
Seorang pria dengan penampilan yang kacau, mengenggam tangan yang ukurannya lebih kecil darinya. Pria itu mengecup tangan itu sebentar lalu berahli ke wajah pemilik tangan yang dia genggam itu.
Aciel hanya bisa tersenyum pahit, melihat mata Aeleasha yang tertutup rapat dengan bibir yang mulai kering.
"Hei... Aeleasha kapan kamu mau bangun?" Tanya Aciel mendekatkan tangan yang digenggamnya kewajahnya, matanya menatap Aeleaaha dengan tatapan sendu. Tapi tidak sahutan atau respon dari Aeleasha.
"Maaf... Seharusnya aku tidak langsung menceritakan semuanya." Kata Aciel tanpa sadar kalau ada seorang yang sedang mendengarkan ucapannya.
Joe mengepalkan tangan dengan sangat kuat sampai kuku-kukunya ikut memutih. Dia masih ingat sebelum dia meninggalkan rumah sakit Aeleasha masih baik-baik saja tapi kenapa saat dia sudah sampai dirumah, Joe malah harus mengurus masalah lain. Kesibukannya membuat dia lupa untuk mengajak Wili untuk menjenguk Aeleasha.
Sehari berlalu, Joe mendapatkan laporan kalau ada orang yang berniat membunuh Aeleasha. Joe membuka pintu ruangan dengan kasar, dia langsung menarik Aciel yang duduk dikursi.
Joe melayangkan satu tinju tepat diwajah Aciel, Aciel yang kaget tidak sempat menghindari mau tidak mau bibirnya jadi terluka karena tinjuan Joe.
__ADS_1
"Aku memintamu untuk menjaga adikku. Aku hanya meninggalkannya satu hari dan kenapa aku mendapatkan kalau ada yang mau membunuh Aeleasha." Joe mencengkram kerah baju Aciel, Aciel hanya diam.
"Sialan." Joe melayangkan satu tinjuan kewajah Aciel lagi, amarahanya terlihat menyelimuti dirinya. Aciel sedikit terhuyung karena pukulan itu, dia mengelap darah segar yang keluar dari sela bibirnya.
"Joe, hentikan." Tegas Wili, menahan tangan Joe yang siap mau melayangkan tinjuannya lagi. Joe berdecak kesal lalu menurunkan tangannya, dia memalingkan wajahnya mendekati Aeleasha yang sedang berbaring.
"Aciel pergilah obati lukamu." Kata Wili dengan senyuman hangat dan menepuk pundak Aciel, Aciel mengganggulkan kepalanya lalu berjalan keluar.
Melihat Aciel sudah keluar, Wili menghampiri Joe dan memukuli kepalanya saking geramnya dengan perbuatan dan tingkah Joe.
"Akh.. Kenapa Dady memukulku." Keluh Joe mengelus kepalanya, Wili mengangkat tangannya ingin memukul lagi tapi tangannya hanya melayang diudara saja.
"Kenapa kamu malah memukul Aciel dasar tidak setia kawan, dia sudah membantu menjaga adikku bahkan penampilannya saja sangat berantakan." Marah Wili, seketika nyali Joe menciut.
__ADS_1
"Dady ak-."
"Aeleasha kamu sudah sadar?" Wili tersenyum senang melihat mata Aeleasha yang sedikit demi sedikit terbuka. Wajah Joe langsung berubah seratus delapan puluh derajat yang tadinya cemberut dan murung kini berubah menjadi senang dan ceria.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa masih sakit? Apa kamu perlu sesuatu?" Tanya Joe tanpa henti, Wili yang kesal memukul kepala Joe.
"Dasar bodoh, pergi ambilkan air dan panggilkan dokter." Bentak Wili, Joe mengerutu kesal menuangkan segelas air lalu berjalan kearah pintu dan perpalasan dengan Aciel yang mau masuk.
Joe tidak mengubrish Aciel dan tetap berjalan pergi. Wili membantu Aeleasha untuk duduk dan memberikan air putih padanya, Aeleasha meneguk air putih itu sampai habis. Aciel bernapas lega, secara tidak sengaja mata Aciel dan Aeleasha bertemu.
"Kakak Aciel?" Kata Aeleasha, Wili mengalihkan wajahnya kebelakang melihat Aciel yang berdiri
diambang pintu.
__ADS_1
Tubuh Aciel mendadak jadi kaku, "Kakak Aciel? Apa Aeleasha mengingat diriku sekarang?" Gumam Aciel dalam hatinya senang.