
Fiko memperhatikan jam tangannya, tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, dia harus pergi mengurus sesuatu tapi hatinya tidak rela, masih mau berbicara dengan Aeleasha.
"Haha... Sepertinya Papa harus pergi dulu." Fiko tertawa dengan canggung, bangkit dari kursinya diikuti Aeleasha yang juga berdiri.
"Iya... Aku juga harus kembali keperusahaan." Aeleasha mengulas senyuman dibibirnya, Fiko mengaggukkan kepalanya paham.
Aeleasha dan Fiko berpisah didepan kafe. Aeleasha melambaikan tangannya saat mobil Fiko mulai bergerak meninggalkan lokasi, melihat Fiko yang sudah pergi Aeleasha tersenyum kikuk karena tangannya yang masih melambai diudara padahal mobil hitam itu sudah tidak kelihatan lagi.
Aeleasha sedikit menundukkan kepalanya memikirkan apa yang Fiko katakan padanya, kening Aeleasha sedikit mengkerut karena bayangan hitam yang membelakanginya.
"Seorang Pria?" Gumam Aeleasha dengan pelan, bayangan itu ada didepannya.
Aeleasha baru mau mengalihkan kepalanya melihat orang yang ada dibelakangnnya tapi sebelum dia melihatnya tangan orang itu lebih cepat dari dirinya, tangan pria itu menutup mulut Aeleasha dan berbisik ditelinganya.
"Shtt... Jangan memutar kepalamu, kamu hanya perlu patuh dan dengarkan apa yang aku katakan." Bisik pria itu ditelinga Aeleasha dengan nada manis.
Aeleasha langsung merinding, dia bisa merasakan napas orang yang ada dibelakangnya tepat berada dilehernya, orang itu sedikit mendesak Aeleasha untuk bergerak maju kedepan dimana pintu mobil terbuka dengan lebar untuk menyambutnya.
Aeleasha memutar matanya memperhatikan sekelingnya, setidaknya ada harapan kalau dia bisa kabur dengan bantuan orang yang lewat tapi disini sangat sepi hanya ada beberapa mobil yang lewat.
"Tenanglah karena sekarang jam makan siang sudah habis, jadi kamu tidak akan bisa kabur." Bisik pria itu lagi, Aeleasha mengigit bibir bawahnya dengan kasar.
"Kenapa mendadak jadi gelap?" Cemas Aeleasha, matanya tidak bisa melihat sama sekali. Dia sudah melebarkan matanya tapi masih tetap gelap.
Pria itu menutup mata Aeleasha dengan kain hitam yang dia keluarkan, dia sedikit tersenyum melihat wajah khawatir Aeleasha.
"Hei... Apa yang kamu lakukan?" Tanya seorang remaja dengan tiga temannya yang mengikutinya dibelakang. Remaja dengan seragam sekolah itu menatap pria itu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ka-kamu menculiknya?" Tanya salah satu mereka yang berada disebelaha kiri pria itu, tangannya menunjuk pria itu.
"Hei.. anak-anak kalian bolos dari kelas?" Tanya pria itu dengan nada sinis, remaja itu langsung saling berbisik tidak suka dengan perkataan orang itu.
"Si-Siapa ya-yang ka-kamu pa-panggil a-anak?" Teriak remaja yang memakai kacamata bulat tebal, wajahnya memerah tidak suka. Remaja yang ada sekelilingnya mengangguk setuju dengan perkataan sikacamata bulat.
Sebelum pria itu membuka mulutnya, Aeleasha berteriak histeri. Dia harus bisa mengambil kesempatan ini untuk kabur sejauh mungkin.
"Selamatkan aku ada orang gila, dia mau menculikku." Teriak Aeleasha, memberontak sebisa mungkin. Aeleasha tidak tau apa yang terjadi dan dia hanya mendengar suara teriakan lalu disusul dengan ringisan.
Aeleasha secepat mungkin melepaskan ikatan dimatanya, matanya menangkap 4 remaja laki-laki sedang menyerang seorang pria dewasa. Pria itu menutup wajahnya dengan kedua lengannya dan akhirnya dikalah dengan tangannya diikat kebelakang sambil berlutut.
"Tidak sia-sia kita bolos."
"A-Aku Sa-sangat se-senang."
"Terima kasih sudah menolongku." Ungkap Aeleasha, dia akhirnya bisa bernapas dengan tenang.
Salah satu dari antara mereka maju, wajah remaja itu sedikit memerah entah karena apa. Ada plester yang menempel dikening dan hidungnya, sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok itu.
"Senang bisa membantu." Jawabnya sambil memegang leher belakangnya, dan dibelakangnya remaja lain mulai berbisik lagi.
Aeleasha tersenyum senang, dia mendekati orang yang ada didepannya dengan bibirnya yang kerucut. Berjongkok didepan pria itu dan matanya membesar karena terkejut dengan orang yang ada didepannya yang tidak lain adalah Aciel yang senang menahan tawanya.
"Kakak Aciel?" Aeleasha membelakkan matanya kaget sekaligus bingung dengan tingkah Aciel.
Aeleasha mencoba melepas ikatan yang ada ditangan Aciel dan membantunya berdiri. Aciel membersihkan celananya yang terkena debu dan memperbaiki topi hitam yang dipakainya.
__ADS_1
"Apa yang kakak lakukan? Kenapa melepaskan ikatannya?" Tanya mereka dengan kompak memasang wajah bingung.
"Ahaha... Aku, Tapi kenapa kalian malah bolos dan berkeliaran disekitar sini?" Aeleasha menglihkan topik pembicaraan, Mereka langsung mengalihkan wajahnya tidak berai menatap Aeleasha.
Mereka mau tidak mau mendengar ceramah yang panjang dari Aeleasha, dan menutup telinga mereka karena sakit. Sebuah tangan terulur memeluk Aeleasha dari belakang membuat Aeleasha membeku seketika.
"Pulang sana." Usir Aciel memeluk Aeleasha dengan posesif, matanya menatap mereka dengan tatapan tidak suka.
"Jangan menganggu orang yang lagi pacaran." Aciel menarik tangan Aeleasha menjauhi keempat remaja laki-laki itu dan mendudukkan Aeleasha dimobil. Aciel berlari memutari mobil dan masuk kedalam mobil.
Mobil putih milik Aciel meninggalkan mereka dengan tatapan tidak percaya dan juga mulut terbuka lebar.
"Pacaran?" Aeleasha terus mengulang kata-kata itu dalam otaknya.
#Hai... Maaf 🙏 karena Aku gak update selama beberapa hari ini, sebagai gantinya aku membuat ceritanya lebih panjang dan sedikit bonus karakter yang aku bilang...
Nama : Alfred Kernes
Umur : 25 Tahun
Tinggi Badan : 176 cm
Berat Badan : 63 kg
Hobby : Rahasia
__ADS_1
#Typo bertebaran