
Aeleasha yang sudah selesai memulihkan dirinya, ini adalah hari keempat dimana dia pingsan selama dua hari. Aeleasha menatap ruang yang bernomor 2304, mendorong pintu dengan pelan agar tidak menganggu pemilik ruangan.
Aeleasha duduk di kursi pengunjung, memperhatikan wajah tenang Aciel. Aeleasha mengulurkan tangannya menggenggam tangan Aciel, Aeleasha sudah tau kalau Aciel masih belum juga sadar selama tiga ini, dia mengetahuinya dari Melisa.
"Aciel, apa tubuhmu tidak sakit berbaring terus." Gumam Aeleasha pelan, memainkan jari tangan Aciel yang lebih besar dari ukuran tangannya.
"Ini sudah tiga hari loh." Lirih Aeleasha, tidak ada respon atau jawaban. Mata Aciel terpejam dengan erat, seolah itu tidak mau terbuka lagi.
"Aciel, kamu harus bangun. Pokoknya bangun tidak ada penolakan." Aeleasha yang mengingat kejadian kemarin terisak-isak.
"Aku mohon bangunlah. Aku janji kalau kamu bangun aku akan menerima lamaranmu." Kata Aeleasha, Aciel membuka matanya dengan lebar. Aeleasha menjerit kaget.
"Benarkah itu? Kamu tidak bisa menariknya lagi." Aciel memegang erat tangan Aeleasha, Aeleasha mengelus dadanya beberapa kali, jantungnya berdetak hebat karena kejutan ini.
"Bukan nya Aciel belum sadar?" Aeleasha menatap Aciel dengan tatapan meminta penjelasan, Aciel tertawa pelan.
__ADS_1
"Aku sudah bangun saat kamu membuka pintu tadi. Aku mengira itu Joe jadi aku pura-pura tidur saja." Goda Aciel, wajah Aeleasha memerah karena malu, berarti semua yang Aeleasha katakan itu didengar Aciel.
"Apa segitunya Aciel ingin membuatku menyatakannya sendiri?" Aeleasha yang geram memukul bahu Aciel.
"Au.. Au.." Rintis Aciel, pukulan Aeleasha tepat mengenai bahu Aciel yang tertembak.
"A-aku tidak sengaja." Aeleasha yang panik maju memeriksa luka Aciel, luka itu sedikit terbuka dan mengeluarkan darah.
"Bagaimana ini?" Tanya Aeleasha panik, Aciel yang melihat kesempatan mengangkat Aeleasha naik keatas kasur dan memeluk Aeleasha erat.
"Aciel apa yang kamu lakukan?" Bentak Aeleasha, Aciel tidak menggubris Aeleasha. Aciel menyisipkan kepalanya dipundak Aeleasha dan bergumam kecil.
"Au... Sakit, apa yang kamu lakukan Aeleasha?" Aciel mengangkat kepalanya dari pundak Aeleasha menatap tepat kedalam mata coklat Aeleasha.
"Apa sih yang Aciel lakukan? Aku menolak lamaranmu, aku akan menerima lamaran dari orang lain saja." Ejek Aeleasha yang mencoba untuk turun.
__ADS_1
"Aeleasha kamu sudah berjanji tadi. Tidak aku tinggal membuat orang itu tidak bisa melakukannya." Aciel tersenyum jahat, membuat Aeleasha merinding mendengar nya.
"Dan juga kamu sudah janji tadi kalau aku bangun kamu akan menerima lamaran." Goda Aciel, Aeleasha dengan cepat memalingkan wajahnya, kini dia rasa wajahnya pasti sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Hei.. Kau, Aciel menjauh kau dari adikku." Teriak Joe berjalan masuk kedalam, sekertaris Nio memilih menutup pintu dan menunggu diluar saja.
Aciel tidak mempedulikan Joe bahkan sekedar melirik Joe tidak Aciel lakukan, dia sibuk mengoda Aeleasha yang wajahnya sudah lebih dari kata merah.
"Dasar manusia tidak be-" Joe terhenti karena mendapatkan lirikan maut dari Aciel, Joe mencibir kesal bibirnya komat-kamit seperti mengucapkan mantra.
"Apa yang membawamu kemari?" Tanya Aciel, Aeleasha dengan cepat turun dari kasur begitu pelukan Aciel melongar.
Aeleasha yang sudah berhasil turun, menjulurkan lidahnya mengolok Aciel, bergegas kabur.
"Awas ajah nanti." Gumam Aciel, Joe mendecak kan lidahnya tidak percaya dengan apa yang dilihat.
__ADS_1
"Hem.. Apa yang membawamu kemari?" Aciel berdehem pelan, berusaha untuk profesional.
"Aku ingin kamu membantuku menyelidiki ini." Joe membuka dan melebarkan dokumen yang dibawanya agar bisa dilihat dengan jelas. Aciel turun dari kasur dan mendekati meja, memperhatikan map yang ada dihadapannya.