Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 25


__ADS_3

"Maaf anda siapa yah?" Tanya Aeleasha bingung, masalahnya dia tidak mengenal siapa pria dingin yang duduk didepannya ini. Aciel mengkerutkan keningnya kesal, entah sudah berapa kali dirinya bilang pada Omanya untuk tidak melakukan perjodohan gila ini.


Aciel tidak akan datang jika saja Omanya tidak mengatakan kalau ini adalah perjodohan terakhir dan Oma berjanji tidak akan meminta Aciel mengikuti perjodohan lagi. Menurut Aciel perjodohan itu sangat memuakkan, waktu itu dia datang keperjodohan yang diatur Omanya tapi yang dirinya temui malah seorang Ibu-ibu.


Putrinya tidak mau dijodohkan, Ibunya datang menemui Aciel berharap kalau Aciel mau datang sendiri, menemui putrinya agar tidak menolak lagi.


"Nona. apa anda tidak diberitaukan orang tua anda, kalau anda itu dijodohkan?" Aciel memasang wajah kesal, Tapi Aeleasha lebih kesal dari pada Aciel yang duduk dikursi yang seharusnya bukan dia tempati.


Aciel melirik jam tangannya, lalu melirik wanita yang ada didepannya yang mulutnya mengerutu tanpa suara. Wanita dengan kacamata bulat, dan rambut yang di ikat kesamping bukanlah tipenya.


"Nona Ria, jangan membuang-buang waktu saya. Jika Anda tidak setuju dengan perjodohan ini silahkan, batalkan." Keluh Aciel muak, Aeleasha yang dari tadi bersabar mulai mengeluarkan amarahnya.


"Hei tuan, Anda itu siapa? Kenapa duduk disini, tidak ada bangku lain apa? " Bentak Aeleasha kesabarannya sudah sampai batas maksimal, tangannya terangkat menunjuk-nunjuk Aciel.


"Nona Ria, apa orang tua anda tidak mengajarkan anda tentang sopan santun." Sindir Aciel, mengangkat gelasnya dan meminumnya.


"Seharusnya saya yang harusnya bilang begitu, karena anda yang tidak sopan." Tegas Aeleasha, "Siapa yang anda panggil Nona Ria?" Imbuh Aeleasha melipat tanganya, dan mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja Anda." Jawab Aciel dengan santai, menurunkan gelasnya dan menaruh pada tempatnya. Aeleasha berdiri dan memukul meja.

__ADS_1


"Anda salah orang tuan saya itu bukan Ria tapi.." Perkataan Aeleasha terpotong karena ada seseorang yang berdiri dibelakang Aciel dan memanggil nama Aeleasha.


"Aeleasha." Panggil Ian, mata Aciel membulat dengan sempurna. Matanya melihat gadis yang ada didepannya dengan tatapan aneh. Aeleasha menghela napas panjang, dan perpindah ke tempat bangku kosong.


"Aku kira itu bukan kamu. Tapi kenapa tiba-tiba kamu pakai kacamata?" Tanya Ian penasaran, Aeleasha melepaskan kacamatanya, duduk dikursi dan menaruh kacamatanya dimeja.


"Sengaja, supaya Kak Ian tidak mengenaliku." Aeleasha tersenyum mengejek, Ian terkekeh kecil. Apa yang Aeleasha katakan benar, jika saja Aeleasha tidak berdiri tadi mungkin Ian tidak akan mengenalinya.


"Maaf Tuan Aciel tadi saya..." Perkataan wanita itu terhenti karena Aciel tiba-tiba berdiri dan melangkah pergi. Wajah wanita itu memerah malu karena sepertinya Aciel tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan.


Aciel menghentikan langkah kakinya, berdiri ditempat duduk Aeleasha dan Ian yang sedang tertawa. Ian dan Aeleasha mengalihkan wajahnya kesamping karena Aciel tidak juga bergerak dari sana juga.


Aciel duduk dikursi yang kosong, karena Ian memilih tempat duduk untuk empat orang. Aeleasha dan Ian saling bertukar pandangan, heran mengapa Aciel malah duduk disana sementara masih banyak bangku kosong lainnya.


"Maaf Tuan Partner anda tengah duduk disana." Aeleasha menunjuk wanita yang ditinggal Aciel.


"Tidak, dia ada disini." Jawab Aciel, menatap Ian dengan tatapan tajam. Mata mereka berdua beradu seperti mengeluarkan sengatan listrik, Aeleasha menelan salivanya dengan kasar.


"Hahaha... Bagaimana kalau kita memesan makanan dulu." Aeleasha tertawa kikuk, suasana sangat canggung. Aeleasha melambaikan tangannya, seorang pelayan wanita berjalan mendekati meja Aeleasha.

__ADS_1


"Kak Ian kamu mau makan apa?" Tanya Aeleasha membuka buku menu, Aeleasha melirik kesamping dan mereka berdua masih tetap bersengit.


"Kak Ian." Panggil Aeleasha menyadarkan mereka berdua, "Ah.. Kamu pesan saja, karena aku yang akan traktir." Imbuh Ian.


"Aku juga sama." Tambah Aciel, Aeleasha hanya meliriknya sebentar lalu kembali fokus ke buku menu. Aeleasha memesan makanan yang menurutnya enak. Mereka bertiga menunggu makanan tanpa berbicara sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Saat makanan sudah dihidangkan mereka hanya memakannya sampai habis, ini tidak sesuai dengan apa yang Ian bayangkan. Disela-sela makan Aciel menyempatkan diri untuk melirik Aeleasha tanpa wanita itu ketahui.


Drett...


Bunyi ponsel Aeleasha, tangannya mengeluarkan ponsel dari tas jinjingnya dan membaca pesan singkat yang dikirim nomor tidak dikenal.


Dokter Aeleasha ini Dokter Andra, Operasi dipercepat karena keadaan pasien mulai memburuk~ Nomor Tidak Dikenal


Aeleasha tiba-tiba berdiri, membuat mereka berdua terkejut sekaligus bingung dengan tindakan Aeleasha yang mengambil tasnya dengan buru-buru.


"Kak Ian maaf, aku harus pergi sekarang. Lain waktu aku yang akan mentraktirmu sebagai permintaan maafku." Kata Aeleasha tidak enak. Kedua tangan Aeleasha ditahan oleh kedua pasang tangan yang berbeda.


"Aku akan mengantarmu." Ian dan Aciel mengatakan hal yang sama secara bersaman. Aeleasha mengkerutkan keningnya bingung dengan tindakan mereka.

__ADS_1


__ADS_2