Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Pengakuan Zello


__ADS_3

Veron melihat punggung Rossa yang meninggalkan apartemen.


"Sudahlah, semua sudah selesai," Zello berucap sembari memeluk Veron.


Seakan masih menggema diruangan itu umpatan-umpatan Rossa di telinga Veron. Veron yakin Rossa tidak akan tinggal diam.


Masih dengan sedikit linglung, Veron menurut dengan Zello yang menuntunnya untuk duduk di sofa. Zello menggenggam kedua Veron dengan erat. Tatapannya pun sangat dalam dan hangat. Tidak lupa juga senyum manis bertengger di bibirnya. Veron yang melihat senyum Zello hanya bisa membalas dengan senyum tipis. Veron senang, meski ada rasa gundah juga di sudut ruang hatinya.


"Kenapa?" tanya Zello. Raut gelisah Veron tertangkap jelas oleh Zello.


"Aku-hanya memikirkan kakek. Apa kamu yakin kakek akan baik-baik saja." Dalih Veron.


"Tentu saja. Kakek sudah tahu. Nanti aku akan memberitahu kakek kalau kita sekarang sudah jadi suami istri seutuhnya. Kakek pasti sangat senang."


"Kamu ingat saat kita hendak ke Paris kita mampir dulu di rumah kakek? Saat itulah aku mengatakan semuanya sama kakek."


"Benarkah?"


"Iya. Kakek juga yang meyakinkanku. Pernikahan kita akan selamanya utuh." Senyum mengembang di bibir Zello.


"Di Paris pula saat kita hendak ke Itali. Aku kecewa karena gagalnya kita kesana-ke Itali. Kamu tahu kenapa?" ucap Zello lagi.


Veron mengingat kejadian saat di Paris. Ingatannya langsung ke Zello dengan antusias ke tempat itu. Karena soal pekerjaan, akhirnya semua rencana ke Itali harus dibatalkan. Ah, ada yang Veron ingat lagi. Rossa menantikan Zello di Itali. Veron mendesah setelah mengingat semuanya.


"Sudah ingat?"


Veron hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Zello.


"Kamu tahu, aku sudah merencanakan kalau kita akan berkuda di sana. Bukankah kamu sangat ingin berkuda waktu itu."


Veron terheran dengan penjelasan Zello. Benarkah Zello kecewa karena hal sepele.


"Dan karena batalnya bertemu Rossa di sana." Sambung Zello.


Veron tidak menyangka Zello akan mengatakan itu juga. Akan sejujur itu. Veron terdiam dengan tatapan kesal.


"Seharusnya saat itu, disana. Aku memutuskan hubunganku dengan Rossa. Tapi karena perihal perusahaan. Akhirnya aku baru bisa memutuskannya barusan."


'Jadi, waktu itu?' Veron teringat saat dirinya merasa kecewa karena menduga Zello sudah berniat kencan dengan Rossa. Tapi inilah kenyataannya. Mendadak hati Veron menghangat mendengar penjelasan Zello.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku, Zello?" tanya Veron pelan. Perlakuan Zello, penjelasan Zello, sepertinya belum puas untuk diri Veron. Veron ingin mendengar kalimat itu lagi. Kalimat yang bisa menghangatkan hatinya, yang bisa membuat dirinya lebih hidup, yang bisa membuat dirinya merasa benar-benar dicintai.


"Aku mencintaimu, Lilie. Sangat mencintaimu." Zello menyatukan bibir mereka, mengulum, menikmati bibir tipis istrinya dengan lembut. Seakan itu perwakilan ungkapan cintanya.


Balasan hangat Veron berikan. Mendapatkan balasan dari Veron membuat Zello menikmatinya semakin dalam. Dadanya naik turun karena hasratnya memuncak. Tanpa melepas pagutannya tangan Zello terulur membelai pipi Veron dengan lembut. Puas di bibir Zello beralih di dagu Veron, mengecupnya hangat. Disitu pula Zello bisa melihat Veron dalam keadaan mata terpejam.


Tanpa Zello ketahui, sudut hati Veron merasa tidak nyaman. Ada rasa bersalah hinggap di hatinya. Rasa bersalah karena tidak jujur dengan Zello atas identitasnya.


