Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Pesta


__ADS_3

Sudah dua hari Veron di rumah Panee, tapi baru pagi ini ia bisa bertatap muka. Tepatnya saat sarapan pagi ini.


"Kamu terlihat sangat cantik pagi ini. Apa Zello sudah mengatakan itu pagi ini? Kalau belum kamu boleh memukul kepalanya." Panee melihat Zello yang tengah menatap kagum ke Veron.


"Kalau aku memukulnya, Zello tidak akan akan pernah mengatakan itu nanti," sahut Veron.


"Dia tidak akan marah."


"Bukan marah, takutnya gagar otak." Veron tertawa kecil.


"Kamu mengatakan itu sembari tertawa. Apa kamu senang bila itu terjadi padaku." Sela Zello.


"Bagaimana aku bisa senang. Kalau kamu gagar otak, kamu akan mencari penggantiku. Banyak wanita cantik di luar sana."


"Baguslah, kalau kamu tahu. Maka jagalah suamimu ini baik-baik."


Maria dan Panee yang berada di meja yang sama saling melempar pandang, paham akan perubahan hubungan mereka yang dulu kaku kini mulai mencair dan manis.


Melihat kakunya hubungan mereka dulu, membuat Panee menduga kalau Zello menikah hanya atas kehendak Hanif. Tapi sekarang, dirinya merasa lega, andaipun memang awal dari paksaan. Paling tidak sekarang membuahkan hasil yang membuat dirinya ikut bahagia.


Sementara Veron, menatap Zello penuh arti. Di lain sisi, wajah Veron yang penuh harap sangat menggemaskan.


"Pah. Mumpung kita kumpul. Bagaiman kalau kita pergi bersama nanti," ucap Zello.


"Aduh, papa kan sibuk. Mana bisa pergi-pergi seperti itu."


Veron merutuki jiwa kekanakannya, dapat penolakan demikian saja hatinya langsung uring-uringan tidak jelas.


"Tapi ... andai, menantuku yang bilang mungkin aku akan berubah fikiran." Goda Panee yang melihat wajah kecewa menantunya.


Wajah kecewa Veron langsung sirna berganti memerah karena malu, merasa Panee mengetahui itu sebenarnya adalah keinginan dirinya.


Suasana hening sesaat dengan menampilkan wajah menahan tawa dari semua yang di meja, kecuali Veron. Veron mendadak merasakan hawa dingin karena semua mata tertuju ke dirinya dengan tawa yang akan meledak dari bibir mereka.


"Kenapa kamu jadi pemalu begini," ucap Panee, yang di susul kekehan kecil dari bibir Zello. Benar-benar membuat wajah Veron semakin memerah.


"Lilie nggak malu, Pah. Hanya ragu, papa kan suka sibuk."


"Tadi bilang sama aku nggak demikian," sindir Zello.


Ck. "Iya iya," ucap Veron kesal.


"Pah, Papa ada waktu luang nggak. Pasti akan menyenangkan kalau kita bisa bepergian bersama-sama." Veron menggigit bibirnya, melawan rasa canggungnya.


"Hahaha iya. Apa yang nggak buat Menantu Kesayangan." Ucap Panee dan beralih menatap Zello dan berbisik, "Zello, papa berasa di ajak kencan sama Lilie."


"Hahaha."

__ADS_1


"Sudah, jangan semakin membuat wajahnya memerah," ucap Maria.


"Mama ...." Keluh Veron. Apa bedanya, ucapan Maria membuat wajahnya memerah juga.


"Hehe iya, Sayang. Sudah nggak usah bahas itu. Yang penting, kamu terima beres saja. Oya, nanti sore kamu ikut mama ya."


"Kemana, Mah?"


"Keluar bareng."


"Siap, Mah."


***


Sore hari, Maria mengajak Veron untuk massage di salon langganannya. Maria tahu betul kalau menantunya itu pasti capek. Selesai massage, mereka membersihkan tubuh di tempat yang sudah di siapkan.


"Bagaimana, enak kan?" ucap Maria, sembari mengajak Veron untuk duduk di depan meja rias. Dan Veron mengiyakan semua keinginan Maria.


"Iya, Mah. Seger, aromanya juga belum pernah Lilie temuin." Veron menghirup lengannya yang masih beraroma khas setelah melakukan berbagai rentetan perawatan di sana.


Di sana, Veron juga bisa melihat-lihat aneka parfum tester yang terletak di meja.


"Kita nanti bisa memilihnya di sana, Sayang. Berbagai aroma parfum, yang susah untuk di dapatkan di luar." Tunjuk Maria ke toko sebelah.


"Oh...."


Seorang pegawai salon berparas cantik menghampiri Veron dan dengan lincah mengaplikasikan berbagai alat di wajah Veron.


Veron yang mendapat riasan mengernyitkan dahi, melihat riasan sang pegawai yang begitu mendetail membuatnya merasa sedikit heran. Karena ia tadi asal mengiyakan keinginan Maria sehingga membuatnya bertanya-tanya.


