
"Em.. Panggil Aelea atau Shasha? Kamu pilih yang mana?" Aciel melirik Aeleasha yang masih mencerna situasi.
"Aelea, saja." Jawab Aeleasha matanya menatap ketempat lain, Aciel memiringkan kepalanya agar bisa memperhatikan ekspresi apa yang ditampilkan Aeleasha karena Aeleasha tengah menundukkan kepala.
"Lalu nama apa yang akan kamu gunakan untukku?" Tanya Aciel, pertanyaan ini membuat Aeleasha mati kutu.
Di otak Aeleasha sudah terpikirkan nama untuk Aciel tapi Aeleasha merasa sangat malu jika mengatakannya dengan bibir sendiri.
"Bagaimana kalau Aku memanggil nama Kak Aciel saja, Aciel." Aeleasha mengucapkan nama Aciel dengan sangat pelan.
"Coba panggil lagi." Goda Aciel, tersenyum pada Aeleasha sambil bersandar pada setir mobil.
"Aciel." Cicit Aeleasha, menutup wajahnya dengan tangannya.
"Iya, Aelea." Jawab Aciel, Aeleasha yang menutup wajahnya mengintip dibalik sela-sela tangannya, Aeleasha bisa melihat kalau Aciel tersenyum menampilkan gigi putihnya.
"I-ini sudah malam. Ayo kita pulang." Aeleasha tergagap, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Jantungnya bisa-bisa rusak jika terlalu lama bersama Aciel, mobil putih Aciel menyala mulai bergerak meninggalkan tempat parkiran.
__ADS_1
Kembali ke kamar tidur Aciel
Aciel menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali, "Aku melamarnya tadi ditaman bermain tapi Aelea bilang kalau dia akan jawab, Aelea hanya butuh waktu saja." Jelas Aciel, Joe yang berbaring disampingnya menganggukkan kepalanya paham.
"Itu artinya Aeleasha tidak menolak tapi !" Joe yang menjelaskan terhenti, Joe langsung bangun dari tidurannya menatap Aciel yang masih setia berbaring.
"Melamar?" Ulang Joe, "Kamu melamar Aeleasha tadi?" Teriak Joe dengan mata melotot tidak percaya.
Joe menutup mulutnya, "Beraninya kamu melamar adikku tanpa sepengetahuan diriku." Joe mengeluarkan tatapan horornya, Aciel yang sebal langsung menendang keluar Joe dari kamarnya.
"Aciel, aku tidak akan merestui kalian." Teriak Joe lagi, Joe yang sadar kalau dirinya berteriak secepat kilat kabur ke kamar miliknya yang tepatnya berada disamping kamar yang ditempati Aciel.
Aeleasha yang baru keluar dari kamarnya mengerutkan keningnya bingung karena Dia bisa mendengar suasana berisik yang berasal dari lantai bawah. Aeleasha berjalan menuruni anak tangga, terlihat kalau Wili, Joe beserta sekertaris Nio tengah berdiskusi.
"Mungkin kita akan kesulitan untuk bertemu dengan Tuan Alvaro." Jelas Sekertaris Nio yang tidak lain adalah sekertaris Joe.
"Aku kenal dengan Tuan Alvaro." Jawab Aeleasha, menyela ditengah-tengah. Wili, Joe, sekertaris Nio tidak akan menyadari kehadiran Aeleasha jika saja Aeleasha tidak mengeluarkan suara.
"Aeleasha sejak kapan kamu disini?" Tanya Wili, melepaskan kacamata yang dipakainya.
__ADS_1
"Baru saja kok." Aeleasha mengulas senyuman tipis, mata coklatnya melirik dokumen yang ada diatas meja.
"Dady ingin melakukan kerja sama dengan perusahan ini?" Aeleasha membaca dokumen itu.
"Iya.. Perusahan kita adalah perusahan desain interior jadi kita memerlukan kerjasama dari perusahan Aac." Jelas Sekertaris Nio memberikan Aeleasha map hitam yang berisi tentang informasi perusahaan Chriptor.
"Jadi kita hanya perlu melakukan pertemuan, kan?" Tanya Aeleasha tapi matanya tertuju pada map hitam.
"Iya, tapi akan sangat sulit untuk bertemu dengan pemimpinnya." Joe menghela napas panjang, Joe sudah menghubungi pemimpinnya tapi selalu ditolak.
Tidak ada satu pun yang membuka mulut mereka, masing masing sibuk dengan pemikiran sendiri. Aeleasha yang sudah selesai membaca map hitam menutupnya.
"Aku akan mencoba menemuinya." Aeleasha membulatkan tekadnya, Joe dan Wili saling melemparkan tatapan satu sama lain.
...****************...
Aeleasha yang berdiri didepan gedung pencakar langit menatap papan nama perusahaan itu, Aeleasha memang sudah membulatkan tekad tapi entah kenapa kepercayaan dirinya menghilang ketika dia sudah berdiri tepat didepan gedung ini.
"Aelea." Aeleasha kaget karena ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya bahkan orang yang berada dibelakangnya ini juga mengetahui nama nya.
__ADS_1