Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 68


__ADS_3

"Aku sehat, sangat sehat." Jawab Jiko, Aeleasha tersenyum senang mendengar jawaban Jiko. Walaupun dia tidak bersama dengan Jiko selama 7 tahun lamanya tapi dalam hatinya dia sangat merindukan Dady angkatnya ini.


"Apa kamu sehat selama ini, Aeleasha." Jiko menatap Aeleasha dengan tatapan Lirih, dia tidak bisa menjaga satu-satunya kenangan dari Istri tercintanya Dea dengan baik, bukan menjaganya dia malah meretakkannya.


Aeleasha tidak bisa menjawab perkataan Jiko, matanya sudah berkaca-kaca, dia ingin sekali memeluk Jiko dan menumpahkan isi hatinya selama 7 tahun ini.


"Aeleasha, Papa harap kamu jangan memaafkan papa, Kamu harus membenciku." Jiko tersenyum pedih, Aeleasha langsung mengangkat kepalanya. Dia tidak bisa melakukannya, dia sudah mencoba membenci Jiko karena menjualnya tapi hatinya tidak bisa.


"Papa tidak bisa menolongmu walaupun Fika menyakitimu. Papa macam apa aku ini? Hanya bisa mengusir putrinya pergi dari rumah." Jiko memukul dadanya yang sesak, melihat cairan bening yang mengalir dipipi Aeleasha. Jiko sontak langsung berdiri menghampiri Aeleasha dan menghapus air mata Aeleasha.


"Lihat aku hanya bisa membuatmu menangis." Kata Jiko, tanpa dia sadari ternyata air matanya juga ikut mengalir. Aeleasha mengelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan perkataan Jiko.

__ADS_1


"Papa itu orang yang paling baik.. yang pernah aku temui hik." Aeleasha mengusap air mata Jiko, Jiko memeluk Aeleasha dengan sangat erat, dia tidak akan memaafkan dirinya yang dulu.


"Aku rela mati, jika kamu bisa bahagia." Kata Jiko dalam hatinya, dia tidak bisa membuka mulutnya padahal banyak yang ingin dia katakan pada Aeleasha yang baru dia temui setelah 7 tahun lamanya.


"Papa sangat merindukanmu." Ungkap Jiko, Aeleasha hanya bisa mengangukkan kepalanya. Air matanya terus mengalir, dulu dirinya sempat berpikir kalau dia tidak akan mempunyai kesempataan untuk bertmu dengan Jiko lagi.


"Aku juga merindukan Papa." Tangis Aeleasha dalam pelukkan Jiko, dia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


Mereka berdua mengangis dalam pelukkan, Jiko sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan Aeleasha setelah seminggu datang kesini dan dia berhasil menemukan Aeleasha.


"Aeleasha apa kamu sudah mendengar kabar tentang kematian Fika?" Tanya Jiko, memperhatikan wajah Aeleasha.

__ADS_1


Deg..


Jantungnya mendadak memompa lebih cepat dari biasanya, Jiko sangat yakin kalau Aeleasha tidak mengetahui hal ini karena dia juga baru mengetahuinya setelah tidak sengaja berpapasan dengan Bea ditengah jalan.


Aeleasha mengelengkan kepalanya, sekarang dia mengerti apa maksud yang Bea katakan. Jiko mengenggam tangan Aeleasha yang terletak diatas meja.


"Kamu harus berhati-hati Aeleasha. Papa memasukkan Bea kerumah sakit jiwa karena mengalami dia mengalami shock yang berat atas kematian Fika. Papa takut kalau, dalam hatinya dia menuduhmu yang membunuh Fika." Jelas Jiko panjang lebah, dia tidak bisa kehilangan utuk yang ketiga kalinya.


"Baiklah Papa."Jawab Aeleasha sambil mengulas senyuman diwajahnya. Jiko tersenyum lega, melihat wajah Aeleasha yang baik-baik saja.


"Papa harap kamu menemukan seseorang yang benar-benar menyayangi dan mencintaimu Aeleasha, hanya itu saja keinginanku." Jiko mengelus rambut Aeleasha seperti dimana hari dia menyuruh Aeleasha keruang kerjanya.

__ADS_1


Blush


Wajah Aeleasha memerah, mendengr perkataan Jiko. Dipikirannya malah muncul wajah Aciel yang sedang tersenyum hangat padanya. Aeleasha menepuk pipinya beberapa kali agar wajah itu segera pergi dari pikirannya.


__ADS_2