
Tidak terasa waktu terus berjalan. Berganti hari. Dan dimana Panee dan Maria akan kembali ke Paris.
Maria dan Panee kembali tanpa di temani sampai pesawat pribadinya. Hafiz dan yang lain melepas kepergian mereka saat masih di rumah Hanif.
"Papa ... Lilie ... tunggu mama ya! Nanti mama bakal kembali." Maria melambai dan berucap lantang dari dalam mobil yang sudah melaju.
"Bye Mah," gumam Veron dengan senyum sendu melepas keberangkatan mertuanya. Hanif yang nggak jauh dari sana tersenyum kecut.
"Lilie, apa kamu tadi dengar? Dia bilang akan kembali." Hanif menoleh ke Veron dengan senyum.
"Kenapa nggak dari dulu kembalinya kesini. Kakek rasa itu karena kehadiranmu. Seharusnya dari dulu kamu menikah dengan Zello." Hanif memutar kursinya, memberi kode ingin beranjak.
"Kek." Veron mendekat dan mengambil alih kursi roda dari Beni. Mendorongnya memasuki ruangan keluarga.
"Setelah mereka, kamu dan Zello yang akan keluar dari rumah ini."
"Lilie nggak pernah pergi Kek. Pagi sekali Lilie kesini dan pulang saat di jemput Zello. Jadi Kakek akan bisa bertemu dengan Zello juga setiap hari."
"Rumah Kakek beda jalur dengan apartemen Zello."
"Tidak apa Kek. Nanti Lilie akan beralasan nggak berani pulang karena sudah kesorean. Dan awas saja kalau dia tidak jemput."
"Hahaha, iya berusahalah."
Hanif dan Veron sudah sampai di ruangan keluarga. Menikmati kebersamaan sebelum Veron keluar dari rumah itu. Bercerita masa kecil Zello yang anak tunggal, kegilaan Panee dengan bisnisnya dan juga dengan hal-hal lainnya.
"Zello berarti hanya sendirian Kek. Dia pasti sangat kesepian waktu itu." Tanggap Veron dengan cerita Hanif.
"Dia selalu bermain bersama Rossa. Mereka bersahabat sejak kecil. Apa kamu sudah tahu tentang itu Lie?"
"Oh, sudah Kek. Jadi dia tidak kesepian lagi karena adanya Rossa," ucap Veron.
"Iya, dan apa Kakek boleh bicara sebuah rahasia sama kamu?"
"Katakan Kek! Kakek sudah terlanjur memancingku. Aku akan penasaran nanti." Antusias Veron.
Hanif terdiam sesaat dan memandang Veron, "tapi Kakek ragu. Lebih baik nggak jadi."
"Kakek ...." tuntut Veron.
"Aku rasa Zello ada rasa dengan Rossa waktu itu. Makanya, Kakek berniat menjodohkan mereka," ucap Hanif hati-hati.
Mulut Veron terbuka, tercengang dengan yang di dengarnya.
"Tapi Kakek kurang paham dengan perasaan Rossa. Kakek bertanya dengan Rossa terlebih dulu tentang hubungan mereka, dan memberitahukan niatanku untuk menjodohkan dengan Zello. Namun Rossa bersikeras menolak." Hanif membuang nafas kasar.
"Untungnya Kakek belum bilang ke Zello, takut Zello terlanjur senang namun berujung sakit hati karena dapat penolakan dari Rossa. Sehingga Kakek tidak pernah mengutarakan niatan Kakek itu ke Zello," imbuh Hanif.
"Beruntungnya, Zello dapat pengganti Rossa. Wanita yang bisa menyayangi Zello dan juga keluarganya." Hanif tersenyum lebar.
"Makasih, Kek." Veron tersenyum kaku. Andai Zello tahu akan hal ini.
'Pasti Zello tidak akan bisa tidur selama seminggu.' Benak Veron.
"Kakek harap kamu tidak salah paham sama Kakek karena memberitahumu soal itu. Dan Kakek tidak mau kamu berpikiran terlalu jauh. Kakek hanya takut kamu dengar dari orang lain. Itu akan terdengar lebih menyakitkan. Tentang hubungan kamu dan Zello pasti akan secepatnya menjadi pengisi satu sama lain. Cinta akan tumbuh sejalannya waktu."
