
Aciel melirik Aeleasha yang melamun, sedikit berdehem mencari perhatiannya tapi Aeleasha tidak meliriknya sama sekali.
"Apa yang dia pikirkan?" Tanya Aciel dalam hatinya, tidak suka dengan keheningan ini.
Aciel mencoba berdehem sekali lagi, dia tetap mendapatkan respon yang sama. Dirinya benar-benar dilupakan sekarang karena sikap Aeleasha.
Aciel hanya bisa menghela napas berat, sedikit menambah kecepatan mobil. Udaranya terasa menipis karena kesunyian dan pengabaian dari Aeleasha.
Ciitt...
Mobil Aciel berhenti, Aeleasha yang merasa mobil berhenti bergerak. Mengira dirinya sudah sampai dirumah, bergegas keluar dari mobil. Didepannya tidak ada rumahnya hanya ada hamparan laut dan pegunungan yang luas.
Aciel bersandar pada mobilnya, memperhatikan Aeleasha yang kebingungan, dia terus memperhatikan wajah kebingungan itu seperti sebuah tontonan yang sangat menyenangkan tanpa disadari sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Kita ada dimana?" Tanya Aeleasha dengan wajah polos, kepalanya celingukan Memperhatikan dan mengamati sekelilingnya yang penuh dengan tanaman hijau.
"Entahlah..." Jawab Aciel mengangkat kedua tangannya tidak tau, kepalanya sedikit miring memperhatikan ekspresi Aeleasha.
__ADS_1
"Hah?" Aeleaaha meragukan pendengarannya sekarang, yang membawanya kesini adalah Aciel masa dia tidak tau dimana ini.
"Hahaha..." Aeleasha menjadi kesal, tidak ada yang lucu sehingga bisa membuat Aciel tertawa sangat lepas begitu.
"Kakak..." Panggil Aeleasha, suaranya terdengar serius dan penuh dengan ancaman. Aeleasha memasang wajah serius, Aciel berdehem lalu berjalan pergi kekursi mobil belakangnya.
Aeleasha sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang Aciel lakukan disana. Sebuah Kue coklat, yang dibawa keluar Aciel dari dalam sana. Aciel tersenyum berjalan mendekati Aeleasha yang mencoba memahami situasi.
"Kenapa ada Kue?" Tanya Aeleasha dalam hatinya, matanya melihat ada tulisan diatasnya yang tidak lain adalah happy birthday Aeleasha Brewster.
"Selamat Ulang Tahun Aeleasha." Aciel menyodorkan kue itu kepada Aeleasha, "Ini sedikit lebih cepat karena rencana tadi gagal." Ungkap Aciel, tangannya memegang lehernya. Bingung bagaimana menjelaskan situasi yang sangat mendadak ini.
Tanpa Aciel sadari telinganya memerah, Aeleasha yang melihatnya tertawa lepas. Disaat bersamaan angin datang menerpa wajah Aeleasha, membuat rambutnya yang terikat kini menjadi bertaburan dan berterbangan kemana-mana. Anak rambutnya sedikit menghalangi wajah Aeleasha, Aciel terhipnotis dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Aku harap waktu berhenti bergerak sekarang." Gumam Aciel dengan sangat pelan.
"Kakak, Apa kamu tidak rela memberikannya padaku?" Goda Aeleasha, sudah dari tadi dia memegang kue itu tapi Aciel tidak juga melepaskan tangannya juga.
__ADS_1
"Ah..." Aciel yang baru sadar segera melepaskan tangannya, mengalihkan matanya ketempat lain. Aeleaaha yang hendak duduk langsung dihentikan oleh Aciel.
"Tunggu sebentar..." Aciel berjalan dengan cepat kebagasi mobilnya, mengeluarkan karpet piknik dan membentangkannya.
"Duduklah." Perintah Aciel, Aeleasha duduk diatas karpet. Aciel juga mengeluarkan sebuah keranjang.
"Sepertinya ini memang sudah direncanakan." Batin Aeleasha menatap setiap perlengkapan piknik yang ada.
"Ini adalah tempat kesukaanku." Aciel menatap langit biru yang bertaburan dengan awan, bola mata Aeleasha sedikit melirik Aciel yang menggunakan kedua tangannya menopang tubuhnya menikmati udara.
"Tampan." Ungkap Aeleasha dalam hatinya, jantungnya mendadak berdetak sangat cepat, Aeleasha merasa Aciel pasti bisa mendengarnya karena jantungnya mengeluarkan suara yang sangat keras.
Aeleasha mengelengkan kepalanya, tangannya mengipasi wajahnya yang memanas padahal udara sejuk sekali. Dia memotong kue dan memasukkannya kedalam mulutnya, coklat yang berada didalam mulut Aeleasha langsung meleleh.
"Ini sangat enak." Matanya berbinar senang, Aciel tersenyum senang akan tangapan Aeleasha. Aeleasha segera menghabiskan potongan kuenya tapi keningnya sedikit berkerut karena Aciel tidak menyentuh kuenye sama sekali.
"Kakak kena-" Aeleasha belum menyelesaikan perkataannya matanya tiba-tiba mengelap dan tertutup dengan rapat.
__ADS_1