
"Menurutku? Menurutku kamu benar-benar ..." ucap Veron geram.
"Taruh dulu di tempat penitipan. Aku masih ingin disini," ucap Zello yang meninggalkan Veron di tengah terkejutannya.
"Mau berulah apa lagi dia," gumam Veron kesal dan langsung membuntuti Zello.
Dilihatnya Zello langsung duduk di sofa panjang di ruang itu. Sementara Veron hanya melirik kesal ke Zello dan berlalu untuk menarih tas belanjaan itu di tempat penitipan.
"Tuan Zello ini minum untuk kamu," ucap Anita.
"Seharusnya ngga perlu repot-repot," sahut Zello ringan.
"Nggak repot kok. Lagian, ini minuman favorit Lilie, cobalah!" ucap Anita tengah berbisik. Dan menyodorkan minuman itu secara paksa.
"Eh itu kan minuman aku," gerutu Veron yang sudah menyusul Zello.
"Kamu ini, jangan pelit-pelit sama pacar!" hardik Anita.
"Gapapa Tuan. Minum saja!" ucap Anita lagi.
Zello tersenyum tipis melihat debatan Veron dan Anita. Dia menatap drink cup yang tengah dipegangnya. "Jadi, bagaimana?" ucap Zello.
"Yaudah minum saja," ujar Veron pasrah.
Slruup. "Makasih," ucap Zello puas.
Zello menghentikan minumnya, mendapati panggilan masuk di ponselnya. "Sayang, pegang!" ucap Zello ke Veron.
"Hm."
Zello dengan segera mengangkat panggilan itu dan menjauh dari Veron.
"Benar-benar ngeselin," ucap Veron kesal.
"Hussh, kamu itu kebiasaan kalau sama pacar dari dulu terus begitu," ucap Anita ikut kesal.
Huufzzh, Veron membuang nafas kasar. Sluurp ... "Hah, segernya," ucap Veron.
"Wah so sweet, satu cup buat berdua," goda Anita.
Eh?
"Iya dong, kita kan sepasang kekasih," ucap Veron akhirnya.
"Nah, gitu dong," ujar Anita.
Setelah sekian beberapa saat Veron dan Anita melempar canda, pandangan mereka ke arah Zello yang kembali ke tempat mereka.
"Tuan, sudah? Saya tiggal ke dalam ya. Silahkan berduaan sampai puas sama Lilie," goda Anita. Anita juga langsung ngasih kode genit ke Veron.
"Sudah sana pergi, ganggu aja," ucap Veron kesal. Bukan kesal di ganggu, tapi kesal di godain terus.
"Makasih," ujar Zello ke Anita.
Pandangan Zello yang awalnya ke Anita langsung beralih ke Veron, dan juga sembari mengulurkan ponselnya. "Kakek ingin bicara."
"Kakek yang menelponmu?" tanya Veron sembari meraih ponsel itu dan kyaa ... panggilan video call.
"Kakek," ucap Veron manis ke layar.
"Kamu masih kerja?" suara kakek hangat.
"Iya Kek. Sebenarnya ini juga baru saja sampai, karena tadi siang ada urusan. Kakek sudah makan?"
"Baru mau mulai makan. Kamu sudah makan? Pulanglah, kita makan malam bersama."
Pulanglah? Sudah kaya dia tinggal disana saja. Batin Zello.
"Iya Kek. Nanti Lilie bakal berkunjung lagi ke rumah kakek."
__ADS_1
"Bagaimana kalau malam ini? Karena kakek sengaja menelpom Zello supaya dia menyampaikan ke kamu untuk berkunjung ke rumah kakek malam ini."
"Mm ... "
"Apa kamu berani menolak keinginan orang tua ini," ujar Hanif.
"Kakek ... Kamu terlalu percaya diri sekali, seakan aku akan mengabulkan bila Kakek berbicara demikian." Terlihat Hanif terkekeh kecil di layar ponsel itu.
"Aku ingin bicara dengan Zello," ucap Hanif kemudian.
"Ah iya." Veron mengembalikan ponsel itu ke Zello dan juga beranjak dari sana memilih ikut Anita yang tengah santai di ruang istirahat.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Anita.
"Memang kenapa sih? Biasanya aku juga di sini," sahut Veron.
"Kan ada Zello di depan, sana ke depan!"
"Nggak jelas banget kamu. Mau kamu setuju atau nggak aku mau tiduran di sini," ujar Veron langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang yang tengah di duduki Anita. Yang akhirnya kaki Veron menimpa sebagian paha Anita.
"Pijitin!" ucap Veron sumringah.
"Iya Nyah," sahut Anita patuh mendrama.
"Jadi, sebenarnya Pangeran mu itu kerjaannya apa?" ucap Anita kemudian.
