
Mobil putih milik Joe melintasi hutan-hutan, didalam mobil hanya terdapat empat orang. Wili sangat cemas dan khawatir dengan situasi beserta kondisi Aeleasha dan Melisa.
Mobil itu berhenti didepan pohon yang tinggi yang mungkin sudah berumur ratusan tahun, Joe melepaskan sabuk pengamannya, mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya.
Melempar masing-masing satu orang, Wili yang melihat pistol melebarkan matanya menatap Joe dengan tatapan aneh. Nio yang dibawa secara paksa membuka pistol dan ternyata pistol itu berisi, dia kira Joe tengah mempermainkan dirinya.
"Hei... Ini tidak seperti yang aku pikirkan,kan?" Nio memiringkan kepala, Joe hanya menatapnya.
"Tuhan, kenapa kamu memberikan bos seperti padaku?" Tangis Nio dalam hati kecilnya, Joe mulai menjelaskan rencananya dengan jelas dan rinci.
Mereka turun dari mobil begitu tidak ada pertanyaan yang mau diajukan, mereka langsung berpisah ketika bayangan rumah tua itu mulai kelihatan jelas. Joe bersama Wili memasuki pintu depan yang dijaga dengan ketat oleh beberapa orang, sedangkan Aciel bersama Nio menyelinap masuk melalui belakang.
"Wah.. Wah.. Aku tidak mengira kalau kalian benar-benar akan datang." Liam tertawa bahagia, mengangkat tangannya keatas, "Dasar bodoh." Maki Liam, Joe yang melihat kondisi Aeleasha dan Melisa diikat marah mencoba maju, dihalangi Wili.
Wili menggelengkan kepalanya tidak setuju, Joe menggertak kesal. Liam tersenyum mengejek, mundur beberapa langkah dan berdiri ditengah dimana disisi kirinya adalah Aeleasha dan kanannya adalah Melisa yang menatap ke arah Wili dan Joe.
"Apa yang kamu inginkan Liam, aku akan memberikannya padamu, jadi lepaskan Melisa. dengan Aeleasha." Teriak Wili, kakinya ingin melangkah maju, terhenti melihat pistol yang di arahkan ke kepala Melisa.
"Apa begitu caramu bernegoisasi?" Liam tertawa senang, ini pertama kalinya dia melihat wajah Wili yang menghitam menengang tidak berani bergerak.
__ADS_1
"Ayolah Kak, keinginanku itu tidak sulit hanya ingin mendapatkan perusahan milikmu." Liam menyimpan kembali pistolnya.
"Ambillah aku tidak membutuhkannya sama sekali." Wili mengepalkan tangannya, Joe yang sudah kehabisan kesabarannya berjalan maju.
"Hei... Joe kalau kau memang tidak sayang adikmu aku tidak akan segan-segan lagi." Ancam Liam mengarahkan pistol tepat ke kepala Aeleasha.
Joe mengeram marah, Aeleasha yang mulutnya ditutupi dengan kain tidak bisa berbicara hanya bisa memberontak.
"Tapi itu keinginan lamaku, sekarang aku hanya ingin melihatmu hidup menderita." Megeluarkan salah satu pistolnya dan mengarah kearah Melisa, kini dua pistol mengarah tepat didua kepala yang berbeda.
"Kamu pilih putrimu atau Istrimu?" Imbuh Liam, senyuman liciknya terbit diwajahnya matanya menatap rendah Wili. Wili menurunkan kedua kakinya berlutut, Joe yang tidak setuju menghentikan Wili.
"Apa tidak cukup kamu membunuh anak keduaku? sekarang kamu ingin membunuh putriku juga?" Tanya Wili, Liam tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Jangan salahkan aku kakak. Aku hanya iri padamu yang selalu disayang sama ibu dan ayah, mendapatkan semua yang aku inginkan tanpa harus berusaha." Liam berjalan menjauh dari kursi mendekati Wili dan Joe. Liam menatap Joe dengan tatapan dingin, berjalan melewati Joe.
Aciel segera berlari mendekati kursi melihat ada kesempatan yang bagus diikuti Nio dibelakang, mulai membuka ikatan tali. Aeleasha yang merasa ada yang menyentuh tangannya kaget, melirik kebelakang.
"Ayo, tante kita harus pergi dari sini dulu." Bisik Nio, menarik Melisa ketempat yang gelap, Joe bernapas lega melihat semuanya. Liam yang masih tidak sadar terus mengancam Wili.
__ADS_1
"Kamu harus cepat kakak kalau tidak, tidak akan ada yang akan selamat." Liam mengalihkan tatapannya ke kursi, mata terbuka lebar melihat Aeleasha yang sudah lepas dari ikatan talinya.
"B*******." Maki Liam mengacungkan pistolnya ke Aeleasha, Wili bergerak dengan cepat memeluk Liam dari belakang.
Dor..
Suara tembakan pistol tepat mengarah keatas, Liam menusuk perut Wili menggunakan sikunya, terus memberontak ingin lepas. Joe membawa tali untuk mengikat Liam, dan menutup bibirnya dengan lakban hitam.
"Sayang." Wili berlari ketempat dimana Melisa berada, Joe berdecak pinggang memperhatikan Aciel yang sibuk memperhatikan kondisi Aeleasha.
Dor...
tambakan tepat mengenai lengan kiri Joe, Joe menjerit kesakitan. Aeleasha dan Aciel yang melihatnya bergegas berlari mendekati Joe.
"Argh.. "Rintih Joe meremas lengannya, Aeleasha menarik dasi yang dipakai Joe dan mengikatnya dengan kencang agar darah tidak mengalir terus.
Aciel mengangkat kepalanya, Liam sudah lepas dari ikatannya dibantu dengan anak buahnya, Liam mengacungkan moncong pistol pada Aeleasha yang sibuk mencoba melakukan pertolongan pertama pada Joe.
Dor...
__ADS_1