Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Dave Harus Sadar


__ADS_3

****


Zello yang masih berbalut jas dengan lihainya membuat jus. Sudah tidak heran melihat Zello demikian. Bila tidak mendapati Veron di luar, Zello pasti menyempatkan membuat jus untuk dibawa ke kamar, karena yakin istrinya tengah di kamar.


Suara langkah kaki membuat Zello menoleh sumber suara, begitu Anita langsung mengalihkan pandangannya.


Zello yang hampir selesai dengan jusnya tersenyum sesaat ke arah sumber suara, disana ada Veron yang tengah bersama Baby Re yang ada dalam dekapannya. Semerbak bau minyak telon membuat ruangan itu seakan semakin teduh.


"Sayang." Zello menaruh jusnya di atas meja, yang kemudian dirinya beralih ke Veron, menggendong Baby Re supaya istrinya bisa leluasa untuk menikmati jusnya.


"Mm, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi," pamit Anita.


"Kamu tidak mau jusnya, Anita," ujar Veron.


"Tidak, aku sedang kenyang," sahut Anita yang kemudian berlalu.


"Sudah, habiskan! Lagipula aku kan memang buat untuk kamu," bisik Zello.


"Huust!" Bisa-bisanya Zello berucap demikian,Veron takut Anita mendengar dan membuat dirinya berkecil hati.


Zello melirik Anita yang sudah memasuki kamarnya yang kemudian beralih menatap istrinya. "Hati Anita itu sedang pora poranda, sementara aku ini tampan dan sangat berkharisma. Jaga baik-baik suamimu ini!" Suara pelan Zello membuat mata Veron melotot. Andai Zello tidak sedang memegang putra mereka rasanya ingin sekali Veron mencubit suaminya itu.


Setelah sekian beberapa saat mereka mengobrol, Zello memberikan Baby Re kembali ke pelukan Veron karena dirinya berniat ingin mandi.


Berlalunya Zello membuat Veron sepenuhnya ke Baby Re di meja makan itu. Ada beberapa pelayan yang ada di dapur, menemani Veron mengobrol meski berjarak beberapa meter dari duduknya.


"Nona!" Celetuk Dahlia yang bikin Veron kaget yang baru saja datang.


"Bikin kaget aja," gerutu Veron. Matanya beralih menatap Baby Re yang bergerak lincah, menggerakkan tangan kesana kemari membuat Veron tersenyum senang.


"Nona!"


"Hm," sahut Veron malas. Mau sampai berapa kali Dahlia memanggil dirinya? Gerutu Veron dalam hati.


"Nona-"


Veron langsung mendelik tidak suka. "Buruan mau bilang apa?" kesal Veron.


"Hehe, maaf, Nona." Dahlia bingung cara mengucapkannya, tapi bila tidak, dirinya tidak akan bisa tidur nanti malam. "Nona, jangan terlalu membebaskan Nona Anita. Terlebih dengan tuan Zello." Dahlia berucap dengan mata terpejam.


Dahlia yakin, nonanya pasti akan melotot sempurna, membuat dirinya tetap menutup mata meski ia sudah selesai mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Dahi Veron berkerut, apalah maksud Dahlia, dirinya benar-benar tidak paham.


"Buka mata kamu Dahlia! Jelaskan apa maksud kamu!"


Perlahan mata Dahlia membuka, menatap takut-takut ke Veron.


"Nona- Nona Anita sangat membutuhkan sandaran seorang lelaki, takutnya- takutnya setiap kebaikan tuan Zello akan disalah artikan atau bahkan akan di manfaatkan oleh Nona Anita!"


Mendengar ucapan Dahlia benar-benar membuat Veron geram. Dengan reflek dirinya mencubit pinggang Dahlia, hingga bibir Dahlia menjerit singkat.


"Kamu itu kebanyakan baca novel," cerocos Veron.


"Sa-saya tidak- Eh, maksudnya maaf." Dahlia meneguk salivanya takut. Wajahnya pucat karena mendapat tatapan horror dari Veron.


Veron memilih beranjak meninggalkan Dahlia, melangkah menuju kamar sahabatnya yang berada di kamar bawah.


Tok tok. "Nita"


Veron tersenyum cerah melihat Anita. Pintu yang sudah terbuka membuat Veron langsung masuk. Baby Re yang dalam kondisi anteng ia taruh di ranjang.


