Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 109


__ADS_3

"Dasar penganggu." Aciel mencubit pipi Cika yang tertidur pulas dipangkuan Aeleasha, Aciel memperbaiki posisi kepala Aeleasha agar Aeleasha bisa tidur dengan nyaman.


Mobil hitam Aciel melaju meninggalkan restoran, Aeleasha yang merasakan pergerakan terbangun, mengosok kedua matanya.


"Apa aku membangunkanmu?" Aciel melirik Aeleasha dari kaca spion depan, Aeleasha menggelengkan kepalanya.


"Maaf aku lama, aku tidak mengira akan bertemu dengan salah satu klien yang ada di Amerika." Aeleasha yang mengantuk mencoba sebisa mungkin untuk mempertahankan kesadarannya.


Aciel yang fokus menyetir tidak menyadari kalau Aeleasha kembali tertidur, mobil Aciel terus melaju dijalan yang mulai sepi dan hening.


......................


Joe yang mondar-mandir di teras rumah, senyuman mekar diwajah tampannya, melihat mobil Aciel yang memasuki gerbang.


"Kemana sebenarnya kamu membawa adikku ha?" Bentak Joe begitu Aciel turun dari mobil.


Aciel menaruh jari telunjuknya dibibirnya meminta Joe untuk diam, Aciel berjalan melewati Joe dan membuka pintu belakang mobil. Joe memperhatikan Aciel dari samping, mata membelak kaget saat melihat Aciel menggendong Aeleasha.


"Bantu aku menggendong Cika." Perintah Aciel, kakinya yang panjang melangkah masuk kedalam rumah.


Joe menghela napas, kebiasaan Aciel masih saja sama, suka memerintah orang. Cika yang terbangun menatap Joe linglung, Cika mengedarkan pandangannya keseluruh arah mencari Aeleasha.


Joe menggendong Cika, menepuk-nepuk bahunya dengan pelan agar dia tertidur lagi.


Besok paginya..

__ADS_1


Wili dan Joe menatap Aciel meminta penjelasan yang lengkap, Melisa membawa teh dari dapur menaruhnya diatas meja lalu duduk disamping Wili mau mengorek sedikit informasi.


"Kamu melamar Aeleasha kan semalam?" Selidik Joe, seperti detektif yang menyelidiki pelaku.


"Tidak, aku tidak setuju. Aeleasha tidak akan menikah." Tolak Wili dengan cepat, Melisa mencubit lengan Wili.


"Aww..." Ringis Wili menggosok lengan kanannya, Joe yang hendak mengatakan sesuatu terdiam setelah mendapatkan lirikan maut dari Melisa.


Satu kata itu tertahan di ujung lidah Joe, dia tidak tahan untuk mengatakannya, atau menelannya, tapi pada akhirnya, itu turun dan menggumpal di dalam hati Joe.


"Aku berencana mengadahkan pernikahan itu saru minggu lagi." Ungkap Aciel tanpa basa-basi, Aeleasha yang baru turun dari kamarnya melongo mendengar apa yang Aciel katakan.


"Hei-hei.. Kau kiri ini rapat bisa selesai dalam satu minggu?" Joe mengerutkan keningnya, Aciel yang mau menjelaskan tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Aeleasha.


"Aeleasha juga setuju, bukan begitu sayang?" Aciel mengedipkan sebelah matanya, sekarang semua tatapan tertuju pada Aeleasha seorang.


Menutup wajahnya dengan kedua tangan, berjalan melewati sofa menuju dapur mengambil air putih untuk menyegarkan tenggorokan yang kering.


"Ini mungkin mimpi." Gumam Aeleasha menepuk kedua pipinya, kini matanya tertuju pada sebuah lingkaran yang melingkari jari manisnya.


"Baiklah, karena Aeleasha sudah setuju." Jawab Wili pasrah, "Tapi, kalau kamu berani menyiksa atau pun membuatnya terluka aku akan membawa Aeleasha kembali bagai mana pun caranya." Tegas Wili memberi Aciel peringatan.


"Tentu saja." Jawab Aciel dengan lantang, Joe memutar bola matanya malas. Joe tertawa pelan melihat bayangan Aeleasha, mencoba untuk mengusung apa yang mereka bicarakan.


Sebuah ide gila terlintas dikepala Joe, Joe yang tersenyum misterius membuat Aciel merasa tidak aman.

__ADS_1


"Aku akan merestui kalian dengan syarat, Aciel tidak boleh bertemu dengan Aeleasha selama 3 hari." Joe tersenyum licik,


"Karena adikku menikah lebih dulu jadi aku boleh meminta permintaan, kan Mom?" Imbuh Joe melirik Melisa, Melisa mengangguk setuju.


"Jadi, sekrang kamu pulanglah." Usir Joe, mendorong Aciel sampai pintu depan dan meniup pintu, Joe tertawa senang akhirnya dia bisa membalas Aciel juga.


Aeleasha melemparkan tubuhnya keatas kasur, tangannya mengambar lingkaran diatas kasurnya. Aeleasha menatap langit-langit kamarnya, Melisa mengetuk pintu tetapi tidak kedengaran oleh Aeleasha.


Aeleasha menaruh kepalanya diatas pangkuan Melisa ketika Melisa sudah duduk dengan nyaman.


"My little girls." Melisa membelai rambut Aeleasha, Aeleasha meremas seprei.


"Ternyata putriku sudah sangat besar yah." Melisa tersenyum penuh keibuan, walaupun dia dengan Aeleasha tidak bersama dalam jangka waktu yang panjang.


"Momy, Aeleasha tidak mau menikah, Aeleasha hanya mau tinggal sama Momy, Dady, dan Kakak." Aeleasha megerucutkan bibirnya, Melisa tertawa kecil, mencubit hidung Aeleasha.


"Dasar nakal. Aeleasha semua orang itu ditakdirkan berpasangan. Kamu tidak bisa selamanya bersama Dady dan Momy suatu hari kami akan pergi, dan Kakakmu Joe pasti akan memiliki kehidupannya sendiri." Jelas Melisa panjang lebar.


"Tapi-"


"Sudah jangan tapi-tapian, kamu mencintai Aciel kan?" Aeleasha menganggukan kepalanya, ada semburat merah dipipinya.


"Baiklah, aku akan kawin." Ucap Aeleasha, bangkit dari berbaringnya.


"Bukan kawin tapi menikah." Melisa menjentik kening Aeleasha, Aeleasha meringis kesakitan mengosok keningnya, bibirnya mengerut kesal, Melisa dan Aeleasha tertawa bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2