Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Makan Siang


__ADS_3

Tujuan Veron bertemu dengan Dave supaya bisa tenang. Tapi nyatanya ia malah salah. Meski Dave memberi solusi, tapi solusi dari Dave benar-benar membuat dirinya syok.


Keluarganya sendiri atau keluarga mereka?


Veron menggigit bibirnya. Genangan air sudah berada di pelupuk mata dan siap meluncur. Dirinya sudah terlalu banyak dosa dengan menjadi wanita malam. Apa dia juga bisa membiarkan Dave melenyapkan seseorang untuk kepentingan dirinya.


"Cukup Dave. Itu bukan solusi yang baik." Veron menggeleng lemah.


"Jadi?"


"Tolong bantu tutup identitasku saja, Dave. Soal kemungkinan Rossa dengan pria-pria itu biar aku yang mengatasi. Lagipula itu belum tentu terjadi."


"Oh, jadi dia namanya Rossa. Dan apa kamu yakin dengan ucapanmu?"


"Iya."


Veron menatap Dave dengan senyum, namun wajah tidak berdayanya tidak bisa dia sembunyikan.


Helaan nafas berhembus dari Dave. Terpaksa mengiyakan permintaan wanita yang ada di depannya.


"Iya. Apapun yang kamu pilih aku akan mendukungmu. Terlebih kamu sudah bertekad untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Bagaimana pun, semua orang punya masa lalu. Aku rasa Zello akan menerimamu. Andai, tidak. Kembalilah kepadaku. Kita mulai hidup yang baru sama-sama."


"Kamu selalu berucap demikian. Semalam kamu bertandang ke kamar siapa?" ledek Veron.


Dave memijit hidungnya mendengar ucapan Veron yang memang betul apa adanya.


"Oya. Semalam Rossa ke club."


"Benarkah?"


"Iya. Tapi tenang saja. Desy sudah mengatasinya. Beruntung kamu kemarin sudah mengabariku. Jadi aku langsung mawas sama keadaan."


"Terima kasih, Dave."


"Tidak perlu berucap demikian. Persiapkan hati dan mentalmu. Aku rasa pilihanmu itu akan memerlukan keduanya."


"Iya. Tentu saja."


"Bila itu terjadi. Kamu tahu harus kemana."


"Aku bisa kemana saja. Aku sudah besar Dave."


"Selain Rossa sepertinya ada yang main-main denganmu," cetus Dave.


"Siapa?"


Sorot mata Dave terarah dengan wanita yang duduk dekat pintu masuk yang sibuk dengan majalah untuk menutupi wajahnya.


"Ouhh, itu asistenku. Aku sengaja suruh duduk jauhan dari tempat kita. Tapi aku tidak menyangka dia berlagak seperti mata-mata di sebuah film." Veron terkekeh dengan ulah Dahlia yang sesekali mengintip dari majalah yang tengah di pegangnya.


Sementara Dave yang tidak bisa melihat wajah Dahlia hanya bisa menyipitkan mata menatap detail mata Dahlia. Ya karena memang mata Dahlia saja yang terlihat.


"Ouhh. Aku pikir. Baiklah. Berarti deal?" ucap Dave kemudian.


Meski dengan berat hati, Veron akhirnya mengangguk.


Veron dan Dave berdiri bersamaan. Veron melangkah pelan beranjak dari sana yang kemudian di susul Dave yang sebelumnya sudah menaruh uang di mejanya.


Melihat namanya yang sudah dekat dengan mejanya, Dahlia segera berdiri bersiap untuk keluar dari resto juga. Pandangan mata Dahlia juga tidak luput untuk pria yang jalan beriringan dengan nonanya. Ada rasa iri di dirinya untuk Veron yang di kelilingi laki-laki tampan.


"Dahlia," ucap Veron. Dahlia sedikit tersentak. Ucapan Veron membuyarkan pandangan matanya ke Dave.


"Dave." Uluran tangan Dave dengan kedipan matanya.


"Dahlia." Dahlia menerima uluran tangan dengan semburat merah di wajahnya. Senyum manis Dave membuatnya tersipu.


Dave melepas uluran tangannya dan beralih mencubit kecil hidung Dahlia. Dahlia terlonjak karena terkejut.


"Dave. Jangan suka mempermainkan anak orang," cetus Veron.


"Iya ..." sahut Dave lembut. Tangan Dave terulur menangkup wajah Veron dengan tatapan lembut dan tidak bisa diartikan.


