
Brak
Fika mengalihkan matanya kearah pintu, tangannya yang tadi mencengkram dagu Aeleasha mulai melongar.
"Momy kita harus segera pergi dari sini, ada Tuan Aciel yang sedang berjalan kemari." Kata Bea dengan wajah yang cemas, Fiki menaikan sudut bibirnya tersenyum malas.
"Kamu bisa menahannya Momy belum selesai dengan pekerjaan Momy." Kata Fika dengan entengnya, Bea memukul dahi kepalanya geram dengan sikap Fika.
"Momy kalau aku yang menahan dia, kita bakal ketahuan lebih baik kita cepat pergi." Celoteh Bea, Fika berdecak kesal. Tangannya sibuk merogoh barang dalam kantong plastik.
Fika memegang tangan Aeleasha, Aeleasha yang melihat suntik memberontak tidak mau. Fika memaksa menyuntikkan cairan kuning itu, karena terus memberontak tangan Aeleasha mengeluarkan darah karena jarum itu dicabut dengan paksa.
"Ayo." Fika menarik tangan Bea, mereka meninggalkan Aeleasha yang kesakitan. Bea mengintip disela-sela, melihat Aciel yang sedang membalikkan punggungnya dan menelepon mereka berdua berlari dengan cepat dari sana.
Aeleasha mencoba berteriak tapi tidak ada suara yang mau keluar dari tadi, Aeleasha memegang tangannya yang berlumuran darah dan memencet tombol darurat yang berada tidak jauh dari ranjangnya saat.
Aciel menyernitkan keningnya, Dokter David dan dua suster dibelakangnya berlari tegesa-gesa kearahnya. Aciel memberikan jalan untuk mereka lewat, matanya membulat dengan sempurna saat melihat Dokter David malah masuk kedalam ruangan dimana Aeleasha berada.
__ADS_1
Aciel ikut masuk kedalam ruangan, dia kaget melihat ruangan sedikit berantakan. Aeleasha terus memberontak dengan memegang lehernya, wajahnya terlihat kesakitan dan nafasnya sangat berantakan. Aciel yang melihat kondisi Aeleasha panik.
Dokter David bingung, dia tidak tau apa yang terjadi pada Aeleasha. Dia menurunkan pandangannya, matanya melihat ada sebuah jarum suntik dibawah ranjang Aeleasha dan memutiknya.
"Suster bawakan penawar racun, cepat." Bentak Dokter David setelah memperhatikan suntik itu, Aciel menatap Dokter David dengan tatapan aneh. Suster itu berlari keluar setelah mendapatkan perintah.
"Aeleasha keracunan?" Batin Aciel, Suster yang tadi berlari keluar kini membawa nampan berisi suntik dan juga obat penawar. Dokter David dengan telaten mulai menyuntikan obat, Aeleasha mulai bernapas dengan tenang. Tangannya tidak lagi memegang lehernya, matanya tertutup rapat.
"Tuan Aciel kita harus keluar agar pasien bisa istirahat." Kata Dokter David menepuk pundak Aciel. Aciel melirik Aeleasha yang terbaring lemah diatas kasur, mengertakkan giginya dan menutup pintu ruangan.
Aciel Pov
Dreett...
Dering ponselku, Aku melihat layar ponsel dan tidak memperdulikan wanita yang duduk disana. Aku berdecak kesal karena nama yang tertera dilayar ponsel itu 'Dady' Pria tua ini tidak bosan-bosannya meneleponku untuk pergi keperjodohan.
"Apa mau? Aku sedang sibuk saat ini." Kataku dengan dinginnya, hatiku sedang sangat risau sekarang.
__ADS_1
"..."
"Tuan Carnier yang terhormat, sudah kita sepakati kalau perjodohan waktu itu adalah yang terakhir dan kamu tidak perlu memperdulikan diriku." Hatiku makin risau rasa seperti mau berhenti berdetak dan aku berfirasat akan terjadi hal buruk.
Sebelum pria tua itu mengatakan apa yang dia inginkan. Telinga mendadak menjadi tuli, mataku hanya fokus melihat Dokter David yang tergesa-gesa. Aku mencoba berpikir positif tapi ternyata firasatku selalu benar kalau sudah terjadi sesuatu.
Hatiku terasa ngilu melihat Aeleasha kesakitan. Aku ingin bertukar dengannya biarkan saja aku yang merasakan rasa sakit itu, aku tidak mau dia menderita lagi. Nafasku terasa berhenti mendengar Dokter David menyuruh suster yang ada disebelah kirinya membawa obat penawar.
"Aeleashaku keracunan?" Batinku, otakku kini makin mengarah kearah negatif dengan berbagai pertanyaan yang logis dan juga tidak logis.
"Apa Aeleashaku akan mati?
Siapa pelakunya?
Apakah wanita yang duduk dibangku tunggu tadi?
Apa tujuan orang itu?"
__ADS_1
Pertanyaan itu terus saja melintas dibenakku, rasanya sangat gila. Padahal tadi aku bersamanya mengenggam tangannya berharap dia segera bangun seandainya aku tidak keluar tadi.
"Seandainya?" Kata itu terus bergema ditelingaku.