Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 40


__ADS_3

"Mapnya? Hahaha.. Hilang saat aku berlari kesini." Cicitnya dengan pelan, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Apa kamu bilang?" Teriak Tuan Alvaro, menyelipkan tangannya kedalam saku celananya, matanya yang berwarna hazel menatap tajam.


"Dimana map birunya Gray Fiktorius?" Suara Tuan Alvaro meninggi, orang yang dipanggil namanya makin menundukkan kepalanya. Aeleasha yang dari tadi memperhatikan mereka, ingin sekali memperingati orang yang bernama Tuan Alvaro ini untuk sedikit menurunkan suara.


"Map biru?" Ulang Aeleasha, keningnya sedikit berkerut mencoba mengingat. Tuan Alvaro membalikkan badannya menghadap Aeleasha, matanya memperhatikan Aeleasha yang sibuk membongkar tasnya.


Tuan Alvaro melototkan matanya tidak percaya, sebuah map biru yang dia cari-cari berada didalam tas Aeleasha. Aeleasha menatap map dan Tuan Alvaro secara bergantian, dirinya segera memberikan map itu pada Tuan Alvaro dan Tuan Alvaro menerimanya dengan tatapan curiga.


"Kenapa map ini bisa ada ditanganmu?" Selidik Tuan Alvaro, tangannya membuka map itu memeriksa apakah ada yang hilang, walaupun dia belum pernah membuka map itu sama sekali.


"Karena aku memungutnya dijalan tadi." Jawab Aeleasha, Tuan Alvaro melirik Gray yang ada disampingnya dengan tatapan dingin, Gray yang mendapat tatapan itu menelan salivanya.


Aeleasha mengambil map itu dan membacanya dengan teliti, tidak ada kejanggalan yang ada pada riwayat, semuanya sangat bersih. Wanita yang berbaring lemas disana pernah melakukan operasi pembersihan penyumbatan alveolus tapi operasinya disini tertulis berjalan sangat baik.


"Jadi apa penyebabnya?" Gumam Aeleasha, mendekati wanita itu tangannya menyentuh keningnya. Aeleasha langsung menarik tangannya karena keningnya panas sekali.


"Apa beliau mengalami demam?" Tanya Aeleasha, entah kenapa matanya terus menatap mulut wanita itu.

__ADS_1


"Iya, Nyonya mengalami demam, dan juga nyonya sempat bilang kalau kepalanya pusing dan juga sulit untuk menelan makanan." Jawab Gray yang ada disamping Tuan Alvaro.


Aeleasha langsung membuka mulut wanita itu, dan firasatnya tidak salah, wanita ini mengalami radang amandel. Aeleasha mengambil buku catatannya dan menulis seseuatu dikertas.


Selesai dengan tulisnya, dia memberikan kertas itu kepada Tuan Alvaro, " Ibu anda mengalami radang amandel. jadi, anda bisa menebus obat itu diapotek, dan permisi" Aeleasha mengulas senyumannya lalu berjalan keluar.


Aeleasha menghela napas panjang, berjalan meninggalkan kamar itu menuju ruang kerjanya. Tapi langkah kakinya terhenti karena ada yang memanggil namanya.


"Dokter Aelea." Panggil seorang suster dengan dibelakangnya di ikuti seorang tukang kurir yang membawa sebuket bunga mawar merah.


"Ini, katanya ada yang mengirim bunga ini untuk anda." Kata suster itu, Aeleasha bengong sebentar. Otaknya tengah berpikir keras siapa yang memberikan bunga ini padanya dan kenapa? ini bukan hari valantine atau hari natal.


Tok... tok...


Suara ketukkan itu menyadarkan lamunan Aeleasha, segera memakai seragamnya dan membiarkan buket bunga itu tetap dimejanya. Aeleasha membuka pintu ruangannya dan terlihat Gray yang bersama Tuan Alvaro tengah berdiri didepan ruangannya.


"Ada apa yah?" Tanya Aeleasha dengan ramah, Gray malah mengaruk kepalanya, Gray terlihat bingung mau bicara apa.


"Maaf untuk yang tadi." Kata Gray dengan pelan, jika saja bukan karena Bosnya Tuan Alvaro yang ada disampingnya ini, menyuruhnya untuk meminta maaf. Mungkin kata ini tidak akan pernah keluar dari mulut Gray.

__ADS_1


"Oh.. bukan apa-apa." Jawab Aeleasha dengan singkat, suasana mendadak jadi canggung karena tidak ada dari mereka yang berbicara sama sekali, mereka sibuk mengalihkan pandangan ketempat lain.


"Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya mau pergi." Jelas Aeleasha, Grya yang menunduk langsung mengangkat kepalanya.


"Tuan Alvaro ingin berbicara dengan anda." Jawab Gray dengan cepat, Aeleasha tersenyum tipis membuka pintunya lebih lebar sedikit untuk mempersilahkan tamu masuk.


Tuan Alvaro langsung berjalan masuk, duduk disofa, duduk dengan posisi yang paling nyaman. Gray hanya bisa meneteskan air mata tapi air matanya tidak turun membasahi pipinya, entah karma apa yang dia perbuat dahulu, sehingga mendapatkan Bos yang seperti Tuan Alvaro ini.


"Ada masalah apa anda mencari saya?" Tanya Aeleasha, dia harus bersabar penuh untuk mengurus keluarga pasien yang satu ini.


"Terima kasih sudah menolong ibu saya, dan perkenalkan nama saya Xavier Alvaro Chriptor." Kata Tuan Alvaro, tangannya terulur meminta berjabat.


"Sudah kewajiban saya sebagai dokter." Jawab Aeleasha tersenyum, lalu menjabat tangan itu. Tuan Alvaro sedikit berdeham, membuat Aeleasha mengerutkan keningnya tidak paham. Aeleasha sudah melepaskan tangannya dan untuk apa Tuan Alvaro berdehem.


"Apa anda tidak mau memperkenalkan diri anda?" Gumam Gray yang berdiri disamping Tuan Alvaro, memperhatikan wajah Aeleasha.


"Oh... Haha perkenalkan nama saya Aeleasha Brewster." Aeleasha tertawa canggung, "Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan saya permisi." Kata Aeleasha dengan dingin langsung dan keluar meninggalkan ruangan kerjanya.


"Orang aneh, itu ruanganku seharusnya kalian yang keluar bukan aku." Gumam Aeleasha, kakinya melangkah berjalan pergi kearah ruangan dokter David.

__ADS_1


Setelah Aeleasha keluar Alvaro terus memperhatikan tangannya yang tadi bersalaman dengan Aeleasha.


__ADS_2