"Dia sangat menggemaskan." Ujar Anita ikut duduk di ranjang bersama Veron. Bibir Veron terulas menanggapi ucapan Anita.


"Bagaimana kandunganmu? Pasti sudah berasa kan gerakannya." Ujar antusias Veron balik.


Tapi identitas yang harus segera diberikan untuk anaknya setelah lahir membuat dia harus tetap tinggal di kediaman Hanif. Anita masih sangat berharap, jika Dave akan segera sadar dari komanya.


"Tapi bila suatu saat Dave sadar setelah bayi ini lahir dan mau menerima anak ini. Kamu tidak apa kan kalau nanti kuambil lagi," ucap Anita beberapa minggu yang lalu. Anita bisa melihat senyum masam Veron. Anita paham, pasti dalam hati Veron dirinya menertawakan kebodohannya. Memperlakukan anak seperti boneka. Tapi Anita benar-benar tidak bisa bila ia harus membiarkan anak itu dalam keadaan tidak beridentitas, meski dirinya sangat menyayangi anak itu.


"Kamu bisa mengunjunginya, kamu tetap ibunya. Tapi pahamilah perasannya! Dia bukan barang - lagipula, kamu masih bisa hamil lagi kelak. Beda dengan diriku."


Ucapan Veron waktu itu berhasil membungkam diri Anita. Dave harus sadar sebelum dirinya lahir atau anaknya akan menjadi milik Veron.


"Nit. Kapan usg lagi? Kamu ingin anak cewek apa cowok?" Anita tersentak dari lamunannya.


"Ah, apa?"


"Ah, tidak jadi." Veron rasa dirinya tidak pantas menanyakan hal itu. Takut Anita malah akan murung. Karena Anita sendiri tidak menginginkan anak itu sepenuhnya hanya karena takut anaknya akan bernasib buruk dicap tanpa ayah. Padahal tidak ada yang namanya anak haram. Semua sudah takdir.


"Apa Zello tidak akan marah bila kamu terus disini. Dia baru saja pulang."


"Iya, kamu benar. Tapi bukan berarti kamu mengusirku kan?" celetuk Veron.

__ADS_1


"Hahaha terserah mau bilang apa. Karena aku rasa Zello pasti juga merindukan Baby Re."


"Iya, kamu benar." Veron mengelus pipi gembul anaknya. Dengan perlahan mengangkat anaknya. "Ayo Sayang. Kita diusir."


"Dasar gila." Anita terkekeh kecil.


Veron melangkah menuju lift yang sudah dibuat dan menuju di mana kamarnya berada.


Sesampai di kamar Veron langsung mendapati suaminya yang tengah memakai baju rumahnya dengan senyum mengembang melihat kehadiran istri dan sang putra.


"Mas."


"Sini, biar sama aku." Zello meraih Baju Renang dan langsung mengajaknya di ranjang.


"Taruh saja, Mas. Biar nggak bau tangan."


"Aku kangen Sayang. Biarkan bau tangan."


"Manja nanti."


"Biarkan manja."


Hah. Veron mendesah kecil, namun dirinya ikut duduk di samping persis suaminya. Melihat Baby Rela yang sangat menggemaskan.


"Kok bisa, dulu pas lahir mirip aku tapi sekarang jadi lebih mirip ke kamu." Dahi Zello bertaut, sedangkan Veron tersenyum geli dengan ucapan Zello. Entah sudah yang keberapa Zello berucap demikian.


"Sebentar lagi akan mirip sama kakek buyutnya," ucap Veron kemudian.


Zello tertawa kecil, perlahan mencium pipi anaknya dengan lembut. "Mau mirip siapapun itu yang penting anak ayah," ucap Zello dengan binar.


"Oya, sebentar lagi tahun baru," ucap Zello lagi.


"Semua berturut-turut pestanya. Aku suka. Hehehe." ucap Beron menhir.


"Mau di rumah atau di luar tahun baruannya?"


"Kalau di luar misalnya?"


"Mm, bisa kita main kembang api di pantai, atau di manapun. Atau bisa juga di rumah orang. Ikut bergabung dengan pesta keluarga orang. Itu juga seru."


"Di rumah orang?! Misalnya?"

__ADS_1


****


__ADS_2