
Aciel terkejut saat, dia merasakan tangannya basah mengenai setetes air, cuaca sangat cerah tidak mungkin hujan akan turunkan ditengah terik matahari begini? Aciel mengangkat wajahnya, matanya membulat kaget.
"Aeleaaha kenapa kamu nangis?" Tanya Aciel panik, dia makin panik karena Aeleasha menangis makin kencang, bahkan semua perhatian tertuju padanya saat ini.
"Astaga apa pria itu lakukan, sampai-sampai membuat wanita itu menangis?" Bisik mereka satu persatu menatap Aciel dengan tatapan menusuk.
"Hiks... Kakak Aciel jahat." Gumam Aeleasha, Aciel jadi salah tingkah karena perbuataan Aeleasha.
"Hei... Jangan menangis nanti aku bisa dipukul Joe karena membuat adik kesayangannya menangis." Canda Aciel, dia menghapus air mata yang tersisa dipipi Aeleasha.
"Aku benar-benar minta maaf Aeleasha, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku? Aku akan melakukan apa pun." Kata Aciel tanpa sadar kalau itu bisa saja menjadi bumerang baginya.
"Aku tidak pernah memasukan kedalam hati semua perbuatan Kakak karena Dady Jiko juga udah jelasin semuanya." Kata Aeleasha dengan tersenyum geli.
"Jadi Kakak Aciel kalau benci sama orangnya langsung keorangnya saja jangan keorang lain nanti orang itu jadi salah paham." Tambah Aeleasha lagi, bangun dari tempat duduknya melangkah pergi. Aciel menatap Aeleasha yang berjalan pergi dengan tatapan aneh.
Aeleasha membalikkan badannya menghadap Aciel dengan kedua tangannya berada dibelakang sambil berkata, "Aku sudah memaafkan Kakak kok, jadi kakak sudah bisa pergi dengan tenangkan?"
__ADS_1
Aciel menatap Aeleasha dengan tatapan kagum, dia kira kalau Aeleasha tidak akan memaafkan dirinya seperti dia yang tidak memaafkan Ibu tirinya yang sudah menghancurkan hubungan harmonis keluarganya.
Aciel yang baru saja sadar akan perkataan Aeleasha mengangkat kepalanya, "Kamu bilang sudah memaafkanku, berarti kita bisa memulainya dari awal lagi kan?" Tanya Aciel, dia mencoba mengejar Aeleasha yang berjalan sudah jauh.
...****************...
"Kenapa Kak Aciel kemari, Kakak gak kembali keindonesia?" Tanya Aeleasha, meneguk air putihnya, Aciel melipat tangannya dengan wajah serius.
"Aku mana bisa pulang kalau kamunya ada disini." Ungkap Aciel dalam hati kecilnya.
"Kak?" Tanya Aeleasha sambil melambaikan tangannya didepan wajah Aciel.
"Jawaban apa? Aku tidak akan setuju kalau kamu mau membawa adikku." Tegas Joe, menyipitkan matanya menatap Aciel dengan tatapan tajam.
"Akh..." Keluh Joe, saat dia merasakan kalau ada seseorang yang memukul kepalanya, Joe membalikkan badannya melihat kebelakang. Keneraniannya menghilang ketika melihat Wili yang tersenyum horor.
"Dasar Kakak bodo, kamu pikir adikmu akan selalu bersamamu. Dia juga perlu masa depan,
__ADS_1
dia akan menikah dan mempunyai keluarga kecil sendiri." Kata Wili, mengelus kepala Aeleasha, tapi Aeleasha menahan tangannya dan mengerucutkan bibirnya.
"Apa yang Dady katakan? Aku akan selalu bersama dengan Dady dan Kakak Joe." Ungkap Aeleasha dengan nada yang kesal, Wili tersenyum bahagia.
Di Tempat Lain
"Dasar tidak berguna!!" Teriak seorang pria, dia melemparkan asbak rokok mengenai wajah salah satu pria berpakaian hitam,sedang berlutut didepannya.
"Ma-Maaf Tuan muda." Kata Pria yang memiliki luka bakar ditangan kanannya, tiga pria lain yang ada dibelakangnya bergemetaran dengan hebat.
"Aku menyuruh kalian menjaga dan mengawasinya dengan baik tapi apa dia mengalami keracunan. Jadi kalian juga harus merasakannya juga." Kata Pria itu sambil menjentikkan tangannya, ada seorang pria yang membawa mangkuk putih dan memberikan mangkuk itu padanya.
Pria itu menyeringai jahat, matanya yang tajam tengah menyaring siapa yang pantas dan cocok meminumnya. Matanya menangkap pria yang paling ujung dan mendekatinya.
"Tuan Muda tolong berikan kami satu kesempatan lagi." Kata pempin mereka, Tuan muda itu berhenti bergerak, dia melempar mangkuk itu kesembarangan arah.
"Bunuh wanita itu dengan kejam, sampai keluarganya tidak bisa mengenali wajahnya itu. Oh... Dan buang jasadnya ditempat yang mudah ditemukan polisi." Kata Pria itu tersenyum senang, tangannya memutarkan pisau lipat.
__ADS_1
"Siap Tuan Muda." Jawab mereka dengan kompak, segera meninggalkan ruangan itu.