Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
My Veron


__ADS_3

Pandangan Veron yang sudah sampai lantai bawah pun menoleh ke arah meja makan yang terlihat dari sana.


"Sayang," panggil Zello.


Dengan langkah dan senyum tipis kecil Veron mendekati Zello yang sudah bersama yang lain,- Zico- Dahlia- . Desy pun dengan langkah pelan mengikuti Veron dari belakang.


"Sudah lama pulang?"


"Belum lama. Tapi tadi pelayan bilang kamu lagi sedang ada tamu. Jadi aku tidak ke kamar."


"Emh, maaf Tuan Zello sudah mengganggu waktu istirahat Anda," ujar Desy.


"Bukan, bukan begitu. Aku sekedar berbicara saja. Bukan berarti terganggu sama kamu. Siapa nama kamu?"


"Desy."


Zello mengangguk dan sembari duduk di kursinya.


"Sayang, aku lapar," ucap Zello


"Iya." Veron mengambilkam sarapan yang memang masih tersedia di atas meja.


"Habis olahraga tapi langsung makan, Tuan. Apa tidak merasa akan percuma," seloroh Dahlia.


"Tidak apa. Ayo, Zico. Oya, Desy juga."


"Saya sudah kenyang, Tuan. Terima kasih."


"Ayo! Tidak perlu malu-malu. Biasanya kamu tidak tahu malu, selalu minta traktiran nona," ucap Dahlia dengan kekehan.


"Dahlia," tegur Veron.


"Tidak masalah, Nona. Sudah sewajarnya teman saling mentraktir. Jadi tidak perlu malu."


"Apa kakek sudah sarapan?"


"Sudah. Tapi kakek masuk kamar lagi."


"Oh."


Veron sudah duduk di kursi sebelah Zello, menyodorkan sarapannya.


Menyodorkan sarapannya. Tapi malah langsung disodorkan balik oleh Zello.


"Ayo, belajarlah untuk tidak tahu malu!" Zello memberi titah dengan mimik menggoda.


Dengan wajah tersipu Veron memberikan suapan ke Zello. Sangat menyukai sifat manja pada diri Zello.


"Mm, enak ya. Pacaran setelah menikah. Nanti aku pengen kaya gitu," ujar Dahlia sembari kabur dari tempatnya.


Aktivitas mulut Zico yang sedang mengunyah terhenti mendengar ucapan Dahlia. Alisnya bertaut.


"Sayang, Desy akan pulang kampung. Aku berniat untuk mengantar sampai tempat pemberangkatan. Tidak masalah, kan?!"


"Oh ya. Kapan?"


"Sekarang."


"Baiklah, aku antar."


"Kalau kamu capek tidak perlu mengantarnya. Ada Dahlia. Aku juga langsung pulang setelah dari sana."


"Mm, yaudah tidak masalah. Yang penting Dahlia bersama kamu."


"Terima kasih, Sayang."


***


Tidak banyak obrolan yang keluar dari mulut mereka. Dari Desy maupun Veron sendiri. Mereka seakan belum rela semua akan berkahir demikian.


Ada rasa sedikit merasa bersalah dengan Veron karena telah mengatakan semua itu ke Veron. Nyatanya, ucapan dirinya membuat Veron lebih banyak diam.


Tapi, Desy tidak ada pilihan lain. Desy berniat baik supaya Veron waspada. Desy sendiri memilih langsung pulang kampung karena saat kejadian merekam Dave terlupa kalau di ruangan itu ada cctvnya. Menjelang pagi, Desy baru teringat dengan cctv yang terdapat di kamar Dave. Dan rasa takut menjalar dengan cepat di dirinya.


Mengundurkan diri ke Dave dengan alasan iri ke Veron. Bisa ingin menjalani hidup sehari-hari. Menikah. Mempunyai suami yang baik. Membuat Dave mengangguk seakan membenarkan ucapannya dan Dave seperti tidak ingin mempermasalahkannya.


Mereka yang sudah sampai stasiun tidak perlu menunggu lama, hanya sekitar lima belas menit. Kereta bisnis sudah siap untuk menampung penumpang di stasiun itu.


"Veron. Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu berdoa untukmu. Dan kamu juga harus mendoakan aku. Aku ingin punya suami seperti Zello. Dja sangat menyayangimu Veron. Pantas kamu terlalu takut untuk kehilangannya dan keluarganya."


"Iya, Des. Aku memamng orang paling beruntung sudah masuk di keluarga Zello. Terlebih sikap Zello sendiri. Maka dari itu aku-,"


"Sudah!" Desy memeluk Veron.


"Kita pasrah saja. Keluarga Hanif aku rasa akan tetap menerimamu. Itu masa lalu kamu. Kamu sudah bertekad dari dulu kalau kamu ingin berhenti dan keluar dari tempat itu." Desy melepaskan pelukannya. Tersenyum tipis dengan mata dan hidung memerah menahan tangis. "Bye."


