
Cit...
Suara mobil yang direm mendadak, Jeo keluar dari mobil dengan wajah yang sangat kesal bercampur marah. Bahkan ada kerutan kecil dikepalanya, kakinya terus melangkah maju memasuki gedung tua yang sudah tidak dipakai lagi.
Krit...
Pintu yang sudah berkarat mengeluarkan suara yang sangat menyakitkan telinga, Joe sedikit celingukkan memperhatikan seisi ruangan. Matanya tertuju pada dua orang yang sedang duduk ditengah ruangan.
Salah satunya adalah Wili yang terluka, ada lebam diwajahnya yang sudah keriput dan luka goresan pisau dipipi kanannya. Disampingnya ada seorang pria yang duduk sambil melipatkan kaki kirinya diatas kaki kanannya.
Senyuman menghiasi wajah pria itu saat melihat Joe yang mematung melihat kondisi Wili. Pria itu bangkit dari duduknya menghampiri Joe sambil melambaikan tangannya.
"Bagaimana kabarmu, Adikku Joe?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Alfred. Rahang Joe mengeras karena panggilan itu terdengar sangat menusuk telinga, senyuman yang mengiasi wajah Alfred membuat Joe memuak.
Senyuman polos yang mengandungnya banyak penuh dengan kelicikan dan tipu musihat yang sempat menipu dirinya dan juga Dady dan Momynya.
"Hahaha..." Joe tertawa sangat nyaring, tangan kanannya menutup sebelah wajahnya, wajah Alfred terlihat tidak senang karena tawa Joe yang tidak bisa melihat kondisi saat ini.
__ADS_1
"Tidak ada yang lucu disini." Kata Alfred dengan dingin, wajahnya yang tersenyum kini menjadi sangat datar.
"Tentu saja ada Kakak." Jawab Joe mengangkat kedua tangannya, kakinya berjalan mendekati Alfred yang menatapnya dengan tatapan menusuk.
"Jadi begini balasanmu setelah Momy menolongmu dari kejadian yang menimpamu diumur 7 tahun?" Tanya Joe,mengangkat salah satu alis matanya, tangan kanannya menepuk pundak Alfred.
"Apa ma-" perkataan Alfred terpotong karena bentakan Joe, tangannya yang tadi menepuk pundak kini mencengkram kerah baju Alfred .
"Kamu benar-benar tidak tau berterima kasih yah, Alfred. Momy menolongmu yang dirampok preman lalu membawamu pulang kerumah dan hidup mewah dirumah, Jadi begini balasanmu sama keluargaku." Bentak Joe, Alfred mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya yang naik, dia masih menganggap Joe sebagai adik kecilnya dulu.
"Alfred Kernes..." Gumam Alfred, tapi Joe tidak mengubrishnya dan membantu Wili yang mungkin pingsan.
"Namaku Alfred Kernes, Joe Brewster." Bentak Alfred, aura dingin mulai memenuhi ruangan itu. Bahkan angin menerpa tubuh Joe yang seketika membuat dirinya merinding.
"Dari tadi aku hanya diam, aku masih mengangapmu sebagai adik dan juga Aeleasha." Kata Alfred sambil memiringkan kepalanya, Joe berdecak kesal.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari gedung ini, aku tadi berniat membiarkan kalian pergi tanpa harus melakukan apa pun tapi kamu malah membuat aku marah." Alfred mengangkat kedua tangannya sambil mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu." Selidik Joe, Alfred tersenyum licik. Tangan kanannya sibuk merogoh saku celananya dan mengeluarkan rokok dari sana dan melemparkannya kelantai.
"Aku akan membiarkan mkamu pergi, kalau kamu memenuhi dua syarat." Alfred menginjak rokok yang dibuangnya tadi, Joe menelan salinya dengan kasar entah kenapa dia merasa diintimidasi.
"pertama berikan 45% dari saham perusahan kepadaku d-" Joe langsung memotong perkataan Alfred.
"Kamu udah Gila? Kalau aku memberikan 45% dari saham itu sama saja kalau kamu akan mengambil separuh dari bagian dari perusahan." Teriak Joe tidak terima dengan syarat Alfred.
Bugh
"Tuan kita harus lari, kami mendengar ada suara mobil polisi mendekat kemari." kata seorang pria yang terjatuh kelantai karena menabrak box kayu.
"Sialan, kali ini aku akan membiarkanmu." Maki Alfred sambil menunjuk Joe yang mematung karena tindakan anak buah Alfred.
Brak
Suara pintu yang ditendang dengan keras, Joe tersenyum lega karena bayangan yang ada didepannya.
__ADS_1