Mendengar ucapan Hanif, ada rasa tak nyaman di lubuk hati Veron.
Andai pernikahan ku sudah berakhir. Apa aku dan Kakek akan tetap hangat seperti ini. Veron membatin sedih.
***
__ADS_1
"Tidak perlu di bawa semua. Bawa secukupnya saja. Nanti kamu bisa beli lagi," jelas Zello.
Zello melempar jasnya ke sofa, berjalan ke kamar mandi melewati Veron yang tengah berkemas tanpa membalas ucapannya. Semenjak perdebatan mereka, Veron jadi sedikit bicara dengan Zello.
Selesai berkemas, Veron mengistirahatkan tubuhnya di ranjang. Memejamkan mata, ngantuk.
"Aku mengantar Rossa dulu." Suara Zello di telinga Veron. Veron enggan menjawab memilih terus menutup mata dan bibirnya.
Hari ini Marie, Panee, Rossa dan mereka berdua akan keluar dari rumah ini. Secara bersamaan. Sangat menyakitkan untuk Hanif. Veron benar-benar tidak menyangka Zello akan setega itu dengan Hanif.
Zello yang sudah turun tangga memandang wajah tua Hanif. Memberikan senyum kecil dirinya. "Kek."
"Sepertinya kamu akan pergi?"
"Iya. Aku akan mengantar Rossa sampai bandara. Dia sudah menungguku di depan," jelas Zello.
"Hm, hati-hati di jalan."
"Iya, Kek." Zello memang tidak menutup-nutupi perhatiannya ke Rossa. Selain dimata Kakek mereka sepasang sahabat, Kakek sendiri juga dekat dengan Rossa. Dan tentunya Kakek tidak akan keberatan dengan perhatiannya terhadap Rossa. (Benak Zello)
Di lain sisi, Veron yang tengah di ranjang mengurungkan tidurnya. Kedatangan Dahlia di kamarnya membuat ngantuknya hilang.
"Nona, di apartemen nanti adalah kesempatan Nona untuk supaya lebih dekat dengan Tuan Zello. Karena dalam beberapa minggu ke depan tidak akan ada Nona Rossa berkunjung ke sana," ucap Dahlia serius. Sedang Veron hanya mendengarkan dengan malas.
"Nona, baik-baik saat malam di sana. Pagi hari ketika Nona mulai beraktivitas keluar. Saya akan ke apartemen Nona," sambung Dahlia.
"Hm? Apa kamu tidak tahu. Aku akan kesini setiap hari untuk mengunjungi Kakek," ujar Veron.
"Iya Nona. Tapi saya juga tetap saja akan ke tempat Nona saat tidak ada Tuan Zello. Saya bertugas menemani sekaligus menjaga Nona. Itu tugas saya. Walaupun Nona akan kesini setiap hari, anggap saja saya menjemput Nona."
"Yasudahlah. Terserah kamu saja."
Kamu mendukungku karena Rossa buruk di matamu. Jika kamu tahu diriku sebenarnya, pasti kamu akan bunuh diri di tempat. (Batin Veron).
"Lilie, jangan terlalu memberi kebebasan Zello dan Rossa terus mendekat. Wanita sering terlambat menyadari perasaannya. Ketika pria sudah jauh atau saat sudah berstatus milik orang lain."
Veron menggeleng mengingat petuah Maria. Namun hatinya merasa sedikit hangat mendapatkan banyak dukungan dari semua keluarga Zello.
Andai ...
Veron menjambak rambut dan menggelengkan kepala tidak mau berpikir liar lebih jauh.
***
"Kakek, tunggu Lilie besok pagi." Veron melepas rangkulannya, memandang pria tua berwajah hangat di depannya.
"Pergilah! Dan jadilah istri yang baik." Hanif tersenyum, meyakinkan dirinya baik-baik saja.
"Kakek." Veron merangkul kembali pria tuanya.
"Zello sudah menunggumu. Ini sudah larut malam," ucap Hanif.
Dengan enggan Veron menuju mobil dan naik kursi depan.
