
"Tunggu." Joe menghentikan pemimpin untuk menghitung jumlah, "Aciel sudah disini kenapa tidak membiarkan orangnya mengatakannya sendiri." Imbuh Joe tangan menunjuk kearah pintu.
Pintu kaca yang dibuka memperlihatkan siluet seorang pria gagah dan tampan memasuki ruangan, Joe bernapas lega melihat Aciel yang duduk dikursi yang sudah disiapkan, posisinya tepat disebelah Joe.
"Kukira kamu tidak akan datang." Ledek Joe, dengan berbisik-bisik. Liam yang melihat interaksi antara Joe dan Aciel sadar kalau Aciel tidak akan berada dipihaknya.
"Saya mendukung Tuan Joe." Ucap Aciel plin-plan, terus terang. Mata elang Aciel melirik Liam, tatapan maut terasa sangat menusuk.
Aciel tidak akan telat datang hari ini, kalau saja ban mobilnya tidak bocor dan ditengah perjalan an dihalangi beberapa gangster yang pasti sudah diutus oleh Liam.
"Baiklah , kalau begitu keputusan akhir dari rapat ini adalah Tuan Muda Joe yang akan memegang kendali perusahaan selama 5 tahun kedepan." Jelas pemimpin acara, begitu pengumumannya selesai semua orang mulai meninggalkan ruang rapat satu persatu.
Liam menggertakkan giginya geram, keluar dari ruangan dengan muka penuh amarah. Joe tertawa bahagia melihat wajah marah Liam yang penuh dengan kerutan.
"Kenapa Aciel bisa disini?" Gumam Aeleasha, Wili yang menunggu diluar, langsung memeluk Joe begitu mereka keluar. Joe yang dipeluk menjadi kaku, Aeleasha dan Aciel tertawa pelan.
__ADS_1
"Kerja bagus nak." Puji Wili, menepuk pelan kepala Joe, Joe yang malu mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
"Apa Dady gak mau merayakan?" Saran Aeleasha, "Bagaimana kalau kita pergi ke restoran kesukaan Kak Joe." Imbuh Aeleasha, setelah berpikir sejenak.
"Ide yang bagus. Kita jemput Momy dulu." Joe terlihat bersemangat, Wili dan Aeleasha terkikik lucu, mereka berjalan keluar dan meninggalkan perusahan menuju rumah.
Mobil milik Wili berhenti tepat didepan rumah, Wili hendak turun dari mobil tetapi dihentikan Aeleasha lebih dulu.
"Biar aku saja yang memanggil Momy." Kata Aeleasha, begitu turun dari mobil Aeleasha langsung berlari masuk kedalam rumah.
"Kya..." Teriakkan Aeleasha membuat semua orang kaget, Joe dan Aciel saling melemparkan tatapan dengan cepat turun dari mobil berlari masuk kedalam.
Wili juga ikut turun, berlari kedalam rumah. Mata Joe, Aciel dan Wili membesar tidak percaya, Aeleasha yang berdiri, kakinya mendadak menjadi lemas, lalu terduduk di lantai, tatapan matanya linglung.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Wili tidak percaya dengan apa yang didepannya, ekspresi berbeda tampil diwajah masing-masing.
__ADS_1
Aciel berjalan mendekati seorang yang terduduk dilantai bersandar pada sofa dengan mata terbuka dan darah segar berceceran dilantai. Joe menghampiri Aeleasha, mencoba menenangkan Aeleasha yang menangis segukkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa semua pembantu dan pengurus rumah dalam keadaan begini?" Joe berdiri memperhatikan kondisi rumah yang sangat kacau dan berantakan.
Darah berceceran di lantai marmer putih, sofa dalam keadaan rusak penuh dengan lubang tembakan. Vas kaca kesayangan Melisa juga pecah berkeping-keping.
"Melisa." Wili menyentuh keningnya, dia baru ingat kalau Melisa ada dirumah hari ini. Wili mulai panik, berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Aciel, kamu tolong cek halaman belakang aku akan kedapur." Perintah Joe berlari kedapur, Aciel pindah ke halaman.
Aeleasha menatap Bibi Nini yang membuatkan sarapan pagi untuknya dengan senyuman keibuannya kini dalam keadaan mengerikan dimana darah merah ada disekitarnya.
"Bibi Nina?" Panggil Aeleasha, menggenggam tangan Bibi Nina, mata Aeleasha membelak tidak percaya kalau denyut nadinya masih berdetak walau sangat lemah.
"Nona?" Aeleasha yang menunduk mengangkat kepalanya, air mata berlinang dikelopak matanya,"Nona, kamu harus pergi dari sini sebelum Tuan Liam melihat anda." Ucap Bibi Nina, suara nya serak menahan rasa sakit.
__ADS_1
Bibi Nina terus mendorong Aeleasha menjauh dari dirinya dan yang benar saja Liam berdiri didepan pintu tersenyum ramah tamah, tiga orang pria berjalan masuk kedalam ruangan.