Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Pengkhianatan Rossa


__ADS_3

***


Pagi hari


Veron dan Zello menuju ke dapur hampir bersamaan. Veron yang sampai dapur langsung merebus teh tubruknya yang tidak disadari oleh kehadiran Zello.


"Bikin apa?" tanya Zello.


"Mau bikin teh."


"Sarapannya?"


"Banyak roti dan selai di kulkas," sahut Veron. Dirinya beralih menyiapkan gelas dan gula untuk mereka berdua.


"Dicariin koki nggak mau. Kamu nggak bosan sarapan roti terus?"


"Kamu bosan?" tanya Veron balik.


"Nggak. Aku bisa sarapan apa aja." Sahut Zello. Dirinya menatap Veron yang tengah menuangkan teh di gelas mereka, dengan wajah datarnya. Zello hanya bisa mendengus kesal melihat wajah Veron yang demikian.


"Kalau kamu bosan kamu bisa sarapan di luar," tutur Veron.


"Nggak ...." Zello menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, serba salah.


Veron menaruh teh manis jambunya di meja makan. Menikmati tehnya bersama dengan duduk bersebelahan. Zello menyruput tehnya sembari melirik Veron yang hanya fokus dengan minumnya.


"Hari ini mau ke rumah Kakek?" tanya Zello.


"Sepertinya."


"Kamu akan lelah melakukan perjalanan jauh setiap hari," ucap pelan Zello.


Veron tersenyum kecil, "aku nggak capek, Dahlia yang capek."


"Tentu saja kamu juga. Meskipun bukan yang menyetir, tapi perjalanan jauh tetap menguras tenaga."


"Aku ke kamar dulu ya." Veron beranjak dari duduknya sembari membawa tehnya, masuk ke dalam kamar. Mengacuhkan Zello yang kini tengah terbengong karena sikap dinginnya.


Hah, Zello menggeleng frustrasi. "Dia ternyata benar-benar marah."


Puas menikmati tehnya sendirian di meja makan, Zello beranjak ke kamar untuk membersihkan tubuhnya.


***


Veron yang baru saja selesai bersiap menuju sofa tempat Zello berada. Dilihatnya Zello yang santai dengan satu kakinya menumpang ke bagian lutut kaki satunya sementara mata dan tangan fokus ke laptop yang berada di pangkuan. Dan dengan penampilan pakaian kantornya. Hanya saja dasi dan jas masih berada di sandaran sofa.


"Sarapannya bawa kesini ya?" Tawar Veron.


"Hm."


Nggak selang lama, Veron sudah membawa sarapan Zello berupa roti selai.

__ADS_1


"Aku hanya bisa bikin ini," ucap Veron sembari meletakkan piring kecil Zello di meja.


"Aku tahu," sahut Zello, yang pandangan arahnya ke Veron dengan senyum tipis aneh.


Veron juga langsung duduk, bersiap menyantap sarapannya.


"Tanganku sibuk, Lie. Suapi aku!" ucap Zello datar.


Veron terdiam sesaat dan tanpa protes ia mengambil roti dan menyodorkan ke bibir Zello berulang kali sampai rotinya habis.


"Minum!"


Dengan santai Veron menyodorkan minum ke bibir Zello, tanpa kata maupun tanpa protes.


Zello yang sudah selesai dengan laptop dan sarapannya beralih menutup laptop dan menaruhnya di meja. Yang kemudian tangannya terulur ke dasinya yang berada di sandaran sofa dan menyodorkan ke Veron.


Paham dengan maksud Zello, Veron meraih dasi itu dan memakaikan ke lehernya langsung tanpa mempedulikan tatapan Zello. Selesai dengan dasi Veron langsung mengambil jas yang berada di sandaran sofa.


Zello yang melihat sikap dan tatapan Lilie hanya bisa diam menatap dengan bingung. "Lilie."


"Bangunlah Zello! Aku kesusahan memakaikannya."


Dengan perlahan Zello berdiri, dan menerima tahap demi tahap dari Veron yang tengah memakaikan jasnya.


"Sepatu!" ucap Zello akhirnya. Dengan patuh Veron mengambil dan memakaikan ke Zello.


"Bagus. Aku suka wanita penurut," ucap Zello datar dan melangkah menuju keluar.


Dengan senyum Veron memberikan laptop itu. Meskipun begitu, Zello tahu Veron tersenyum dengan di paksakan.


Sepeninggal Zello ke kantor. Dahlia masuk ke apartemen mereka, dengan membawa kantong belanjaan berisi sayuran.


"Kamu?" tanya Veron menduga-duga.


"Mari Nona. Kita masak! Nona harus belajar masak. Sejatinya perempuan itu harus bisa masak," tutur Dahlia semangat. Dahlia langsung melangkahkan kaki menuju dapur, mengeluarkan semua sayuran dan dipilih yang sekiranya mau dimasak dan di masukkan ke lemari pendingin.


Veron yang tahu akal bulus Dahlia menatap kesal ke Dahlia.


"Nona kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dahlia pura-pura.


"Apa akan masak makanan kesukaan Zello?" tanya Veron sinis.


"Tidak Nona. Kita akan memasak masakan kesukaan Tuan Besar Hanif. Anda ini, yang di pikirkan hanya Tuan Zello." Goda Dahlia.


Ck. Decak kesal Veron. Mendengar penjelasan akan memasak masakan kesukaan Hanif, Veron nampak sedikit semangat, berangsur melupakan kekesalannya ke Zello.