Mata Dahlia mendelik kaget dan juga syok. Baru saja dirinya merasa melayang tapi seketika itu juga terhempas. Ternyata pria tampan di depannya memang memperlakukan wanita dengan sama.


"Ayo Dahlia," ucap Veron dan melangkah keluar terlebih dahulu.


"Iya Nona." Dengan sigap Dahlia mensejajari langkah Veron. Tapi sesaat belaian terasa di rambutnya. Dahlia menoleh ke belakang dan ternyata si Dave pelakunya. Dengan segera ia tepis tangan Dave dengan kesal.


'Dasar pria nakal'


***


Langkah Veron terhenti ketika terbukanya pintu ruangan Zico. Memang bila menuju ruangan Zello pasti melewati ruangan Zico karena ruangan mereka bersebelahan.


Dahi Veron mengernyit melihat tatapan yang tidak biasa dari Zico.


"Kenapa?" tanya Veron.


"Ah, tidak. Anda cantik," sahut Zico asal. Sesaat dia menepuk bibirnya karena salah bicara.


Veron tersenyum masam sembari berlalu dari sana karena lanturan Zico.


Mulut Dahlia ternganga mendengar ucapan tidak sopan Zico. Dia memukul bahu Zico dengan kedua tangannya.


"Dasar nggak tahu diri. Bisa-bisanya merayu istri bos sendiri." Cempreng Dahlia.


"Heh. Hentikan!" Zico menahan tangan Dahlia yang masih saja memukul bagian tangannya.


"Bukan Nona yang cantik. Tapi kamu."


"Apaaaa?"


***


Veron yang baru saja masuk ruangan Zello langsung disambut hangat oleh Zello. Tepukan kecil di paha Zello sebagai kode untuk istrinya.


Dengan tersipu Veron melangkah mendekat dan siap menjatuhkan pantatnya di pangkuan Zello.


"Bos." Zico yang baru saja masuk berhasil menggagalkan niatan Veron untuk duduk di pangkuan Zello.

__ADS_1


Zico yang sempat melihat merasa tidak enak, dan juga tidak nyaman dengan tatapan Zello.


"Cuma ingin menyerahkan ini," ucap Zico. Dengan cepat Zico menaruh berkasnya dan beranjak dari sana.


"Zico!" panggil Zello.


"Iya Bos."


" Suruh Dahlia nunggu di luar!"


"Ah, baiklah."


Dengan perlahan Zico keluar ruangan dan menutup pintunya. Dilihatnya Dahlia yang tidak jauh dari sana yang sibuk dengan gadgetnya.


Zico langsung menyampaikan pesan Bosnya ke Dahlia.


"Tanpa diberitahu pun aku juga sudah tahu. Memangnya kamu," sebal Dahlia.


"Ouuhh, baguslah."


Zico melenggang santai meninggalkan Dahlia dengan bibir mengerucut karena kesal. Bagaimana Dahlia tidak kesal, Zico selalu saja buat tensinya naik. Ucapan Zico ' kamu cantik tapi bohong' terngiang-ngiang di ingatan Dahlia.


"Dia pikir aku bakal terbawa perasaan gitu sampai harus ada kata susulan itu. Padahal kalau dia bilang aku cantik sungguhan nggak ngaruh buat aku. Buat apa aku kebaperan dari pria aneh macam dia. Nggak sadar diri."


Dahlia tensinya tengah bergejolak. Berbeda yang ada di dalam ruangan.Sepasang pasangan telah bergejolak dengan hasrat yang tinggi. Terlebih respon Veron yang mengalungkan tangan di leher Zello. Membuat Zello semakin leluasa untuk memainkan dan memperoleh rasa nikmat dari bibir manis Veron.


Buasnya Zello sampai membuat mereka terengah-engah walau hanya melakukan ritual di bibir saja. Mereka yang sama-sama mengakhiri menatap satu sama lain dengan tatapan penuh damba.


Veron yang merasa bibirnya kebas langsung meraba bibirnya dan terasa kalau sudut bibirnya tengah bengkak.


"Bengkak," ucap Veron manja tapi juga sedih.


"Sini lihat." Zello menelisik sudut bibir yang memang bengkak karena ulahnya.


"Malu ya? Ada masker mau?" tawar Zello.


Veron yang memang masih di pangkuan Veron langsung menggeleng. Dirinya tidak pernah pakai masker, yang ada kelihatan aneh bila dia tiba-tiba memakainya.


"Mm, turunlah dulu. Aku akan mengompresnya pakai air hangat."


Zello dengan cekatan mengambil air dari dispenser yang sudah ia campur supaya hangat. Dan segera mengompres Veron yang sudah duduk di sofa panjang.


