Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 106


__ADS_3

Alfred bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu keluar, Krisan dengan cepat bangkit mengejar Alfred yang sudah berjalan jauh.


"Hei.. Untuk apa kamu kesini kalau hanya untuk memasang senyuman saja?" Tanya Krisan, Krisan yang tidak melihat kedepan tidak menyadari kalau Alfred yang berhenti berjalan dan malah menabrak Alfred.


"Emang apa urusan mu kalau aku kesini?" Kata Alfred menatap Krisan dengan tatapan dingin, Krisan yang mendapat tatapan merasa risih mengalihkan pandangannya.


"Aku cuma mau melihat keadaan mereka sebelum aku kembali ke New York." Alfred kembali mengambil langkah, Krisan melirik Alfred memperhatikan ekspresi apa yang ditampilkan.


"Kalau begitu untuk apa kamu mengambil posisi Dylen yang mempimpin dunia bawah alias bos mafia?" Krisan menutup mulutnya dengan cepat, dia tidak sengaja mengatakan sesuatu yang terlintas dikepalanya.


"Aku akan mencari keberadaan gadis kecil penyelamat hidupku." Kata Alfred membuka pintu mobil dan duduk menyilangkan kakinya.


"Lalu Aeleasha?" Krisan memukul mulutnya yang tidak bisa direm, kali ini hidupnya pasti tidak akan tentram.


"Dia bukan orangnya." Alfred yang menatap keluar melirik Krisan yang duduk didepan setir mobil.


"Krisan apa kamu sudah bosan hidup, emang siapa kamu bisa bertanya-tanya?" Suara Alfred naik satu oktaf, Krisan tercengang wajah Alfred sangat datar dan dingin.

__ADS_1


"Kamu ingin aku ketinggalan pesawat? cepat jalan." Tegas Alfred mengeluarkan tatapan mautnya. Krisan menangis dalam diam mulai menjalankan mobilnya.


...----------------...


Aciel membuka pintu kamar Joe, Joe yang membereskan dokumen tidak melirik Aciel sama sekali sampai Cika yang berteriak dan memeluk Joe.


"Papa Joe, mana permen yang papa janjikan untuk Cika. Katanya kalau Cika berhasil ganggu Papa Ciel, Cika bakal dikasih permen." Cika mengembungkan pipinya, melipat tangannya.


Joe dengan cepat memberikan permen yang dia janjikan, Aciel yang bersandar pada pintu berjalan masuk dengan wajah marah.


Aeleasha yang baru kembali dari mengambil obat, memperhatikan Aciel dan Joe yang melakukan kontak mata, Aeleasha merasa seperti deja vu. Cika menjilat permen, melihat Aeleasha yang berdiri di pintu.


"Mama, Papa Ciel dan Papa Joe mau berkelahi. Selamatkan Cika." Teriak Cika berlari, Aeleasha tertawa kecil melihat tingkah Cika yang selalu energik.


"Sudahlah, Apa yang kamu suruh aku selidiki sudah aku kirim ke emailmu." Aciel mengacak rambutnya, memilih mengalah saja.


"Aciel ini obatnya." Aeleasha membawakan obat yang dia minta pada suster, Aciel menatap obat itu dan Aeleasha bergantian.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mau mengobati langsung?" Goda Aciel, Joe yang bermain dengan Cika mendengarnya, mengalihkan garapannya menuju Aciel.


"Biar aku saja, Aelea kamu bawa Cika keluar saja. Cika pasti bosankan didalam sini?" Joe merebut obat dari tangan Aeleasha, Cika menggelengkan kepala nya tidak setuju.


"Seharusnya Papa Joe yang keluar." Cika menarik lengan baju Joe, mengambil obat dan memberikannya pada Aeleasha yang bengong. Joe yang ditarik keluar oleh Cika hanya bisa pasrah saja.


"Mana lukanya." Aeleasha merasa canggung, Aciel membuka baju, Aeleasha yang sudah terbiasa mengobati luka Aciel dengan cepat dan telaten.


Aeleasha juga menganti perban yang baru untuk Aciel, Aciel memperhatikan Aeleasha yang bekerja dengan seksama. Hal itu membuat Aeleasha sangat risih dengan tatapan Aciel.


"Udah, selesai?" Aciel mengerutkan keningnya, Aeleasha menganggukkan kepalanya dengan cepat, dia bergegas keluar dari sana.


Aciel yang melihat telinga Aeleasha memerah tertawa terbahak-bahak, Aeleasha yang bersandar pada pintu mendengarkan tawa Aciel mukanya makin memerah.


"Aelea, apa kamu sakit?" Tanya Joe, menyentuh kening Aeleasha. Aeleasha tidak berani mengangkat kepala dengan cepat kabur ke ruangan miliknya.


"Papa Joe, Mama sakit?" Cika menarik tangan Joe, Joe mengangkat kedua bahunya tidak tau.

__ADS_1


__ADS_2