Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik

Tuan Muda Yang Dingin Vs Dokter Cantik
Chapter 105


__ADS_3

Joe tertawa nyaring begitu Aciel keluar, dia tertawa sampai perutnya kesakitan melihat ekspresi yang ditampilkan diwajah Aciel.


Aciel yang berjalan dikoridor, celingukkan ke kiri dan ke kanan mencari Aeleasha, tapi dia tidak juga melihat Aeleasha. Aciel memilih bertanya pada suster yang berjalan melewati dirinya.


"Apa kamu melihat Dokter Aeleasha?" Tanya Aciel menahan suster yang mendorong troli obat.


"Dokter Aeleasha? Tadi saya melihatnya bersama anak kecil ke taman." Jawab Suster itu.


"Terima kasih." Kata Aciel, berlari keluar, Aciel bernapas lega melihat Aeleasha dan Cika yang duduk di kursi taman.


Aciel berjalan pelan-pelan mendekati mereka berdua, Aeleasha tertawa lepas mendengar ocehan Cika yang tidak ada henti-hentinya.


"Tante tau, Cika paling tidak suka makan brokoli, bentuknya sangat aneh." Oceh Cika dengan penuh antusias, dia bahkan memarkan giginya yang putih.


"Apa yang kalian bicarakan tanpa aku?" Tanya Aciel yang duduk disamping Aeleasha, Aeleasha menatap Aciel.


"Aciel lukanya terbuka." Mata Aeleasha membelak, Aciel memperhatikan baju yang menampilkan bercak darah.

__ADS_1


Aciel mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak sadar sama sekali kalau lukanya itu terbuka, Cika memiringkan kepalanya ke samping menatap Aciel dan Aeleasha bergantian.


"Mungkin itu terbuka karena aku berlari tadi." Jelas Aciel, tertawa canggung.


"Tante itu pacarnya, papa Ciel yah?" Tanya Cika dengan jari telunjuknya dibibirnya yang kecil, Aeleasha dan Aciel saling menatap Cika.


"Cika, kok tau ka-"


"Itu benar, jadi Cika jangan ganggu lagi." Aciel memotong perkataan Aeleasha, tangan Aciel memeluk Aeleasha dengan erat.


"Dan jangan panggil tante tapi Mama." Imbuh Aciel, Cika tersenyum senang menatap Aeleasha dan mengangguk dengan antusias.


Aciel melepaskan pelukannya, meraih tangan Aeleasha. Aeleasha menatap tangan Aciel, wajahnya saat ini memerah entah karena apa.


"Aelea, dengar aku tidak ingin kamu salah paham sama aku. Cika itu bukan anak aku, dia itu anak dari kakak perempuanku." Jelas Aciel, Aeleasha yang menunduk mengangkat kepalanya menatap tepat kedalam mata Aciel.


"Ini bukan alasan, ini faktanya. Cika itu bukan putriku, kalau kamu tidak percaya kamu bisa melakukan tes DNA." Aciel tidak tau harus berkata apalagi, Aeleasha hanya diam saja tidak menjawab.

__ADS_1


"Apa itu benar?" Tanya Aeleasha, menatap Aciel dengan ragu.


"Tentu saja." Aciel menjawab dengan sangat cepat, Cika yang bermain air melirik Aeleasha dan Aciel.


"Papa Ciel, aku mau ketemu Papa Joe." Cika berteriak dengan nyaring sambil berlari mendekat.


"Itu dengar? Cika selalu memanggil siapa pun dengan panggilan papa, Ak-." Jelas Aciel, jari telunjuk Aeleasha menyentuh bibir Aciel meminta Aciel untuk berhenti berbicara.


"Aku udah tau kok, tadi Cika juga ada bilang." Ungkap Aeleasha, Aciel yang merasa ditipu begitu saja mengigit tangan Aeleasha yang masih menyentuh bibirnya.


"A-apa sih." Aeleasha menarik tangannya secepat mungkin, Aciel terkekeh lucu melihat telinga Aeleasha yang memerah.


"Ayo cepat." Cika menarik lengan baju Aciel, Aciel berdiri mau menggendong Cika tapi dihalangi Aeleasha lebih dulu.


"Ingat lukanya pak." Goda Aeleasha, Aciel yang gemas mengacak rambut Aeleasha. Bibir Aeleasha mengerucut, dia baru merapikan rambutnya tadi sekarang dibuat acak lagi oleh Aciel.


Mereka berdua berjalan di koridor menuju kamar Joe yang letaknya tidak jauh dari ruang Aciel.

__ADS_1


"Papa Joe, Cika datang awas kalau permen lolipopnya gak ada." Gumam Cika bernyanyi kecil, berjalan melompat-lompat. Dibelakangnya ada Aciel dan Aeleasha yang mengekori.


Alfred yang duduk di kursi tunggu tersenyum, mata fokus melihat tingkah mereka bertiga. Krisan yang ada disampingnya merinding melihat itu.


__ADS_2