'Zello, maafkan aku. Aku tidak bisa jujur. Aku takut kehilanganmu, keluargamu. Aku butuh keberanian untuk mengatakan itu semua. Aku benar-benar tidak memilikinya. Aku, aku akan mengatakannya Zello. Nanti. Aku butuh waktu. Maafkan aku Zello. Semoga nanti kamu tetap mencintaiku. Semoga nanti rasamu untukku tidak berkurang.'


Emh.... Lenguhan kecil meluncur dari bibir Veron saat sentuhan bibir lembut Zello berada di leher Veron.


Lenguhan Veron membuat Zello bersemangat, semakin buas di leher Veron yang wangi. Veron sendiri sangat menikmati sentuhan Zello, matanya masih terpejam. Tangan Veron terulur menyentuh dada Zello yang masih berlapis baju. Bukan untuk membalas sentuhan Zello. Tapi untuk menahan tubuh Zello, sedikit memberi jarak untuk tubuh mereka. Rasa bersalah di diri Veron membuat dirinya tidak mampu menerima perlakuan Zello lebih lanjut.

__ADS_1


Zello yang sedang berhasrat tinggi namun masih bisa merasakan tangan Veron yang memberikan sedikit tekanan di dadanya, lebih tepatnya dorongan. Penolakan lebih lanjut.


Mendapati sikap istrinya demikian, Zello menghentikan ulahnya dan memundurkan tubuhnya dari diri Veron.


Mundurnya Zello bersamaan juga terbukanya mata Veron. Mereka bersitatap dengan nafas sama-sama naik turun.


"Zello aku." Suara Veron, itulah yang ingin di dengar Zello. Ingin mendengar penjelasan dari Veron kenapa dirinya di tolak.


"Zello, aku sangat menikmatinya, sungguh. Aku juga sangat mendambakannya. Tapi, aku- sedang- lampu merah." Veron berucap sedikit menunduk, dan menggigit bibirnya. Tidak mungkin Veron berkata yang sebenarnya. Semua itu hanya dalih Veron. Dirinya merasa bersalah, belum siap. Perasaan tidak nyaman menyelimutinya, karena kebohongannya sendiri.


"Oh. Sini." Zello meraih wajah Veron . Bibirnya mengulum senyum. "Jadi, berapa hari lagi?"


"Baru mulai hari ini. Mungkin satu minggu lagi."


"I Love you, aku akan menunggumu sampai siap. Apa, sebenarnya kamu masih ragu dengan perasaanmu?"


Entah kenapa Zello merasa itu hanya alibi Veron. Dengan segera Veron menggeleng.


"Nggak, aku juga sangat mencintaimu. Dari awal aku selalu membohongi diriku sendiri. Tapi tidak lagi sekarang. Aku mencintaimu. Terlebih aku tahu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku ingin kita memiliki satu sama lain."


Zello menatap dalam mata Veron. Matanya yang menghiba, penuh harap dan juga.... cinta. Seperti itu yang bisa Zello baca. Apapun itu, andai istrinya berbohong. Pasti ada alasannya. Zello tersenyum yang kemudian mengangguk. "Iya, aku percaya. Lagian aku juga bukan tipe pemakan kalau lawannya tidak rela. Aku akan menunggumu sampai kamu siap."


Jawaban Zello membuat Veron tenang tapi juga merasa aneh. Apa Zello tahu kalau aku bohong? Terka Veron.


"Tapi, aku boleh kan untuk menikmatinya." Tangan Zello bermain di bibir tipis Veron.


"Sangat manis, aku suka."


Tangan Zello dengan cepat meraih pinggang Veron dan didudukkan di pangkuannya. Tangannya masih melingkar di pinggang Veron sementara tubuhnya semakin mengikis jarak antara mereka. Tangan Veron sendiri juga langsung ia kalungkan di leher Zello.


Tubuh tanpa berjarak, bibir tanpa jarak. Mereka berdua saling mengutarakan perasaan mereka dengan bibirnya. Dengan lembut, dengan dalam.


