
Taksi yang ditumpangi Aeleasha berhenti didepan gedung berwarna putih, banyak sekali orang yang keluar masuk dari gedung itu. Senyuman manis terbit dari wajah Aeleasha, matanya menatap gebung yang bertulisan Hospitaly.
"Padahal aku belum lama meninggalkan rumah sakit ini tapi terasa sangat lama." Kata Aeleasha terus memperhatikan rumah sakit itu.
Bugh
Aeleasha yang tadi berdiri ditengah lapangan ditabrak seorang pria yang sedang buru-buru berlari masuk kedalam rumah sakit.
"Aduh sakit." Ringis Aeleasha, terduduk karena tabrakan itu. Aeleasha berdiri sambil menepuk bajunya yang sedikit kotor.
"Kalau jalan itu lihat dong." Bentak Pria itu, menatap Aeleasha dengan tatapan tajam lalu berlari masuk meninggalkan Aeleasha yang masih duduk diatas lantai semen.
Aeleasha mengerutkan bibirnya kesal, pria itu yang menabraknya kenapa pria itu juga yang marah, entah kenapa semuanya tidak berjalan dengan lancar akhir-akhir ini. Aeleasha menepuk-nepuk kakinya, matanya menangkap sebuah map biru yang terletak tidak jauh dari tempat dimana dia tadi terjatuh.
Aeleasha berjalan mendekati map biru itu dan memunggutnya, Aeleasha membolak-balikkan map yang tidak asing menurutnya ini. Tangannya ingin membuka map itu tapi terurungkan karena suara ambulance yang nyaring datang membawa pasien.
__ADS_1
Aeleasha memasukkan map itu kedalam tasnya, mau tidak mau berlari kedalam rumah sakit. Aeleasha yang baru sampai didepan lobi dikagetkan dengan suara bariton yang tangannya terangkat menunjuk dirinya.
"Kau yang disana, apa kamu dokter baru kenapa terlambat!." Bentaknya, Aeleasha sedikit celingukkan lalu menunjuk dirinya sendiri. Semua orang langsung meliriknya dan berbisik-bisik.
Aeleasha tidak tau apa yang terjadi, dia juga tidak kenal siapa orang yang ada didepannya itu, dan dirinya hanya kenal orang yang berdiri disamping kirinya. Orang yang menabraknya tadi bahkan langsung memarahinya bukannya meminta maaf.
"Apa kamu tidak punya telinga, Tuan Alvaro tengah berbicara denganmu." Kata orang yang disampingnya, Aeleasha berjalan mendekati mereka.
"Saya bukan dokter baru disini tapi saya dokter senior disini dan saya tidak tau apa yang sedang terjadi hari ini." Jawab Aeleasha dengan tenangnya, Orang iti mau berteriak tapi ditahan oleh orang yang tadi dibilang bernama tuan Alvaro.
"Apa tidak ada dokter yang berguna disini ? Kemana dokter berbakat itu ? Apa aku harus menuntut rumah sakit ini karena tidak becus mengurus pasien." Bentak orang yang bernama Alvaro itu, semua mata langsung melirik Aeleasha yang tengah berjalan jingkit-jingkit mau kabur.
"Dimana Dokter yang bernama Aeleasha itu?" Tanya dengan suara baritonnya, Aeleasha yang langsung menegang karena namanya tiba-tiba disebut, dia tidak melakukan kesalahan apa pun dan juga baru masuk rumah sakit hari ini.
Para perawat dan juga Dokter langsung menunjuk Aeleasha yang berdiri dipaling belakang, karena tadi dia ketahuan mau kabur jadi, kembali ketempat yang tadi dia berdiri.
__ADS_1
Tuan Alvaro mendekati Aeleasha yang dari tadi berusaha mengubur ketengangan yang entah kenapa muncul. Aeleasha mendongakkan kepalanya karena perbedaan tinggi badan yang sangat jauh itu.
"Anda harus menyelamatkan ibu saya, jika tidak saya akan mencungkil dan memotong tangan anda." Ancamnya, matanya yang sedikit berwarna hazel menyipit menajam.
Aeleasha tersenyum manis, "Baik." Jawabnya. Aeleasha ingin sekali mengeluarkan mata itu dari tempatnya, mau minta tolong tapi pakai ancaman.
"Ikuti aku." Tuan Alvaro berjalan dengan langkah lebar, sedangkan Aeleasha yang mengikuti dari belakang. Bibirnya komat-kamit meniru gaya bicara Tuan Alvaro tadi.
Tuan Alvaro membuka pintu yang bertulisan angka 5670, berjalan masuk. Terlihat seorang wanita yang tengah terbaring dikasur, Aeleasha melirik dari samping karena terhalang tubuh Tuan Alvaro.
Wajahnya pucat, dengan matanya yang terpejam. tangan kirinya diinfus, wanita itu bernapas dengan alat bantu. Aeleasha memiringkan kepalanya, berjalan mendekati kasur itu. Tangannya dengan telaten membuka mata wanita itu, dia juga memeriksa nadinya karena tidak membawa stetoskop.
Aeleasha mengerutkan keningnya, mendengar suara napas yang tersengal-sengal, matanya melirik Tuan Alvaro lalu menurunkan pandangannya kewanita yang terbaring itu.
"Apa beliau punya riwayat penyakit asma atau penyakit pneumonia?" Tanya Aeleasha, Tuan Alvaro mengangkat tangannya. Orang yang ada dibelakangnya memberikan ponsel Alvaro.
__ADS_1
Alvaro membalikkan punggunnya menatap orang yang ada dibelakangnnya dengan tatapan tajam.
"Dimana mapnya ?" Tuan Alvaro menaikan suara menjadi satu oktaf. Orang yang dibelakangnya itu menelan salivanya dengan kasar setelah sadar kalau dirinya kehilangan map yang dibawanya tadi.