
Joe sudah membawa Dokter David dan dokter David juga sudah selesai melakukan pemeriksaan. Joe yang melihat Aciel mematung menariknya keluar dari ruangan itu karena Dokter David, mengatakan kalau pasien perlu istirahat dan dia mau mengatakan sesuatu.
"Dokter Aeleasha, tidak mengalami masalah serius hanya saja kecelakan tadi membuat ingatannya yang sudah dikubur kini kembali lagi. Jadi efek obat penghilang ingatan sudah hancur semua." Jelas Dokter David panjang lebar.
"Obat penghilang ingatan?" Ulang Wili, dia lalu mengalihkan tatapan tajamnya kearah Joe, matanya seakan mau mengeluarkan laser yang siap memotong tubuh Joe.
"Dasar bodo, kenapa kamu memberikan obat itu hah? Kamu mau membuat Aeleasha sebagai kelinci percobaan." Bentak Wili, tangannya menjambak rambut Joe saking geram dan kesalnya dia.
"Akh... Sakit." Renguh Joe, Wili melepaskan jambakannya tapi tatapan matanya masih tajam seperti pisau.
"Sesuai dengan dugaanku, Aku sudah curiga saat dia mengatakan obat penghilang ingatan pada waktu itu." Gumam Aciel dalam hatinya, tangannya terangkat menyentuh wajahnya yang sedang sangat serius.
"Ha... Aku sudah bilang padamu untuk jauh-jauh dari pasar gelap itu tapi kenapa kamu sangat pembangkang?" Wili menghela napas panjang, Joe tidak berani mengangkat wajahnya.
Joe ingat kalau dia sudah pernah berjanji pada Wili kalau dia tidak akan menginjakkan kakinya ditempat itu lagi, Maka dia bisa tetap berada diindonesia.
__ADS_1
"Maaf..." Kata Joe dengan sangat pelan, rasa bersalah menyelimutinya. Wili hanya bisa mengelengkan kepalanya pusing.
...****************...
Kondisi Aeleasha makin membaik kian hari, kini dia tengah duduk bersandar diatas kasur. Menikmati pemadangan bunga yang yang menghiasi ruangannya itu.
Tok...tok...
Aeleasha mengalihkan wajahnya kearah pintu, yang memperlihatkan sebuah kepala yang sedang menyelinap dibalik pintu dengan senyuman hangatnya.
Aciel makin melancarkan aksinya untuk mendekati Aeleasha, dia tidak akan membuat kesalahan lagi dan kini Joe dan Wili makin overprotektif pada Aeleasha mereka tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.
3 Hari yang lalu
Aciel tengah menemani Aeleasha yang sedang duduk ditaman rumah sakit, lebih tepatnya Aciel mengajak Aeleasha keluar untuk menghirup udara segar dan ada juga yang mau dia katakan pada Aeleasha.
__ADS_1
Aciel memperhatikan Aeleasha yang duduk disampingnya tengah memperhatikan dan menikmati suasana taman yang sedang sejuk.
Aciel bangun dari berdirinya kini dia berdiri didepan Aeleasha, Aeleasha menatap Aciel bingung.
Aciel mulai berjongkok didepannya, dia juga merah tangan Aeleasha. Dia mencoba mengulas senyuman terbaik miliknya, mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Aeleasha jika wanita itu tidak akan memaafkannya.
"Aeleasha Alister tidak.. Lebih tepatnya Aeleasha Brewster, Aku Aciel Aarava Carnier ingin meminta maaf padamu, walaupun perbuatanku itu sudah lewat 7 tahun yang lalu." Kata Aciel dengan tersenyum kecut, dia tidak tau harus berekspresi seperti apa.
"Aku meminta maaf dengan hatiku yang paling tulus, perbuataanku tidak akan cukup dengan kata maaf saja... tapi aku hanya berharap kamu mau memaafkan aku." Aciel mengigit bibir bawahnya, dia tidak ada keberanian untuk mengangkat wajahnya.
Tulang lehernya terasa sangat lemas, sehingga dia tidak bisa mengangkat wajahnya hanya sekadar memperhatikan ekspresi Aeleasha saja.
"Apa kita bisa memulai semua itu dari awal lagi? Tapi jika kamu tidak ingin, aku akan berusaha sebisaku untuk tidak muncul didepanmu lagi." Lirih Aciel, tangannya makin erat menggengam tangan Aeleasha.
Tes...
__ADS_1