
yang memegang pisau bedah, mulai melakukan pembukaan pertama dibantu oleh beberapa dokter disampingnya. Semua Dokter memperhatikan ketepatan dimana pisau bedah itu menari-nari.
Operasi berjalan selama beberapa jam didalam sana, keluarga yang berada diluar ruangan terlihat sangat khawatir mata mereka terus melirik lampu yang masih menyala merah dan berubah menjadi hijau.
Kekhawatiran mulai mereda di wajah mereka, berlari mendekati Aeleasha yang berjalan keluar dari ruang operasi dengan wajah tersenyum senang.
"Operasi berjalan dengan sangat lancar." Jawaban dari Aeleasha membuat wajah mereka yang tegang menjadi rileks.
Aeleasha segera pamit menginggalkan ruangan operasi, menuju ruang kerjanya. Aeleasha yang melihat kursi sofa, berbaring terlentang menatap langit-langit.
Matanya melirik jam dinding yang menujukkan pukul 9 siang, ternyata dirinya berada didalam ruang operasi selama 2 jam menangani pengangkatan tumor.
"Kakak sudah sampai belum yah.." Gumam Aeleasha memainkan jari-jari tangan.
Drett...
Aeleasha melirik ponselnya yang bergetar dengan hebat, dia bangun dari berbaringnya mendekati meja kerjanya. Matanya yang bulat membaca siapa yang tengah meneleponinya.
"Kakak Aciel?" Gumam Aeleasha menatap layar ponselnya, dan mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo, Kak Aciel. Ada apa?" Tanya Aeleasha sambil mengitari meja kerja. Duduk di kursi kebanggaannya.
"..."
"Kayaknya gak bisa deh Kak, soal jadwal aku sekarang padat banget cuma gara-gara gak masuk beberapa hari." Jelas Aeleasha memperhatikan dokumen yang menumpuk di mejanya.
"Jika saja aku tidak punya dua pekerjaan." Gumam Aeleasha pelan, memainkan kertas itu.
"..."
"Haha... Tidak ada Kok, aku tidak mengatakan apa pun." Aeleasha tertawa kikuk, dirinya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"..."
"Kalau begitu sampai jumpa besok." Aeleasha mematikan ponselnya, matanya memperhatikan layar ponselnya dengan seksama.
Aeleasha menghela napas panjang, entah kenapa hari ini terasa agak berat baginya. Mungkin itu karena Kakaknya yang pergi ke Singapura atau karena pekerjaannya yang menumpuk?
Tok... tok...
__ADS_1
Suara ketukkan pintu, membuyarkan lamunan Aeleasha. Aeleasha segera memperbaiki postur tubuhnya, berjalan ke pintu memastikan siapa yang sedang mengetuk.
"Aa.. Dokter Aeleasha. Ada seseorang pria yang mencarimu, Pria itu menunggu di taman." Kata suster yang tersipu malu.
Aeleasha menganggukkan kepalanya paham, Suster itu tersenyum, berjalan pergi ke ruangan lain. Aeleasha menutup pintu, berjalan menuju taman yang dikatakan suster tadi.
Aeleasha menghentikan langkah kakinya, matanya bisa melihat sosok seorang pria yang bertubuh bahu lebar dan kekar yang tertutup dalam jas kerjanya.
"Kakak Aciel?" Panggil Aeleasha, Aciel yang membelakangi Aeleasha segera membalikkan badannya menghadap Aeleasha.
Senyuman langsung menghias wajah Aciel ketika mata elang miliknya bertemu dengan mata Aeleasha yang selalu terlihat berkilau dimatanya.
"Apa yang Kakak lakukan disini? Kakak gak sakit, kan?" Tanya Aeleasha, salah satu alisnya terangkat memperhatikan penampilan Aciel
"Haha... Gak kok, aku cuma mau mengantarkan ini, dari Joe." Jelas Aciel, tangannya mengangkat paper bag merah yang ada ditangan kanannya.
Aeleasha menerima paper bag itu dengan tatapan bingung, Aciel yang mengerti apa arti dari tatapan Aeleasha memberikan kode pada Aeleasha agar membuka paper bag itu.
Aeleasha yang penasaran segera membukanya, didalam sana terdapat bungkus kado yang menutupi apa isinya. Aeleasha menarik kertas kado itu, matanya membelak tidak percaya. Menutup paper bag itu, agar tidak ada siapa pun yang bisa melihat isi nya.
__ADS_1