Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 111


__ADS_3

Bibir Aeleasha mengerucut kesal, Aciel tidak mengalami hal sulit seperti Aeleasha. Dia hanya tinggal mencocokkan ukuran tubuhnya dan warna sesuai dengan gaun Aeleasha yang tadi.


"Sekarang kita menuju toko perhiasan." Kata Aciel, menggenggam tangan Aeleasha dengan erat.


Begitu mobil Aciel berhenti didepan toko, semua karyawan berkeluaran menyambut kedatangan Aciel dan Aeleasha.


"Selamat datang Tuan Muda Aciel." Kata mereka dengan kompak, membungkukkan badan sopan. Aeleasha melirik Aciel yang berjalan membawanya masuk kedalam.


"Aciel, kenapa mereka begitu?" Bisik Aeleasha pelan-pelan, Aciel tertawa pelan, mencubit hidung Aeleasha yang mancung gemas.


"Tentu saja karena toko ini adalah punya Momyku, dan bentar lagi akan menjadi Momymu juga." Jelas Aciel.


Seorang wanita dengan kacamata hitam melekat di wajahnya, duduk bersila memperhatikan interaksi Aciel dan Aeleasha. Mata Wanita itu membelak kaget saat melihat Aciel yang tertawa bebas.


Wanita itu bangkit berdiri, melangkah mendekati kedua pasangan yang sibuk dengan dunia mereka. Wanita itu berdehem keras agar Aciel sadar kalau ada orang disampingnya, dia juga melepaskan kacamatanya. Aciel mengalihkan tatapannya tertuju pada wanita itu.


"Momy?" Panggil Aciel, wanita yang Aciel panggil dengan sebutan Momy itu tersenyum lembut, namanya tidak lain adalah Enika.

__ADS_1


Mata tajam Enika melirik ke sisi kanan Aciel, dimana Aeleasha berdiri. Aeleasha tersenyum kaku tidak tau harus melakukan apa.


"Apa ini menantuku, cantik sekali." Puji Enika tanpa basa-basi, memukul bahu Aciel.


"Jadi ini alasan kenapa kamu selalu menolak perjodohan dari Oma." Enika tertawa memamerkan gigi putihnya.


Enika tersenyum nakal, dia menarik tangan Aeleasha menjaga sedikit jarak dari Aciel.


" Nak, kamu sangat tidak beruntung menikah dengan yang hanya tau bekerja ini." Enika menepuk bahu Aeleasha, Aeleasha yang tidak paham melirik Aciel. Aciel berdecak kesal, menutupi wajahnya dengan satu tangannya.


"Momy." Aciel menarik Aeleasha kedalam pelukannya dan memeluknya penuh dengan keposesifan. Enika tertawa senang, akhirnya dia berhasil memprovokasi Aciel.


"Maaf yah, Momy hanya ingin mengetes apa dia itu serius apa tidak." Goda Enika lagi, Aciel melototkan matanya tidak suka.


"Apa sekarang kamu bisa melepaskan menantu Momy? Momy mau mem-"


"Tidak akan." Aciel makin mengeratkan pelukannya, Aeleasha bingung sekarang dia tidak paham apa pun, kepala sedikit pusing.

__ADS_1


Enika menutup mulutnya, berjalan mendekati meja yang penuh dengan perhiasan, Aeleasha menepuk tangan Aciel berharap dia bakal melongarkan pelukannya walau pun sedikit.


"Aelea, jangan dengarkan apa yang Momy katakan, semua itu tidak benar." Aciel menangkup kedua pipi Aeleasha agar mata mereka bisa ketemu.


"Momy bisa mendengarnya." Teriak Enika, Aciel menutup kedua telinga Aeleasha, kepala Aciel menggeleng tidak setuju.


Aeleasha terkekeh, semua rasa lelahnya lenyap begitu saja, Enika membawa sebuah kotak perhiasan dan memberikannya pada Aeleasha.


"Ini hadiah dari Momy, khusus untuk menantuku yang cantik." Aciel langsung mengambil kotak perhiasan, menatap Enika dengan tatapan selidik.


"Kalau begitu sampai jumpa sayang." Enika melambaikan tangannya, berjalan pergi. Mendadak suasana hati Aciel menjadi buruk, dia mau segera pergi dari toko ini secepat mungkin.


"Antarkan saja cincin yang tadi kami lihat ke alamat ini." Aciel memberikan kartu perusahaan, menarik tangan Aeleasha keluar dari toko.


Aciel menyandarkan kepalanya dibahu Aeleasha begitu mereka duduk didalam mobil, Aeleasha yang mengangkat tangannya ingin menyentuh rambut Aciel terhenti karena mendengar suara yang familiar.


"Dasar Anak muda, apa kalian harus terus memamerkan kemesraan kalian disini juga?" Goda Enika yang duduk dibangku belakang.

__ADS_1


__ADS_2