Baru kali ini Veron merasakan di mabuk asmara, dirinya seakan melambung tinggi. Dirinya bisa merasakan tubuhnya sedikit meremang karena aktivitas mereka. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Dapat sentuhan dari orang yang dia cintai, rasanya, ahh, tidak bisa Veron gambarkan. Veron hanya bisa menikmati, menikmati sesuatu yang akan membuatnya ketagihan.


Setelah sekian lama pagutan mereka berakhir juga. Nafasnya tersengggal-senggal. Veron merasa butuh oksigen.


Di tengah nafasnya yang naik turun, Veron menyembunyikan kepalanya di leher Zello. Sangat terasa hembusan nafas hangat Zello yang menerpa daun telinganya. Sekian detik kecupan hangat di kepalanya juga ia dapatkan dari Zello.


"Lie."


"Hm."


"Berakhirnya hubunganku dengan Rossa, aku tidak perlu berpura-pura lagi sekarang."


"Maksudnya?"


"Mulai sekarang, kita akan tinggal di rumah kakek."


"Apa? Coba katakan lagi." Veron mendongak antusias menanti ucapan Zello.


Bukannya menatap Veron balik, Zello malah ke arah daun telinga Veron. "Kita akan tinggal di rumah kakek." Bisik Zello.

__ADS_1


Dengan cepat Veron menangkup wajah Zello, menatapnya dan sekian detik mengikis jarak wajah mereka. Bibirnya langsung mendarat di bibir Zello. Menikmati dan juga memberikan kenikmatan.


Ulah Veron sekilas namun membuat Zello merasa sangat senang.


"Zello, aku sangat bahagia."


"Iya, aku bisa melihatnya." Zello menurunkan tubuh Veron dari pangkuannya. "Turunlah, aku takut tidak bisa menahannya." imbuh Zello.


Sementara Veron menatap Zello penuh binar. Bibirnya merekah karena senang.


Melihat raut bahagia Veron, tangan Zello dengan gemas mengacak-ngacak rambut istrinya.


"Kamu membuatnya berantakan," gerutu Veron.


"Sedari tadi berantakannya."


"Tadi kamu juga yang bikin berantakan."


"Iya." Wajah Zello sedikit memerah. Ini yang pertama mereka seintim ini. Rona bahagia tergambar jelas di wajah Zello.


"Lie."


"Iya. Kenapa?" suara Zello terdengar sangat lembut. Membuat Veron langsung menatap intens ke Zello.


"Aku.... lapar. Aku belum makan sedari pagi."


"Oh. Dasar. Aku pikir mau ngomong apa?"


"Hahaha." Zello meraih kepala Veron dan menaruh di dadanya.


"Aku akan memesankan makanan untukmu," ucap Veron. "Tapi, aku ingin tahu dulu. Kapan kamu sampai?"


"Tadi pagi, sekitar jam tujuh."


"Terus, apa kamu nanti akan kembali lagi keluar kota. Kamu bilang akan di sana tiga bulan."


"Nggak, waktu itu aku hanya menggodamu saja. Ingin melihat reaksimu."


"Kamu ....benar-benar." Veron merapatkan pelukannya ke Zello. Tangannya bertumpu di perut Zello. Di saat itu pula ada suara demo dari perut Zello.


"Aku akan memesannya sekarang." Veron melepas pelukannya dan langsung berdiri ingin mencari benda pipih miliknya di tas yang teronggok di lantai.


"Mau kemana? Pakai ponselku saja." Tawar Zello yang kemudian merogoh ponsel di saku celananya.


Ini yang pertama kali Veron memegang benda pipih milik Zello. Dirinya mengulum senyum, karena terbukanya diri Zello.


Sekian menit mereka baru bisa pesan setelah berunding makanan apa yang akan ia pesan.


Veron yang sudah merasa dirinya berantakan pamit untuk ke toilet. Di sana pula Veron tidak lupa untuk membawa ponsel.


dengan suara pelan Veron berusaha berucap di telpon. Yang ternyata langsung diterima saat dirinya melakukan panggilan.


"Dave.... tolong ...." Hiba Veron. Dirinya memang butuh bantuan Dave. Hanya Dave yang bisa dia andalkan. Bayangan Rossa tentunya tidak pernah lepas dari benaknya.

__ADS_1


__ADS_2