Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 79


__ADS_3

Aeleasha terbangun, duduk bersila mulai merenggangkan otot  tubuhnya. Matanya melirik ke jendela yang memancarkan cahaya langit senja. Aeleasha segera turun dari kasurnya berjalan mendekati pintu balkon dan membukanya, sehingga angin senja menerpa wajahnya.


“Sangat indah.” Puji Aeleasha yang berdiri di balkon memperhatikan langit senja yang berwarna pink bercampur dengan orange di sekitar matahari yang mulai terbenam. Angin senja terus menerpa wajah dan rambut Aeleasha, Aeleasha yang sibuk menikmati pemandangan alam, membiarkan rambutnya diterpa angin.


Senyuman menghiasi wajah Aeleasha, rasa lelahnya menghilang seiring angin yang menerpa wajah. Merasa sudah puas menikmati pemandangan Aeleasha masuk kembali ke dalam kamarnya, dia juga tidak lupa untuk mengunci balkon. Aeleasha berjalan keluar dari


kamar menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


Aeleasha mempercepat langkah kakinya, hidungnya mencium bau makan yang sangat enak. Terlihat di dapur ada dua pria yang sibuk di dapur membuat makanan. Aeleasha berjalan dengan pelan-pelan mendekati meja, mereka sangat fokus sampai-sampai tidak menyadari kalau Aeleasha tengah duduk memperhatikan kesibukan mereka.


“Aciel, kamu bisa ke lantai atas membangunkan Aeleasha.” Joe yang sibuk membolak-balikkan sayuran yang dimasaknya, Aciel menatapnya dengan tatapan kesal. Dia masih belum membalas perbuatan Joe tadi.


“Aku sudah disini.” Imbuh Aeleasha menatap mereka berdua, Joe dan Aciel mengalihkan pandangan mereka ke belakang. Aeleasha yang belum pernah melihat penampilan mereka memakai celemek tertawa terutama Aciel, penampilan mereka terlihat sangat berantakan.


“Sejak kapan kamu ada disitu?” Tanya mereka serentak, Joe dan Aciel saling menatap mengeluarkan tatapan tajam masing-masing.


"Sudah dari tadi." Jawab Aeleasha, seketika membuat Joe dan Aciel terdiam. Mereka berdua saling melirik satu sama lain.


"Haha... Kalau begitu, kita makan dulu saja." Joe tertawa canggung, mulai menyajikan makanan yang dibuatnya bersama Aciel.


Aeleasha menatap makanan yang disajikan dengan mata ragu-ragu, makanannya mengeluarkan aura hitam yang aneh dan tataannya sangat berantakan. Aeleasha melirik Joe dan Aciel yang menatap dirinya dengan tatapan berbinar.


"Haha.. Entah kenapa perutku sangat kenyang." Aeleasha mendorong piring yang ada di depannya sedikit menjauh.

__ADS_1


"Kok bisa? Dari tadi Kan kamu belum makan apa-apa jadi jangan berbohong." Selidik Joe, mendorong kembali piring itu didepan Aeleasha.


Aeleasha menelan salivanya dengan kasar, dirinya terbebani dengan tatapan penuh harapan dari mereka berdua. Tangan Aeleasha mengangkat sendoknya, mencoba memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.


"Enak." Ungkap Aeleasha, Seketika senyuman menghiasi wajah Joe dan Aciel. Aeleasha terus mengunyah makan, memiringkan kepalanya memperhatikan makanan yang memiliki penampilan dan rasa yang berbeda ini.


"Kak-" Perkataan Aeleasha terpotong karena suara ponsel Joe yang terletak pada meja berdering dengan keras.


Drettt...


Semua perhatian langsung tertuju pada ponsel Joe, Aeleasha menatap Joe dengan tatapan bingung saat Joe mengangkat teleponnya dan berjalan sangat jauh dari Dirinya dan Aciel.


"Hallo, Dady ada apa?" Tanya Joe langsung pada tujuannya.


"..."


"..."


"Baiklah, aku akan bersiap-siap." Jawab Joe, memasukkan tangannya kedalam saku celananya.


Selesai dengan teleponnya Joe berjalan menghampiri Aciel dan Aeleasha yang menatapnya dengan tatapan penasaran. Joe yang baru duduk langsung diserbu dengan bermacam-macam pertanyaan dari Aeleasha.


"Siapa yang menelepon? Apa itu Dady? Apa yang dia katakan? Apa Dady menyuruh kakak ke Singapura? Tapi untuk apa?" Tanya Aeleasha langsung.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa bertanya satu-satu?" Tanya Joe balik, Aeleasha hanya tersenyum polos pura-pura tidak tau.


"Iya, semua pertanyaanmu itu benar." Imbuh Joe setelah menghela napas panjang,


"Tapi sayangnya hanya aku yang boleh pergi, dan sedangkan kamu harus jaga rumah." Joe menyentil kening Aeleasha, sehingga membuat Aeleasha meringis kesakitan.


"Apasih." Keluh Aeleasha mengelus keningnya, dia berdiri dari kursinya meninggalkan dapur dengan perasan kesal.


Seketika suara tawa mengisi dapur, Joe dan Aciel tertawa bersamaan melihat tindakan Aeleasha yang menurut mereka sangatlah imut.


"Aciel." Joe memanggil nama Aciel dengan wajah serius seakan seperti bukan dirinya, mengubah suasana di dapur menjadi dingin.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2