Bengkak Veron tidak bisa langsung membaik. Butuh waktu lumayan lama untuk mengurangi bengkaknya. Hingga membuat Dahlia yang di luar ruangan jalan hilir mudik.


"Lama sekali, Nona. Ah, jangan-jangan mereka." Dahlia memekik dengan menutup mulutnya. Bersamaan juga terbukanya pintu. Tapi sayangnya pintu ruangan Zico.


"Mana Bos?" tanya Zico yang sudah menghampirinya.


"Masih di dalam." Ketus Dahlia.


"Sama Nona?"


"Hm."


Wajah Zico menengadah seakan berfikir yang kemudian wajahnya memerah. Dan baru ia sadari juga kalau wajah wanita di depannya juga memerah.


Tanpa kata Zico masuk kembali ke ruangannya.


"Kamu kenapa?" tanya Veron aneh dengan tatapan Dahlia.


"Ah tidak Nona."


"Mana Zico?"


"Masih di ruangannya Tuan."


"Suruh keluar!"


Untungnya sebelum Dahlia masuk, ruangan Zico sudah terbuka. Karena Dahlia sebenarnya malas berurusan dengan Zico.


"Ayo makan!" ucap Zello yang jalan duluan bersama Veron dengan tangan merangkul pinggang ramping milik istrinya.


Zico melihat cemas dengan apa yang dilihatnya.


"Wanita licik itu berhasil mempengaruhiku," gumam Zico sembari meraup kasar wajahnya.


"Apa?" tanya Dahlia yang tidak sengaja mendengar gumaman Zico.


"Bukan apa-apa. Lupakan!"


Sesampai resto, Zello langsung masuk ruang privatnya. Tidak lupa juga memesankan ruang privat untuk Zico dan Dahlia. Memang awalnya mereka menolak, tapi Zello kukuh untuk menyewa room privat buat mereka berdua.


"Apa kamu sengaja biar mereka berduaan?" tanya Veron.


"He em." Zello menjawab singkat. Sedikit kesal dengan Veron yang belum terbiasa memanggil dirinya dengan panggilan sayang.


"Sayang, apa mereka akan baik-baik saja?! Mereka berdua aku lihat suka berdebat," ucap Veron.


Senyum mengembang terbit dari bibir Zello.


"Pasti," sahut Zello senang.


"Sebegitu senangnya menjadi pak comblang." Heran Veron melihat wajah sumringah suaminya.


"Ini bukan karena dia. Tapi karena hal lain."


"Apa?"


"Ada, pokoknya. Udah ayo makan. Aku kangen disuapi."


Indahnya di ruangan Zello dan Veron. Tentu jelas berbeda di ruangan Zico.


Mata Zico tak hentinya menatap tajam ke arah wanita yang duduk di hadapannya. Bukan karena kesal dengan Dahlia, tapi karena terngiang-ngiang dengan ucapan Rossa. Karena ada pikiran yang tengah mengganggunya, Zico tanpa sadar telah menatap kosong ke arah Dahlia dalam waktu yang lama.


"Hem." Dahlia berdehem kencang.


Seketika Zico tersadar dan langsung meraup kasar wajahnya.


"Dasar aneh." Gumam Dahlia yang langsung dapat sorot tidak mengenakan dari Zico.

__ADS_1


"Aku mau makan di luar," ucap Zico.


"Bagus deh. Shuh shuh shuh," ucap Dahlia sembari mengibaskan tangannya.


Setelah selesai makan, Zello dan Veron heran mendapati Zico yang duduk sendirian di meja outdoor.


"Itu Zico di luar?" Heran Zello.


"Ayo, berarti Dahlia juga diluar." Ajak Veron sembari merangkul lengan Zello. Sikap manja Veron membuat Zello merasa sangat senang, membuat hatinya terlena.


Sesampai outdoor Zello dan Veron disambut dengan tatapan tidak suka Zico. Namun mereka yang sedang dilanda asmara tidak memperhatikan sama sekali tatapan dan raut Zico.


"Zico. Kamu makan di sini? Mana Dahlia?" tanya Veron.


"Mm, masih di dalam sepertinya."


"Sepertinya?"


"Sebenarnya kita tidak makan satu meja. Dahlia makan sendirian di dalam." Zico menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kan, aku sudah bilang. Mereka selalu berdebat bila bersama," celoteh Veron sembari mengambil ponsel di tasnya.


Helaan nafas kasar keluar dari hidung Zello. Menatap kesal ke Zico.


