
Ian yang kaget berdehem mencoba menghilangkan kecanggungannya, ini pertama kalinya dirinya bertemu Joe secara langsung. Biasanya dia hanya mendengarkannya melalui Aeleasha, yang bercerita tentang Joe yang bersikap overprotektif padanya.
“Ah... Kak Joe, aku...”
“Aku bukan kakakmu dan juga aku tidak mengenal mu.” Joe memotong perkataan Ian dengan nada yang angkuh, Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Katanya gak kenal kok tau nama ku? Kalau bukan kakak Aeleasha pasti bakal aku pukul.” Gumam Ian dalam hati kecil.
Ian mengulurkan tangan kanannya, Joe yang berdiri di depannya menatapnya dengan tatapan bingung tidak paham apa yang Ian lakukan.
“Perkenalkan nama saya Ian Kendrick , saya adalah teman baik Aeleasha dan juga Kakak kandung dari Bea Alister.” Jelas Ian, menggunakan matanya memberikan kode pada Joe agar berjabat tangan dengannya.
“Aku tidak memintamu untuk memperkenal-.” Perkataan Joe terhenti, kini matanya melotot tidak percaya dengan perkataan Ian.
“Tunggu tadi kamu, bilang kalau kamu adalah Kakak kandung Bea Alister? Kamu bukan Adik kandung Alfread?” Tanya Joe dengan tatapan tidak percaya, Ian mulai tersenyum misterius.
“Untuk pertanyaan pertama itu memang benar. Bea adalah adik kandungku, kami berasal dari ayah dan ibu yang sama, tapi kalau Alfread dia adalah sepupuku bukan kakakku.” Ian menjelaskan dengan panjang lebar, Joe yang mencoba memahami perkataan Ian.
Joe yang mendadak bertepuk tangan membuat Ian kaget, “Oh... Untuk apa kamu disini, mau minta uang? Atau mau balas dendam.” Joe bertanya dengan suara yang tinggi, tangannya menunjuk wajah Ian.
“Pergi dari sini, kami tidak menerima tamu.” Usir Joe, membalikkan tubuhnya dan membuka pintu segera masuk ke dalam rumah.
Ian yang mencoba mencerna situasi segera sadar ketika suara pintu yang dibuka Joe menyadarkannya. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena pintu sudah tertutup dengan rapat.
Joe yang mengepalkan tangannya ingin meninju pintu, kaget karena panggilan dari Aeleasha yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa dua gelas teh manis dengan satu gelas air putih.
“Kakak, apa yang kamu lakukan?” Aeleasha menaruh gelas yang dibawanya di meja dan menghampiri Joe yang masih setia berdiri di pintu.
Joe yang membelakangi Aeleasha segera berbalik menghadap Aeleasha, “Aku tidak melakukan apa pun hanya memeriksa apakah pintu ini masih bagus untuk menjaga keamanan rumah ini.” Elak Joe, matanya tidak berani menatap mata Aeleasha karena dia takut kalau dirinya ketahuan berbohong.
“Kak-“ Perkataan Aeleasha terpotong, ada seseorang yang sedang mengetuk pintu, Aeleasha menatap Joe dengan tatapan curiga.
“Minggir.” Usir Aeleasha agar Joe menyingkir dari depan pintu, Joe pura-pura tidak mendengarkan apa yang Aeleasha katakan. Aeleasha menatap Joe meminta penjelasan, Joe yang digarap mengeluarkan banyak keringat.
__ADS_1
Aeleasha yang hendak membuka mulutnya kembali tertutup rapat saat Joe menjawabnya, “Iya.. iya.. Aku akan membukanya.” Joe mengerucutkan bibirnya kesal, bibirnya terus bergerak komat-kamit mengucapkan kata-kata.
Ceklek...
Joe menutup kedua matanya tidak berani melihat siapa orang yang ada di depannya, jantungnya berdetak sangat kencang seperti mau meninggalkan tempatnya.
"Kak Aciel, Apa yang membawamu kemari?" Tanya Aeleasha bingung, melihat Aciel yang tengah berdiri didepan pintunya dengan membawa beberapa kantong plastik yang berlogo pizza.
"Ah.. Tadi Joe menyuruh aku membeli pizza disaat kita masih dirumah sakit, jadi yah begini?" Jawab Aciel sambil mengangkat tinggi-tinggi kantong yang dibawanya.
