi, Pak." Sapa receptionis itu malu-malu ada sedikit rona merah dipipinya, kepalanya menunduk tetapi matanya melirik Tuan Alvaro.
"Apa yang membawamu kemari, Dokter Aeleasha?" Tanya Tuan Alvaro tidak memperdulikan sapaan receptionis, Wajah receptionis memerah malu karena diabaikan Tuan Alvaro.
"Ah.. Aku ingin bertemu dengan pimpinan dari perusahaan ini atau bisa disebut Ceo perusahan ini." Jawab Aeleasha, Tuan Alvaro tersenyum sangat tipis, Gray berdiri yang disampingnya berkeringat melihat senyuman tipis itu.
"Untuk apa kamu mencariku?" Aeleasha yang melihat ketempat lain langsung melihat Tuan Alvaro, mata Aeleasha berkedip beberapa kali.
"Gray kamu siapkan ruangan untuk Dokter Aeleasha, aku akan pergi rapat dulu." Jelas Tuan Alvaro, tangannya terangkat memberikan kode pada Gray.
Kaki Tuan Alvaro melangkah menjauh meninggalkan Gray dengan Aeleasha berdua, Gray berdeham mencoba mencairkan suasana yang canggung.
__ADS_1
"Kalau begitu ikuti saya, Dokter Aeleasha." Gray berjalan menuju lift yang tadi mereka gunakan, Aeleasha mengekori Gray tanpa bertanya-tanya lagi, dia sibuk mengamati situasi perusahan.
Pintu lift sudah tertutup, Gray memencet tombol yang hanya ada satu disana, Gray dan Aeleasha tidak bersuara sama sekali.
"Apa ini lift pribadi?" Aeleasha menutup mulutnya, pertanyaan yang melintas dipikirkannya tidak sengaja terlontarkan begitu saja.
"Iya." Jawab Gray seadanya, Aeleasha yang tidak suka keheningan berteriak dalam hatinya.
Pintu lift terbuka, Gray yang keluar dari lift berjalan berbelok ke kanan, Aeleasha yang takut ketinggalan berlari kecil mengejar langkah kaki Gray yang lebar.
Aeleasha yang baru masuk langsung terpesona pada interior ruangan yang menurutnya sangat bagus dan juga elegan. Aeleasha duduk di sofa tangannya mengetuk meja, dia sudah menunggu selama 30 menit dan sekarang Aeleasha merasa sangat bosan.
Tuan Alvaro berjalan masuk kedalam ruangan, Aeleasha yang duduk segera berdiri. Mereka berdua duduk saling berhadapan satu sama lain.
__ADS_1
"Jadi, apa yang yang ingin kamu bicarakan?" Tuan Alvaro melipat tangannya, memperhatikan Aeleasha.
"Anda bisa membaca dokumen ini dulu setelah itu saya akan menjelaskannya secara mendetail." Aeleasha memberikan dokumen yang dibawanya, Tuan Alvaro yang mengerutkan keningnya mengambil dokumen itu dan membaca.
Aeleasha menelan salivanya, dia sangat gugup apalagi wajah Tuan Alvaro terlihat serius sekali ini membuat dirinya sangat frustasi karena keheningan yang berlanjut hanya ada suara kertas yang kedengaran.
"Baiklah, saya akan bekerja sama dengan perusahan anda." Jawab Tuan Alvaro setelah menutup dokumen yang dibacanya. Aeleasha yang mau menjelaskan menatap Tuan Alvaro dengan tatapan bingung.
"Anda tidak perlu menjelaskannya, dokumen isi ini sudah sangat jelas." Jelas Tuan Alvaro tersenyum, mengulurkan tangannya dan berjabat dengan Aeleasha.
Aeleasha yang masih tidak mengerti situasi, tidak tau bagaimana ceritanya bagaimana dirinya sudah berada di lantai bawah. Aeleasha menggelengkan kepalanya dengan cepat, berjalan keluar dari perusahaan.
"Jadi kontraknya berjalan lancar." Gumam Aeleasha bersenandung senang, tiba-tiba ada sebuah mobil van hitam berhenti disamping Aeleasha.
__ADS_1
Sebuah tangan keluar dari mobil menarik Aeleasha masuk kedalam mobil. Aeleasha yang kalah kekuatan tidak bisa mengelak, setelah Aeleasha masuk kedalam mobil, bergerak cepat meninggalkan lokasi kejadian.
"Diamlah nona kecil." Ancam pria kekar yang duduk disamping Aeleasha, tangannya memegang pisau mengancam Aeleasha.