
Wili membuka pintu dengan kasar, berlari ke arah Aeleasha. Tangannya yang besar langsung menangkup seluruh wajah Aeleasha, memperhatikan dengan saksama apa ada yang terluka atau tidak.
"Dody, Afa yang u bakukan?"
(Dady, apa yang kau lakukan) Aeleasha tidak bisa mengucapkan kata dengan benar karena Wili menangkup pipi Aeleasha dengan kuat bahkan, dia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan.
"Joe, kamu bilang Aeleasha baik-baik saja tapi kenapa dia tidak bisa mengucapkan kata dengan benar." Bentak Wili menatap Joe dengan tatapan tajam, tangannya tidak juga melepaskan wajah Aeleasha.
Joe menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan tangannya, Dadynya benar tidak bisa menjaga imagenya sebagai seorang pemimpin , padahal ada seorang dokter yang berdiri sana berusaha mencoba menahan tawanya.
"Dad, bisakah kamu melepaskan tanganmu itu dulu, dan biarkan Aeleasha berbicara dengan nyaman." Joe menarik tangan Wili mencoba melepaskan tangan Wili dari wajah Aeleasha.
"Dady bukanya ada di singapura, kok bisa ada disini ?" Tanya Aeleasha dengan lancar setelah tangan Wili kembali ke posisi awalnya.
"Yah... Mau gimana lagi, setelah aku memberitahunya tentang kecelakaanmu. Dady langsung membeli tiket untuk pulang hari ini juga.” Jelas Jo panjang lebar sambil menggelengkan kepalanya, Wili menatap Joe dengan tatapan menusuk sementara Dokter Gio mencoba mengendalikan ekspresinya agar mereka tetap tidak sadar kalau dirinya ada disitu mendengarkan percakapan mereka.
“Urusan Dady sudah selesai? Memang apa yang Dady lakukan singapura?” Tanya Aeleasha, menyelipkan anak rambutnya yang menghalangi penglihatannya.
“Belum, tapi aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya.” Gumam Wili, melipat tangannya dengan ekspresinya yang serius memikirkan sesuatu.
“Hem...” Dehem Dokter Gio agar mereka tidak membahas terlalu jauh lagi, Wili yang mendengar suara mengalihkan tatapan nya. Dia baru sadar kalau mereka juga sedang bersama dengan orang lain.
“Bagaimana keadaan Aeleasha dok?” Tanya Joe, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Dokter mengeluarkan rekaman medis yang dibawanya tadi dan mulai menjelaskan bagaimana keadaan Aeleasha, setelah selesai menjelaskannya dokter menyarankan untuk membiarkan pasien istirahat sehingga mau tidak mau Joe dan Wili harus keluar dari ruangan.
__ADS_1
“Joe, kamu sudah menemukan pelakunya?” Wili yang sedang duduk di kursi tunggu menyatukan kedua tangannya dan menggunakannya untuk menyangga wajahnya, entah kenapa ada aura dingin yang mengelingi Wili.
Joe menarik dasinya sambil menggelengkan kepalanya, dia dan Aciel sudah mencari Bea berhari-hari tapi tidak juga menemukannya. Entah bagaimana caranya dia bisa kabur padahal dirinya sendiri sedang terluka berat.
“Sialan, aku tidak akan mengampunimu.” Maki Wili, tangannya yang mengepal kuat memukul kursi tunggu, suara yang dihasilkan menarik perhatian semua orang yang berjalan melewati koridor tersebut, membuat mereka memperhatikan tindakan Wili.
Di Tempat lain, di Gudang tua
Bea yang terluka berat sedang duduk di kursi kayu, dengan kedua tangannya yang terikat tali dalam keadaan pingsan. Di depannya sedang duduk seorang pria dengan anting berbentuk # memperhatikan wajahnya, dimana kening Bea terus mengeluarkan darah segar.
“Kapan dia akan bangun, aku sudah sangat bosan menunggu dari tadi.” Katanya sambil memutar pisau lipat yang ada ditangannya, pria yang berdiri disampingnya membetulkan kacamatanya memperhatikan kondisi Bea.
“Bersabarlah Alfread, dia akan segera bangun.” Bujuk pria berkacamata itu yang tidak lain adalah tangan kanan sekaligus sekretarisnya, Krisan Xifiro.