"Mah, apa kita ada acara?" tanya Veron.


"Ada. Tapi rahasia." Maria yang duduk di kursi juga menikmati riasan di wajahnya.


"Wah, mama bisa banget bikin Lilie berbunga-bunga."


"Senang ya mau dapat surprise."


"Banget."


***


Rumah Panee yang awalnya sepi sudah ramai dengan para tamu koleganya. Tata ruang khas Paris yang mewah di rumahnya membuat para tamu menatap kagum dan sama-sama melontarkan pujian kepada sang pemilik rumah.


Panee dan Zello sendiri sebagai pemilik dan penyambut tamu secara langsung juga sangat puas dengan dekor sederhana mereka. Acara sederhana dengan penampilan terbatas namun membuat mereka terpukau.


Hari ini Panee memang sengaja membuat acara perkenalan Veron sebagai anggota keluarga barunya. Terlebih Veron dan Zello hanya seminggu di tempat mereka. Membuat Panee ingin memanjakan menantunya itu. Bagaimana tidak. Zello sudah berumur sekian baru menikah. Dan riwayat Zello yang tidak pernah menjalin hubungan kekasih sekalipun, membuatnya dirinya pernah berfikir kalau Zello salah bergaul dan menjadi penyuka sesama sejenis. Panee benar-benar merasa lega karena Veron sudah berhasil mematahkan asumsinya.

__ADS_1


"Zello, coba telepon mereka! Kenapa belum sampai juga."


"Itu mereka, Pah." Zello berkata tanpa melihat wajah Panee, matanya fokus dengan wanita berdress panjang merah muda dengan belah pinggir sebatas paha. Dengan senyum menawan terulas di bibirnya yang tipis dengan sempurna. Nggak hanya Zello, semua mata para tamu tertuju padanya.


"Nah, itu wanitaku." Panee menuju tempat Veron dan Maria turun. Kedua wanita beda generasi itu sama-sama tampil cantik dan menawan.


Veron dan Maria yang dapat sambutan langsung mengaitkan tangan mereka ke lengan Panee. Veron di lengan Panee sebelah kiri sementara Maria sebelah kanan Panee. Sama-sama berjalan dengan langkah serempak membuat mereka terlihat sangat manis yang dapat senyuman kagum dan tepukan tangan dari para tamu.


Sesampai di tempat utama pesta, Veron beralih ke Zello yang sudah menantinya dengan senyum yang terulas manis di bibirnya.


"Kamu terlihat cantik hari ini," ucap Zello.


"Itu kata-kata papa." Veron tersenyum tipis dengan mata menyipit.


"Memang, aku ingin mengatakannya sebelum kamu memukulku." Goda Zello.


"Ouhh," ucap Veron singkat dengan senyum mengembang. Veron tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, tidak menyangka akan di berikan kejutan seperti ini. 'Akan dikenalkan sebagai anggota baru keluarga Agraham'. Rasa senangnya yang bercampur haru membuat matanya sedikit memerah.


"Kenapa?" tanya Zello melihat tatapan Veron.


Rasanya Veron ingin menabrakkan tubuh Zello dan memeluknya, rasa yang bersarang di dadanya saat ini tidak bisa ia ungkapkan.


Dengan cepat Veron menghapus sudut matanya yang telah berembun.


"Lilie sayang. Kamu kenapa?" tanya Maria.


Seakan paham dengan keadaan Veron Zello merengkuh tubuh Veron ke dalam tubuhnya, memeluknya erat.


"Sayang ...." Maria sedikit cemas dengan yang dilihatnya.


"Lilie, kamu menangis karena pujian Zello atau karena pesta ini?" imbuh Maria.


"Berjanjilah untuk selalu setia. Kalau tidak aku akan menghukum Zello," ucap Panee.


"Mengapa Zello?" tanya Maria heran, tidak kalah dengan Veron dan Zello yang dahinya sama-sama berkerut.


"Kalau Lilie sampai tidak setia berarti Zello yang tidak pecus menjaganya," sahut Panee. Sementara Veron langsung menggigit bibirnya menahan tawa yang kemudian menatap Zello yang berwajah rona bahagia. Rona bahagia dari keduanya membuat mereka saling mengeratkan pelukan satu sama lain.


Desiran aneh dan detakan jantung mulai saling menyambut, membuat mereka saling bersitatap cukup lama, sama-sama menikmati percikan gejolak api asmara yang memabukkan.


Sama-sama terlena yang berakhir dengan menyatunya kening mereka.


"Terima kasih, Zello." Ucapan Veron yang dapat balasan kecupan lembut di hidungnya.


"Ehem." Dehem Panee melerai lembut kedua insan itu, "ayo ke sana dulu!" Panee menggiring mereka semua ke tempat utama penyambutan tamu.


Maria menepuk jidatnya. "Papa ini, ganggu aja."

__ADS_1


***


__ADS_2