Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 57


__ADS_3

Aeleasha sudah keluar dari rumah sakit, yang menurutnya sangat pengap walaupun dirinya sendiri adalah Dokter.


Cip... Cip...


Suara seekor burung kecil cantik yang bertenger diranting pohon berkicau dengan sangat merdu. Satu burung ikut bertenger disana dan ikut berkicau dengan burung cantik itu,emun yang ada didaunan terjatuh.


Aeleasha mengosok matanya, dia merenggangkan tubuhnya agar otot tubuhnya rileks. Menyibak selimut dan turun dari kasurnya, Aeleasha berjalan membuka jendela. Angin sejuk menerpah wajahnya, Aeleasha berjalan dengan santai menuju kamar mandi memulai kegiatan paginya.


"Selamat Pagi Dady dan Kak Joe." Sapa Aeleasha yang tengah berdiri ditengah tangga, kakinya berjalan menuruni setiap anak tangga. Dan menghampiri Wili dan Joe yang sedang duduk dimeja makan memakan sarapan pagi mereka.


Saat makan tidak ada yang berbicara karena Wili sudah menekan kalau waktu makan sebaiknya tidak berbicara kecuali hal penting seperti sekarang.


"Aeleasha, Dady mau kamu dijaga oleh mereka berdua selama kamu diluar rumah." Jelas Wili, Aeleasha yang sedang makan kaget, ada bayangan yang dia lihat dimeja selain dirinya.

__ADS_1


Aeleasha menoleh kebelakang, lalu melirik ke Joe tapi Joe pura-pura tidak tau. Dia bahkan memalingkan wajahnya jika mata mereka berdua bertemu.


"Dady, aku tidak perlu bodyguard. Aku hanya kerumah sakit dan bekerja selesai lalu pulang." Jelas Aeleasha sambil memasang wajah memohon. Wili mengelengkan kepalanya dengan kuat kalau Aeleasha tidak bisa membantah atau mengubah keputusannnya.


Aeleasha mengurucutkan bibirnya kesal, Wili yang melihat Aeleasha hanya bisa menghela napas panjang. Sikap Wili tidak akan begini jika saja tidak ada kejadian penculikan waktu itu dan berita tadi pagi yang membuat dirinya harus sangat cemas.


"Ini demi kebaikan kamu, Aeleasha." Joe menengah suasana yang mulai canggung ini.


"Tadi pagi, Dady baca koran ada kejadian pembunuhan. Seorang wanita tewas dan jasadnya dibuang ditepi sungai, wajahnya sangat rusak sehingga polisi tidak bisa mengidentifikasi siapa korban tersebut." Jelas Wili, apa alasan dirinya menempatkan bodyguard disamping Aeleasha.


"Tidak ada penolakan, jika kamu tidak mau makan jangan harap bisa pergi kerja ataupun keluar rumah." Kata Wili dengan nada mengancam, menaruh sendok dan garpunya dimeja makan.


Aeleasha mengigit bibirnya, dia tidak bisa membantah perkataan Wili karena hampir semua yang dikatakannya itu mutlak. Apalagi sikap Wili yang sangat keras kepala, Aeleasha harus memutar otaknya jika berbicara dengan Dadynya ini.

__ADS_1


Sebuah ide melintas dikepala Aeleasha, senyuman juga menghiasi wajahnya sehingga membuat Wili sedikit cemas akan senyuman Aeleasha, seperti akan ada bencana besar yang akan datang saja.


"Aku akan setuju dengan satu syarat." Kata Aeleasha sambil mengangkat satu jarinya, Wili memejamkan matanya untuk berpikir sebentar.


"Apa syaratnya?" Tanya Joe, Aeleasha berdesis kesal harapannya hanya satu yaitu Wili yang menjawabnya. Wili tersenyum, mereka melakukan telepati melalui kontak mata.


"Nice Joe." Kata Wili melalui tatapan matanya, satu jempol untuk Joe. Joe tersenyum senang setidaknya kali ini dia berguna.


"Sudahlah, Aku akan menurut." Aeleasha mengerutkan bibirnya, berdiri dari kursinya melambaikan tangannya pamit pada Wili.


Joe yang melihat Aeleasha bangkit, "Aku akan mengantarkan Aeleasha, sampai jumpa nanti Dad." Sapa Joe, meraih jasnya mengejar Aeleasha yang berjalan pergi.


Wili mengelengkan kepalanya dengan sikap mereka berdua, dia baru mau memasukkan roti yang dipotong kedalam mulutnya tapi ponselnya mengganggu kegiatannya itu. Dia melirik ponselnya yang terletak diatas meja, menaruh garpunya dan mengangkat telepon itu.

__ADS_1


"Hallo paman apa kabarmu?" Suara bariton yang menusuk telinga, Wili menjauhkan ponselnya dari telingannya memperhatikan nomor telepon itu.


"Alfred." Kata Wili dengan nada tidak suka, dia bisa mendengar suara tawa diteleponnya itu.


__ADS_2