Bea yang baru saja mendapatkan kesadarannya meringis kesakitan karena luka yang ada di dahinya, dia bisa mendengar suara samar yang ada di sekitarnya, matanya sudah mulai terbuka secara perlahan-lahan hanya saja dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya.
Pisau lipat yang berputar ditangan berhenti berputar, Alfread menjatuhkannya dengan sengaja, sementara Krisan menghela napas berat, dia tidak bisa menghentikan kegilaan Alfread jika sudah mengganggu dirinya selalu angkuh dan sombong ini.
“Si-Siapa kalian? Kenapa aku ada disini?” Teriak Bea ketakutan melihat Alfread yang berjalan mendekati dirinya, karena rasa takut yang menghantuinya, Bea melupakan luka yang ada ditubuhnya.
“Aku tentu saja malaikat pencabut nyawa.” Jawab Alfread, dengan senyuman yang memamerkan gigi putihnya. Kakinya yang panjang berjalan mengitari kursi kayu yang diduduki Bea. Alfread berhenti berputar tepat di depan Bea, menggunakan ujung pisau mengangkat wajah Bea.
“Bea... Bea...” Alfread terus mengulang nama itu berulang kali dengan nada yang penuh kesakitan bercampur dengan jijik yang terungkap dengan jelas di wajah tampannya.
Alfread menghentikan jari didepan wajah Bea dan seketika lampu mendadak mati membuat Bea panik sekali. Sebuah proyektor menyala menampilkan angka yang mulai menghitung mundur dari angka 10.
__ADS_1
“Kau tahu Bea, aku ingin menunjukkan sebuah pertunjukan yang sangat menarik dan menguras air mata untukmu. Jadi tontonlah dengan baik.” Bisik Alfread di telinga Bea, berjalan mundur kembali ke kursinya.
Hitungan mundur sudah selesai menampilkan video yang ada, Alfread duduk didepan Bea, memperhatikan ekspresi wajah Bea yang mulai menengang ketika ada Momy nya di dalam video itu. Air mata terus keluar dari matanya setiap teriakan yang dikeluarkan Momy nya.
“Aa... Argh... sa-sakit.” Teriak dan isak tangis keluar dari bibir Fika tapi tangan itu tidak berhenti bergerak terus melanjutkan perbuatannya menggores wajah Fika dengan pisau.
“Mom... Mom...” Teriak Bea mencoba berdiri dari kursinya, Bea terus memberontak dan berteriak seperti orang gila.
Alfread menggerakkan tangannya dan dua orang pria dengan baju hitam langsung bergerak mendekati Bea. Mereka menutup mulut Bea dengan kain putih sehingga dia tidak bisa berteriak lagi.
“Hm... Hm... “ Bea ingin berteriak tapi kain yang menutup mulutnya sangat tebal kini dia hanya bisa menangis dengan diam, Alfread tersenyum senang menikmati wajah Bea yang menderita tapi rasanya itu masih belum cukup baginya.
“Apa wasiat terakhirmu ?” Tanya pria dengan tato naga ditangannya itu berhenti bergerak , membiarkan Fika bernapas.
Dia melempar pisaunya ke tanah dan menyingkir dari sana sehingga video itu hanya menampilkan ... seorang diri dengan banyak luka dan darah yang berkeluaran.
“B-Bea... Maafin Momy yang gak guna ini, hanya bisa memberikan kamu penderitaan selama ini.” Fika menangis segukkan, Bea hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Momy nya.
“Bea, Kalau kamu liat video ini mungkin Momy gak ada di sampingmu lagi” Fika melirik ke tempat lain,
“Bea, kamu harus cari Dady kamu. Jiko Alister bukan ayah kandungmu dia hanya seorang pria yang Momy tipu. Nama Asli ayah kandungmu adalah Nio Kendrick ingat itu Bea, kamu harus bertemu dia. Nio pasti langsung mengenalimu karena kamu sangat mirip dengan dirinya.” Teriak Fika melipat kedua tangannya, dan video itu menjadi kabur.
Bea menangis, dia tidak mengetahui kebenarannya selama Ini, setiap kali dia bertanya mengenai ayahnya Fika akan membentaknya atau pun mengancamnya dengan membuangnya ke jalanan seperti kakak kandungnya.
Lampu yang sudah dinyalakan memperlihatkan wajah Alfread yang penuh dengan kekesalan dan juga rasa benci yang dalam.
__ADS_1
“Rasanya aku sangat jijik sekarang.” Gumam Alfread menutup wajahnya dengan tangan kanannya.