
Aeleasha melewati harinya dengan membaca buku-buku yang diberikan Joe padanya untuk mempelajari semua hal tentang perusahaan.
Pikiran Aeleasha, tidak terlalu ingat bagaimana acara penyambutan kemarin berlangsung dan apa saja yang sudah dia katakan kemarin. Dirinya kembali berakhir dimeja yang bertumupukkan buku dan juga kertas lagi.
Pagi Harinya
Sinar matahari mulai menyelinap masuk kedalam kamar bernuansa putih itu, tapi pemilik kamar itu tidak kunjung bangun juga.
"Silau." Suara serak memenuhi ruangan, tangannya menghalangi cahaya matahari yang menyinari wajahnya.
Aeleasha menghela napas panjang, dia merasa sangat malas untuk bangun hari ini tidak seperti biasanya yang selalu bangun pagi dan melakukan aktivitas lebih awal.
"Aku lebih suka jadi dokter dari pekerjaan itu..." Gumum Aeleasha mengumpulkan semua semangat paginya, dia berjalan menuju kamar mandi bersiap-siap.
"Aelea, kamu belum bangun?" Teriak Joe dibalik pintu kamarnya, yang dipanggil tidak memberikan sautan. Joe memutar knop pintu tapi pintu terkunci dari dalam, hal itu membuat Joe berdecak kesal.
"Dasar pemalas." Joe berbalik pergi kekamarnya meninggalkan kamar Aeleasha yang dipintu kamarnya bergantu nama Aeleasha.
__ADS_1
Aeleasha sudah selesai mandi, kini sedang memakai kemeja putuh dengan celana jens panjang. Aeleasha membawa jas dokternya dan tas kecil yang biasa dia bawa saat pergi kemana-mana.
"Hei.. Kamu mau pergi mana pakai pakaian begitu?" Tanya Joe yang baru saja keluar dari kamarnya, memperhatikan pakaian Aeleasha dari atas hingga kebawah.
"Kak Joe, Menurut kakak aku bakal pergi kemana?" Tanya Aeleasha balik, Joe menatap Aeleasha dengan aneh, dia yang bertanya bukannya menjawab Aeleasha malah balik bertanya padanya.
Mereka berdua menuruni tangga dengan saling berdebat, Wili yang sedang duduk disofa mengelengkan kepalanya bingung dengan tingkah mereka berdua.
"Kayak kucing sama tikus ajah kalau udah ketemu pasti kelai." Kata Wili dalam hatinya sambil membetulkan kacamata yang dipakainya.
"Dady, aku berangkat dulu. Ada jadwal operasi hari ini." Kata Aeleasha, mengambil roti isinya dan berjalan pergi.
"Apa yang kamu katakan Aeleasha, kamukan harus kekantor hari ini." Wili bangkit dari duduknya menghampiri putrinya, tangannya memegang bahu Aeleasha dan Aeleasha menunduk.
"Kan pekerjaan aku dokter, dad. Masa aku dipaksa duduk didepan tumpukkan kertas sementara apa yang aku pelajari itu tentang obat." Jawab Aeleasha, Joe mengangguk setuju tapi langsung mengelengkan kepalanya setelah mencerna perkataan Aeleasha dengan baik.
"Aeleasha..." Panggil Wili dengan lembut, Aeleasha mengangkat kepalanya menatap Wili dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Dady, aku lebih suka jadi dokter. Masa Dady hancurin impian aku buat nyelamatin orang?" Tanya Aeleasha, membuat Wili bungkam.
"Kalau kamu jadi dokter siapa yang urusin perusahan Dady?" Sela Joe, dia harus turun tangan sekarang. Joe sudah dari tadi membujuk adikknya yang keras kepala ini.
Aeleasha mengigit bibir bawahnya, dia tidak bisa melepaskan impiannya dan disisi lain dia juga tidak bisa membantah Dadynya.
"Otak, berpikirlah." Teriak Aeleasha dalam hatinya, dia tidak mau egois.
"Yah udah... Aku bakal bekerja dikantor dengan satu syarat." Aeleasha mengangkat satu jari tangannya.
"Apa itu?" Tanya Wili, dia harus bisa membujuk Aeleasha karena dia akan sibuk untuk kedepannya.
"Aku akan tetap bekerja sebagai dokter." Ungkap Aeleasha, dia sudah menemukan jalan pintasnya tanpa harus membuang salah satu pun.
"Kamu udah gila?" Teriak Joe, Aeleasha menutup telinganya yang berdengung. Wili terlihat berpikir dengan keras, dan beberapa saat kepala Wili mengangguk setuju.
Aeleasha tersenyum senang, tangan kanannya menepuk pundak Joe. Joe meliriknya, keningnya ada satu kerutan kecil, karena Aeleasha menjulurkan lidahnya meledeknya.
__ADS_1
"Aku titipkan padamu dulu kakakku, setelah operasinya selesai aku akan datang kekantor." Teriak Aeleasha kegirangan, dia berlari keluar meninggalkan dua pria yang saling mengelengkan kepalanya.