Joe yang mendengar Aeleasha memanggil nama Aciel langsung membuka matanya, napasnya yang terhenti kini berjalan dengan normal lagi.
"Hei, Joe apa kau tidak mau membiarkan aku masuk?" Aciel menatap Joe yang terus menghalangi pintu.
Joe yang baru sadar dengan kenyataan segera memberikan Aciel jalan untuk masuk, melihat Joe sudah menyingkir Aciel bergegas berjalan masuk dan menaruh kantong plastik itu diatas meja.
Joe yang merasa kakinya pegal, berjalan ke kursi dan melemparkan tubuhnya diatas sofa membaringkan tubuhnya diatas kursi panjang, mengunakan lengan kanan menutup matanya. Aciel yang melihat Joe berbaring, juga ikut duduk di sofa.
"Kalau begitu aku akan ke kamarku dulu." Imbuh Aeleasha, melihat kedua pria itu sibuk dengan pikiran masing.
"Aciel." Joe melipat kedua tangannya dan menggunakannya untuk menyanga wajahnya, matanya menatap Aciel dengan tatapan serius.
Aciel menaikan salah satu alisnya, kini dia juga ikut melipat tangan tapi tatapan matanya terlihat sangat dingin.
"Kamu kenal tidak Ian Kendrick?" Tanya Joe, dengan helaan napas panjang seakan dunia sudah mulai roboh saja.
"Tentu saja, dia adalah keponakanku." Jawab Aciel sambil mengambil segelas air putih yang ada diatas meja dan meminumnya sampai habis.
"Beneran?" Teriak Joe tidak percaya, dia yang tadinya sedang duduk langsung berdiri menatap Aciel. Joe tiba-tiba tertawa sangat nyaring membuat Aciel menyernitkan keningnya bingung.
"Apa yang kamu tawakan? Disini tidak adalah yang lucu." Kesal Aciel, mengacak rambutnya bingung dengan Joe yang selalu bertingkah aneh semenjak dia menemukan adiknya.
Kadang-kadang Joe tertawa seperti orang gila, lalu mendadak marah-marah kayak orang yang kehilangan uangnya. Dan Aciel juga tidak sengaja memergoki Joe menangis sendirian diruangan gelap seakan sedang patah hati.
__ADS_1
Padahal ketika paman (Dadynya) sakit pun dia tidak menunjukan banyak ekspresinya, Joe selalu memasang wajah datar seakan yang dihadapinya itu semuanya datar seperti mukanya itu.
"Haha.. Ini pertama kalinya lelucon-mu berhasil membuat aku tertawa padahal dulu kamu sering membuat lelucon tapi pada akhirnya hanya membuat orang lain kesal saja." Jelas Joe mengingat kenangan masa lalu saat berkerja sebagai sekertaris Aciel.
Joe tertawa terlalu lama, memegang perutnya yang mulai kram karena efek tawa. Tangannya terulur mengambil teh manis yang dibuat Aeleasha dan mulai meneguknya.
"Kamu pikir aku bercanda ini serius." Tegas Aciel, Joe yang tersedak menyemburkan teh yang diminumnya ke wajah Aciel.
Joe menelan salivanya dengan kasar, kini dirinya harus bersiap untuk mendapatkan pukulan maut Aciel. Aciel mengulas senyuman diwajahnya sehingga itu terlihat sangat horor bagi Joe.
"Dasar pria ****, Joe apa kamu sudah bosan hidup, hah?" Bentak Aciel melemparkan bantal sofa yang ada disampingnya tepat mengenai wajah Joe.
Joe yang sudah hapal dengan tingkah dan sikap Aciel menghindar secepat angin, melihat Joe yang menghindar Aciel jadi makin kesal dan mereka mulai membuat kekacauan.
Di Kamar Aeleasha
Aeleasha yang tengah berbaring memperhatikan langit-langit kamarnya, menyernitkan keningnya saat dia mendengar suara tawa Joe yang sangat nyaring.
Lalu suara itu menghilang seakan tidak ada apa pun, dan kini telinganya menangkap suara yang sangat berisik dari lantai bawah dimana Aciel dan Joe sedang berada.
"Semoga lantai bawah tidak mengalami kekacauan." Doa Aeleasha dalam hatinya mencoba menutup matanya dengan tenang.
Dan baru beberapa menit kemudian Aeleasha tertidur pulas menuju alam mimpinya tanpa memperdulikan dua pria yang sedang membuat masalah dibawah sana.
__ADS_1