Brakk. Veron menutup pintu mobil, melambai dengan wajah sayu ke Hanif. Veron benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Meskipun dirinya akan mengunjungi Hanif setiap hari, tetapi tetap saja berbeda.
***
Waktu menunjukkan pukul 21.00, mobil Zello bergerak melaju membelah kota beriringan dengan pengendara lain. Padatnya penduduk di ibu kota, tidak mengurangi keramaian lalu lintas di jalur yang sama. Dengungan mesin-mesin mobil memecah kesunyian diantara Zello dan Veron, yang sama-sama terdiam. Zello yang memandang lurus ke jalan sementara Veron memandang luar jendela dengan bersandar di kursinya.
Keluar dari jalur bebas hambatan, Zello melajukan mobil ke tempat makanan cepat saji. "Aku lapar," ucap Zello.
__ADS_1
Veron melirik Zello dan menyadari keberadaan mereka. "Pesanlah!"
"Kamu?"
"Aku masih kenyang."
Mobil Zello berhenti tepat di area pemesanan outdorr. "Dua, dengan minum dinginnya." Pesan Zello.
"Seratus lima ribu, Tuan."
Veron yang lebih dekat dengan tempat pemesanan inisiatif untuk menerima makanan, dan Zello juga langsung membayar dengan tubuh di depan tempat Veron. Yang membuat mereka berjarak sangat dekat.
"Ambil sisanya," ucap Zello.
"Terima kasih, Tuan."
Mobil Zello yang kembali melaju, membuat mereka duduk tenang lagi di tempat duduknya. Veron memberikan cemilan hangat itu ke Zello.
"Terima kasih." Zello langsung mengunyah burgernya dengan satu tangan, yang sedikit kerepotan karena besarnya ukuran makanan itu.
"Butuh bantuan?" tanya Veron. Yang nggak dapat sahutan dari Zello. Veron nggak tahu alasan Zello tidak menjawab tawarannya. Karena nggak mau atau karena mulutnya sudah penuh dengan makanan itu.
"Sini." Veron mengambil burger dari tangan Zello dan menggantikan perannya, memegangkan burger untuk Zello. Mengadahkan makanan itu di depan Zello. Zello memandang makanan yang di tangan Veron dan mengigitnya dalam gigitan besar. Menikmati makanannya sementara kedua tangannya fokus ke setir mobil.
"Makanlah punyamu!" ucap Zello.
"Kan tadi aku bilang masih kenyang."
"Aku beli dua."
"Siapa suruh."
"Makan atau buang!"
"Aku nggak bisa makan, tanganku sudah penuh dengan burgermu," dalih Veron.
Aa, Zello membuka mulutnya lebar dan langsung dapat sodoran makanan dari tangan Veron. Menggigitnya dalam gigitan besar. Melakukan lagi dalam satu gigitan langsung.
"Punyaku sudah habis. Makanlah punyamu!"
Veron menoleh, melihat Zello dengan wajah kesal.
"Aku akan berikan ke orang lain nanti."
"Makan atau buang. Aku nggak suka pemberianku di berikan ke orang lain," cetus Zello. "Makanlah, selagi dagingnya masih hangat!" ulang Zello.
Dengan wajah dongkol, Veron membuka makanan dan menggigitnya dalam gigitan sangat besar. Wajah dongkol dengan mulut penuh isi, sudah seperti queenkong. Zello mengunci bibirnya rapat-rapat takut tawanya meledak.
Susah payah Veron menghabiskan makanan itu. Kenyang dan berimbas lekat kedua kelopak matanya.
"Masih jauh?" Pertanyaan Veron sudah seperti gumaman karena terlalu mengantuk.
Zello menoleh, melihat Veron yang tengah memandangnya dengan mata sedikit terbuka.
"Itu makanan atau obat tidur," keluh Veron.
"Jangan melihatku terus, nanti mobilnya nabrak kendaraan lain," sambungnya.
Celoteh Veron yang mirip gumaman membuat Zello merasa tergelitik. Membuang muka, menyembunyikan senyum tipisnya.
"Dasar, kita sudah sampai. Mobilnya sudah berhenti dari tadi."
__ADS_1