Lambaian kecil Veron layangkan, selebihnya menatap tak rela Desy memasuki kereta. Desy pulang kampung karena dirinya. Andai bukan karena dirinya, dirinya bisa kerja di tempat lain tanpa harus pergi jauh dengan pulang kampung.


Dahlia yang mendengar dan melihat mereka hanya cukup menerka dalam hati. Mungkin nanti nonanya bila sudah siap akan berbagi cerita.


****

__ADS_1


[pov. Veron]


Siapa yang sekarang menaruh curiga denganku?! Aku tidak peduli. Dengan terus bersikap tegang, dengan terus dihantui rasa takut, apa pengaruhnya buat aku? Sekarang tidak ada yang bisa menolongku. Seperti nuklir yang siap meledak kapan saja. Aku sudah pasrah.


Tapi aku sudah bertekad, menggunakan sisa hariku di sini sebaik mungkin. Sebaik mungkin jadi istri, sebaik mungkin jadi cucu, sebaik mungkin jadi anggota keluarga. Meski ada yang meragukanku. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikmati semua yang aku miliki sekarang.


Takut, cemas. Kubuang rasa semua itu. Aku tidak ingin semua itu mengurangi rasa bahagiaku, bahagiaku yang hanya sementara.


***


[pos Author]


"Sayang.... " Veron memeluk tubuh Zello dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut suaminya yang padat.


"Hm." Zello yang masih berhanduk sepinggang mencakup tangan istrinya. Meremasnya dengan lembut.


"Mulai sekarang aku boleh nggak manggil suamiku ini 'mas'?"


"Apa?" Zello meraih lengan Veron, menuntunnya hingga berada pelukannya.


"Mas."


Zello tercengang dengan yang di dengarnya. Sesaat bibir Zello merekah, tidak menduga istrinya memanggil sesuai keinginannya.


Tangan Zello terulur menangkup pipi istrinya. Entah bagaimana dia mengungkapkan perasaannya saat ini.


Veron tersenyum geli dengan ekpresi suaminya. Hanya dengan memanggil 'mas' ternyata sudah membuat suaminya terlihat mabuk kepayang. Mata Veron beralih ke tangan kokoh suaminya yang sedikit gemetar.


"Tangan kamu gemetar."


"Aku, terlalu senang."


Veron tersenyum kecil. Meraih tangan Zello, menggenggamnya erat. "Mas Zell." Mencium punggung tangan Zello dengan lembut. Dada Veron ikut bergetar. Hatinya membuncah. Terlebih melihat sorot mata Zello, seakan membuat dirinya melayang.


Getaran dengan indah mengantarkan wajahnya, mengikis jarak yang ada. Mendaratkan bibir manisnya di bibir suami yang sangat ia cintai. Dengan perlahan tapi pasti merasakan dan menikmati bibir sensual milik suaminya.


***


Meski tidak yakin akan membuahkan hasil. Tapi Zico melakukan niatan awalnya. Semalam menyuruh orang untuk ke club sebagai pria hidung belang yang butuh kepuasan dari seorang wanita. Tidak lupa juga Zico menyuruh mencari foto Veron disana. Apakah ada foto Veron yang terlampir dari banyaknya pilihan wanita yang bisa memuaskan para pria hidung belang.


Dan hasilnya. Nihil.


Pesan yang di terimanya cukup jelas. Pria suruhannya tidak menemukan apa-apa.


Mungkin saja Veron memang berbohong dengan masa lalunya. Tapi mungkin juga Veron bukan wanita malam.


Zico meraup wajahnya kasar.


Bib. Pesan suara telepon di meja Zico.


Dengan cepat Zico mengirim nomor.


Zico terkesiap di duduknya. Membenarkan posisi tubuh dan segera mengotak-atik laptopnya. Nomor Zein. Bukankah Zein menyimpan foto Lilie?


Dengan tangannya sendiri. Berbekal ilmu yang dia dapat dari temannya, Zico mulai mengotak-atik laptopnya.


Hahh. Zico menatap layar yang ada di depannya. Sudah merasa lelah sebelum bertempur. Zein tidak memisahkan kontak untuk urusan pribadi dengan urusan kantor. Membuat semua pesan dan tersalin dengan begitu banyaknya.


Tangan Zico dengan cekatan memainkan mousenya, membuat tanda panah di layar bergulir ke atas ke bawah menelusuri dengan cepat. Secepat dan sedetail mata Zico menelusuri banyaknya tulisan disana.


'Mr. D'


Zico ingat betul dengan kontak Mr. D di nomor istri bosnya. Dave.


Zico tidak mau menerka-nerka. Dia langsung mengklik dan menampilkan keseluruhan pesan di sana.


Zico fikir dirinya akan kesulitan membaca inti pesan ini. Karena beranggapan perihal pesan pribadi dan kerjasama akan jadi satu. Tapi nyatanya tidak, murni pesan pribadi yang tertera.