"Dia, CEO lah."
"Apa nama perusahaannya?"
Mm ... apa ya? Batin Veron.
"Jangan bilang kamu nggak tahu." Terka Anita.
"Hehehe."
"Kacau."
"Kamu kapan married sama dia?"
"Memang kenapa?"
"Siapa tahu kamu nggak cocok. Kalau kamu sudah putus, kabarin ya!" goda Anita.
"Gila," ujar Veron dengan kekehan kecil.
"Tanya kapan married, tapi endingnya belok," sambung Veron.
Tok tok.
"Ka Lilie dicariin pacarnya." Suara dari luar ruang.
"Kan dicariin." Anita bergegas membuang kaki Veron yang ada di atas pahanya. "Sana temuin!"
"Baru di tinggal tiga menit sudah kangen aja dia," ucap Veron lugas.
Pluk. Bantal sofa mendarat di tubuh Veron.
"Pembual," ucap Anita dengan kekehan kecil.
"Iya Sayang," teriak Veron. Dan dengan malas menuju tempat Zello.
"Hm? Kenapa?"
"Kakek sudah menunggu kita," sahut Zello.
"Tapi aku sudah bilang sama kakek kalu aku baru saja sampai di butik," jelas Veron.
"Aku rasa Bos kamu nggak bakal keberatan," ucap Zello.
__ADS_1
"Lie, nggak apa kamu pergi dulu. Lagian kan semua sudah rapi dari kemarin. Kamu aja yang kerajinan kesini mulu," celoteh Anita. Anita yang tahu sifat Veron memang langsung menyusul Veron sedari tadi. Dan nyatanya memang benar, Veron selalu berdebat dengan kekasihnya. Ah, tepatnya selalu berdebat dengam siapapun, bahkan dengan dirinya.
"Ok ok." Dengan kesal Veron menuju tempat penitipan barang dan langsung mengulurkan ke Zello. "Bawa, kalau nggak aku nggak bakal ikut," ucap Veron dengan senyum licik.
"Jangankan bawa tas belanjaan, bawa tubuh kamu aku juga bisa."
"Apa?" tanya Veron nggak paham.
"Aaa..." teriak Veron yang sudah ada di atas bahu Zello. "Turunkan! Dasar gila."
"Astaga, Lilie," gumam Anita. Veron sudah seperti karung goni yang tengah di bawa oleh tukang panggul.
***
Brukkk. Dengan kasar Veron di lemparkan di kursi mobil.
"Sinting," gerutu Veron.
Nggak mau ambil pusing Zello langsung memutarri mobil menuju kursinya.
Bluk. Dua kantong belanjaan Veron lemparkan dengan kasar ke jok mobil belakang. "Syukurin," desis Veron.
"Aku nggak suka wanita pembangkang," ujar Zello. Dan bruum ... mobil Zello melaju pesat.
"Aku nggak membangkang, tadi bukankah aku memang sudah bilang ke kakek kalau aku nggak bisa langsung kesana," ucap Veron kesal.
"Kalau terlalu larut malam, kakek nanti pasti sudah tidur," ucap Zello ketus.
"Bagus dong," sahut Veron santai.
"Kamu -"
Veron langsung sigap memunggungi Zello, milih diam dengan meringkuk.
"Huhffz ... terserah."
Setelah sekian lama perjalanan, Veron betah dengan posisinya. Siapa yang sangka, belum sampai jam delapan, ternyata Veron sudah larut dalam mimpinya.
"Veron, bangunlah!" ucap Zello pelan. Mobil Zello sudah terparkir di depan pintu persis.
Tin tin tin.
"Zello." Suara Hanif yang sudah di depan pintu.
"Kenapa kamu berisik sekali?"
"Kek ... nggak-"
"Lilie mana?"
"Tidur," sahut Zello.
"Angkat, tidurkan di kamar tamu!" titah Hanif.
"Hah?" Apa aku nggak salah dengar?
"Ayo," ucap Hanif lagi.
Zello mendesah kecil dan segera menuju ke pintu Veron dan dengan ragu meraih tubuh Veron.
Kaki Zello terhenti saat dirinya sudah berdiri di samping Hanif. "Kek, apa maksudnya Lilie akan menginap di sini?"
"Kenapa nggak, bukankaj nggak ada yang menunggu dia juga di apartemen. Biarkan dia istirahat di sini."
"Kakek sepertinya sangat menyukainya."
"Tentu," sahut Hanif cepat.
"Kalau gitu kakek saja yang menikah dengannya," celoteh Zello.
__ADS_1
"Kalau gitu nanti kita akan menikah secara bersamaan. Aku menikah dengan Lilie, dan kamu menikah dengan perempuan pilihanku."
"Sial."