"Baiklah. Tapi nanti saja masaknya. Duduk saja dulu. Kamu pasti capek," ujar Veron menghangat.


"Baiklah Nona. Beruntungnya aku punya nona seperti Anda." Puji Dahlia.


***

__ADS_1


Siang hari di perusahaan Golden Groub


"Bos." Zico melongokkan kepala ke ruangan Zello. Dan Zello menukikkan kedua alisnya menanggapi tingkah Zico.


"Ketuklah pintu sebelum masuk. Apa gunanya kamu bertanya tapi kepala kamu sudah nongol begitu. Bagaimana kalau aku sedang ada tamu penting." Gerutu kesal Zello.


"Hehehe maaf, Bos." Zico berjalan menuju meja Zello.


Mata Zello tertuju dengan map yang Zico bawa dan taruh di meja depan Zico persis.


"Maksudnya tamu penting itu siapa Bos?"


"Menurut kamu siapa?" tanya Zello, tangannya mengambil berkas map dan melihatnya dengan seksama. Bibirnya mengulas senyum sinis, juga mendapatkan beberapa foto di map itu. Meyakini yang dilihatnya adalah gambar lama, di pandangnya foto itu dalam waktu yang cukup lama, tangannya berganti kepalan keras yang bersamaan kerasnya rahang di wajahnya.


"Dari info yang tertera di balik foto itu, dia temukan foto itu di akun sosmed terkunci milik cameramen terkenal di Turkey. Banyak yang menggunakan jasa potretnya. Kemungkinan, mereka seperti cinta lokasi." Zico berbicara pelan dan menatap iba dengan atasannya itu.


Semenjak Rossa menyuruh Zello untuk menyewa wanita untuk dijadikan istrinya, di saat itulah Zello ragu dengan perasaan Rossa terhadap dirinya. Bagaimana bisa seorang wanita menyuruh kekasihnya untuk menikahi wanita lain, meskipun hanya di atas kontrak. Dan menjelang seminggu pernikahan Zello, adanya bukti bahwa Rossa telah berkencan dengan pria lain. Dan semenjak itu ragunya sudah terbukti dan menyuruh Zico untuk menyelediki semua tentang Rossa yang selama ini di luar pantauannya. Dan setumpuk bukti sudah di depan matanya. Matanya memerah karena marah, kecewa dan luka yang mendalam. Cinta pertama yang ia dapatkan dari pertemanan sejak kecil tapi inilah akhirnya.


Tangan Zello berganti dengan foto Rossa terbaru, terlihat dari model rambut dan yang lainnya. Yang tengah bersama pria seumuran jauh di atas umurnya.


"Dia ... pemilik perusahaan modelling terkenal di Amerika. Akunnya tidak terkunci. Tapi ... disana pria itu memang kerap memposting foto dirinya dengan beberapa model andalan lainnya. Jadi hubungan gelap dengan Rossa pun juga tidak akan tercium oleh publik."


"Wah, berarti dia akan jadi modeling terkenal dalam waktu dekat. Cita-citanya selama ini akan segera terwujud dalam hitungan hari." Zello berucap tajam.


"Bos, apa yang akan Bos lakukan selan-?"


"Zico, jam berapa ada rapat?" Potong Zello.


"Sekitar setengah jam lagi," sahut Zico.


"Keluarlah! Kembali ketika waktunya rapat," ucap Zello.


"Baik Bos."


Byarr.


Baru Zico mulai melangkah satu hamburan map dan foto-foto Rossa bertebaran karena amarah Zello. Zico yang melihat terpaku sesaat dan kemudian memungut kertas-kertas itu. Zico tidak mungkin menyuruh OB untuk membereskan hal privat seperti ini. Di pungutnya tanpa sisa dan ia bawa keluar ruangan Zello.


"Seharusnya aku memberikan ini setelah rapat. Bagaimana gara-gara ini mempengaruhi Bos Zello saat meeting nanti." Sesal Zico. "Ck."


***


"Hahaha. Aku pikir kamu cari pelampiasan karena aku akan menikahi wanita lain. Ternyata memang sudah dari dulu kamu menipuku mentah-mentah Rossa. Tanpa sepengetahuanmu, Rossa. Aku sudah menerima pernikahanku dengan Lilie sedari awal. Biarkan. Aku anggap kamu sudah memberikan pengantin pengganti dirimu. Pernikahan bukanlah permainan Rossa, dan kamu memintaku untuk menikahi wanita lain. Jangan salahkan hubunganku dengan Lilie sekarang."


Ceracau Zello mewakilkan rasa sakit hatinya.


"Pantas saja kamu selalu menutupi hubungan kita. Setelah kamu dapatkan karirmu, kamu juga berharap dapat kedudukan penerus Nyonya Golden Groub. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."


"Rossa, dadaku berdetak setiap melihat yang ada pada dirinya. Senyum, wajah, mata. Aku bingung sekarang ini. Aku harus marah padamu atau berterima kasih."


Zello memejamkan mata, menenangkan pikirannya. Hatinya sedikit lega setelah ceracauan gilanya berakhir. Dalam hitungan detik, wajah Veron menyelimuti angannya.

__ADS_1


Andai dalam penyelidikannya tidak menemukan bukti perselingkuhan Rossa. Zello sudah bertekad untuk setia dan menepis perasaannya yang mulai tumbuh, tapi sekarang ...?


__ADS_2