[Tak bisakah kamu mengosongkan jadwalnya untukku saja malam ini?] Zein.


[Tidak bisa. Semua tergantung Veron sendiri]


Mr. D


[Buatlah besok malam hanya untukku] Zein


[Kamu bisa mengirim pesan sendiri. Dia yang melakukan, dia yang menentukan ]Mr. D


[Bukankah kita partner juga di luar]


[Sudahlah. Aku tidak mau memaksakan yang membuat dia tidak nyaman. Hubungi saja Joan, dia akan memberikan wanita paling sexy di sini untukmu]


[Menurutku hanya Veron yang paling sexy]


[Dimana, Veron ] Zein


[Disewa enam bulan. Dibawa keluar negeri] Mr D


[Benarkah? Kenapa tidak ada yang mengabariku] Zein


[Emot ketawa]Mr D

__ADS_1


[Dave, aku ingin Veron menjadi milkku] Zein


[Kamu pikir aku akan melepaskan Veron ke pria brengsek seperti kamu]Mr.D


[Apa bedanya aku dan Veron] Zein


[Bedebah]Mr. D


Zico tahan nafas membaca rentetan pesan itu. Berarti? Benar?!


Tangan Zico memainkan mousenya lagi. Membuat isi layar bergulir ke atas bawah.


'My Veron'


Huufz. Zico mengklik mousenya. Membaca keseluruhan isi pesan itu.


Mata Zico membulat dengan apa yang dibacanya. Tidak ada pesan yang tidak senonoh, hanya saja mampu membuat dirinya meradang.


Zico beralih melihat foto profil My Veron. 'Lilie' dan melihat nomor kontaknya. Berbeda dengan nomor yang dipakai Lilie sekarang. Sudah jelas. Tentu saja. Lilie memang cerdik dan li... cik.


"Zico."


"B-Bos." Zico terlonjak dari duduknya.


"Aku minta nomor CEO baru, bukan nomor ceo yang sudah keliang lahat. Ada apa denganmu?" tanya Zello mengintimidasi. Tidak biasanya Zico melakukan kesalahan. Pesan yang ia kirim pun tidak dibuka. Membuat Zello meradang di ruangannya.


Tidak biasanya Zico gagal menutupi kegugupannya. Zico belum siap untuk memberi tahu Zello sekarang.


Tanpa sadar ekor mata Zico terarah ke laptop yang menyala disana. Utuh dengan fakta yang baru saja ia dapatkan.


"Ada apa?" Zello mengikuti arah lirikan mata Zico.


"Apa ini?" Mata Zello menyipit membaca tulisan balas berbalas di layar itu.


[Aku sangat puas dengan pelayananmu semalam]


[Emot senyum]


[Aku sedang di toko perhiasan. Pilihlah, aku akan membelikan untukmu]


[Video perhiasan ]


[Kurasa tidak perlu, Tuan]


[Ayolah]


[Terserah Tuan saja]


[Ok. Aku pilihkan]


[Nanti malam apa sudah ada yang menyewamu]


[Ada]


[Full?]


[Tidak ]


[Sisa waktumu tolong untukku]


[Baiklah]


[Veron kamu dimana]


[Apa benar kamu di sewa orang dalam kurun waktu lama]


[Please, Veron. Keluar saja dari tempat Dave. Aku akan menjagamu]


[Sekarang kamu dimana? Aku sangat merindukanmu. Aku gila, Veron. Aku gila tanpamu]


Beg. Zello membanting mouse yang tadi pegangnya. Pikirannya yang awal bingung dengan tulisan itu mendadak panas. Hatinya bergemuruh. Veron. Itu nama panjang Lilie.


"APA MAKSUD SEMUA INI?" Hardik Zello.


"Bos...."


"Pesan siapa yang kamu retas Zico? Apa jangan-jangan itu pesanmu? Hai?" Suara Zello menggelegar ke seluruh ruangan.


Zico baru kali ini melihat bosnya demikian. Belum pernah sebelumnya. Zico mematung.


"Zico." Dug .... Kursi Zico yang jadi pelampiasan terbalik ke lantai.


"JAWAB!"


Zello meraih kerah Zico. Menatap tajam siap untuk menerkamnya.


"Jawab Zico.... " lirih kecewa Zello. Mata dan hatinya memanas. Tidak mau berfikir jauh, tapi tulisan itu...


"Ze-Zein."


Mata Zello melebar. 'Zein, Veron'

__ADS_1


"Siapa Veron disana? Jangan katakan itu Veronku, Lilieku Zico!" Suara Zello bergetar. Bergemuruh dengan sesak di dada.


"Maaf." Zico mengusap hidungnya yang memerah. Satu tetes bening jatuh dari mata Zico. Jatuh tepat di tangan Zello yang mencekal kerahnya.


__ADS_2