
"Aciel." Panggil Joe, dia sangat senang dengan kehadiran Aciel. Kening Joe mengkerut ada seseorang yang bersembunyi dibelakang punggung Aciel.
Perlahan-lahan orang yang bersembunyi itu mulai bergerak kedepan, dia berlari memeluk Wili. Joe membeku, dia menatap Aciel dengan tatapan menusuk.
"Apa terjadi kenapa Dady bisa seperti ini?" Aeleasha menyentuh pipi Wili yang tergores pisau.
"Kamu mau mati." Joe mengunakan jari telunjuknya mendorong Aciel, dia sangat kesal sekarang padahal tadi dia sudah bersusah payah menahan Aeleasha untuk tidak ikut dan sekarang Aciel malah membawanya kemari.
"Yang mau mati itu kamu, kenapa otakmu jadi buntu sih." Sindir Aciel, dia mencoba membantu Aeleasha memapah Wili pergi dari ruangan itu sebelum orang yang tadi datang kembali.
"Heh! Orang lagi bicara kenapa ditinggalin." Bentak Joe, dia berlari mengejar Aeleasha yang sudah berjalan keluar dari gedung yang menyeramkan itu.
Didalam mobil
"Aeleasha kenapa kamu malah datang? Bagaimana kalau kamu tertangkap dan malah menjadi sandraan nanti?" Tanya Joe, bimbang. Aeleasha tidak mengubrishnya, dia sibuk mengobati luka pada wajah Wili.
"Ck.. Kamu itu bodoh atau gimana? Langsung kelokasi tanpa menyiapkan apapun, udah gila? Kalau saja Aeleasha gak menelepon, kamu dan paman pasti tidak akan bisa keluar." Jelas Aciel melirik kaca depannya, memperhatikan Aeleasha yang sibuk.
__ADS_1
"Aeleasha yang sedang serius terlihat sangat imut." Kata Aciel dalam hatinya, senyuman tipis menghiasi wajah tampannya itu.
"Dan juga adikmu yang menyelamatkanmu tau, dia yang menyuruhku untuk menyalakan lampu mobil dan membunyikan suara mobil polisis." Ungkap Aciel untuk membungkam mulut Joe yang seperti ibu-ibu jika berhubungan dengan Adiknya ini.
"Kak Aciel apa kita bisa lebih cepat sedikit?" Tanya Aeleasha menengahi, Joe yang mau membuka mulut, terdiam sesat. Aciel menganggukan kepalanya paham.
Dirumah lain
"Sialan, dasar bodoh." Maki Alfred, dia memukul kepala anak buahnya dengan asbak rokok sehingga membuat luka dikepalanya.
"Tenangkan dirimu Tuan muda, kita masih ada kesempatan." Bujuk seorang pria yang membetulkan letak kacamatanya dan juga dokumen yang ada ditangan kanannya.
Alfred berdecak kesal, mengangkat tangannya lalu menyuruh anak buah itu keluar dari ruangannya itu. Pria yang memakai kacamata berjalan mendekati meja Alfred lalu memberikan dokumen yang dibawanya.
Alfred membuka dokumen itu lalu tersenyum senang, orang yang ada didepannya ini bisa diandalkan, kekesalan yang mengisi hatinya keini lenyap begitu saja melihat dokumen yang dibawanya.
"Kamu benar-benar bisa diandalkan Krisan." Kata Alfred memujinya, pria itu tersenyum senang akan tanggapan Alfred.
__ADS_1
"Kamu bisa mengndalkan aku, Alfred." Jawabnya yang tidak lain adalah Krisan Xifiro.
Pagi Harinya
"Bagaimana keadaan Dady? " Tanya Joe, membawakan bubur yang dibuatnya sendiri. Aeleasha mengambil bubur itu dan menaruhnya dimeja, matanya tertuju pada foto yang ada dimeja itu.
Aeleasha mengambilnya dan mengangkatnya, memperhatiakan foto yang berisikan 3 orang. Satu wanita, pria dan seorang anak laki-laki yang tersenyum memperlihakan giginya yang ompong. Joe mendekati Aeleasha karena adikknya tidak berubah dari posisinya sama sekali.
"Ternyata foto itu." Gumam Joe, dia merebut foto itu dari tangan Aeleasha. Aeleasha membalikkan badannya menghadap kearah Joe, bibirnya mengerucut kesal.
"Dia adalah Momy." Jelas Joe, telunjuknya menunjuk wanita yang rambutnya sedikit pirang disangul keatas dengan senyuman manis mengembang diwajahnya.
"Hahaha... yang ini pasti kak Joe." Kata Aeleasha sambil menunjuk anak kecil yang giginya ompong itu, Joe berdecak sebal. Dia sedang menjelaskan sesuatu dan Aeleasha malah bercanda dengannya.
Mereka berdua bercanda ria, sampai-sampai Joe jadi terlambat. Aeleasha duduk ditepi ranjang memperhatikan foto itu, tanganya menyentuh keningnya.
"Kenapa wajahnya terlihat tidak asing? Aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi dimana?" Tanya Aeleasha dalam hatinya, terus memperhatikan wajah Momynya.
__ADS_1