"Mau sampai kapan kamu jadi bujang lapuk," cecar Zello.


Zico mengernyitkan dahi keheranan. "Bos kan juga baru nikah beberapa bulan yang lalu," bela Zico.


"Tapi paling tidak aku pernah pacaran." Tandas Zello.


"Saya nanti langsung nikah saja tidak masalah. Hehehe."


"Kalian ini. Panggilanku tidak di angkat-angkat oleh Dahlia." Sela Veron.


"Zico. Kamu ke dalam!"


"Eh, siap Bos."


Zico setengah berlari menuju tempat dimana Dahlia berada. Dan segera di bukanya pintu.


"Dahlia," ucap Zico. Terkejutnya Zico yang melihat Dahlia tengah selonjoran dengan ponsel di tangannya dalam keadaan mata tertutup.


"Apa dia pingsan?" tanya Zico pada diri sendiri. Zico menepuk-nepuk pipi Dahlia. Dan nggak lama mata Dahlia mulai terbuka.


"Aku pikir kamu mati," sengit Zico.


"Kamuuu .... makanan sudah di pesan, kamunya malah keluar. Aku kekenyangan, ngantuk."


"Dasar. Ayo keluar kamu sudah di tungguin."


"Gendong ..." ucap Dahlia.


Zico yang baru saja berbalik badan langsung menatap heran ke Dahlia. Dahlia tampak mengantuk berat.


"Tadi bilang aku aneh. Sekarang minta gendong. Jual mahal sedikitlah jadi perempuan." Zico berlalu meninggalkan Dahlia yang masih terkantuk-kantuk di dalam ruangan.


Zico yang sudah melangkah keluar tapi tak kunjung melihat Dahlia di belakangnya jadi merasa jengkel.


"Apa dia kembali tidur. Dasar wanita gila," gerutu Zico. Dirinya melangkah lebar kembali untuk menjitak Dahlia. Dibukanya dengan lebar pintu dan .... dahi Zico bertaut. "Dimana wanita gila itu?"


Di lain sisi Zello dan Veron yang menunggu di luar restoran menggerutu karena Zico dan Dahlia tak kunjung keluar.


"Sedang apa mereka berdua?" gerutu Zello.


"Mungkin sedang jambak-jambakkan."


"Itu dia." Tunjukk Veron dengan matanya.


Dahlia dengan setengah berlari menghampiri dimana Nona dan Tuannya berada.


Nafasnya terengah-engah sementara bibirnya tersenyum kaku. "Nona, Tuan. Maaf kelamaan menunggu. Saya harus cuci muka dulu soalnya."


"Zico mana?" tanya Zello dan Veron serempak.


"Ha? Bukannya sudah keluar ya?!"


Veron dan Zello saling melempar pandang.


"Kamu benar, Sayang. Mereka serasi," ucap Veron.


"Sama-sama nyebelin," imbuh Veron mode pelan. Sementara Zello terkekeh dengan ucapan Veron.


"Kenapa, kenapa. Siapa yang serasi Nona?"


tanya Dahlia tidak paham.


"Ini loh. Kami yang serasi. Iya kan Sayang?!" Veron memeluk lengan Zello dengan posesif.


"He em. Masa kamu sama Zico."


Dahlia benar-benar tidak paham apa yang Nona dan Tuan ucapkan. Membuat seakan mereka bertiga mengobrol bersama tapi tidak nyambung. Tapi melihat Veron yang terus menempel di lengan Zello membuat dia tahu kalau Nona dan Tuannya sudah semakin dekat. Dan, rasanya ingin punya pacar juga. Hiks.


"Tuan Zello."


Sela seorang wanita cantik yang sudah diantara mereka. Penampilan menawan dan seorang putri kecil kecil yang tengah gandengnya. Senyum mengembang menambah pesona sang mama muda.


"Nona Julia dan ... "


"Bellena. Anda bisa memanggil Ellen."


"Nama yang cantik, seperti wajahnya," puji Zello.


Ekor mata Julia terus mencuri pandang Veron meski mengobrol dengan Zello. "Nona ini? Aku tidak asing dengan wajahnya."


Zello terkekeh sembari melepaskan cekalan Veron di lengannya mengganti dirinya memeluk erat bahu Veron. "Tentu saja, dia istriku. Anda pernah lihat saat di pesta resepsi kami," tutur Zello semangat. Sementara Veron tersenyum kecil, dan melihat wajah Ellen yang sepertinya mirip seseorang. Tapi siapa, Veron masih berusaha mengingatnya.


"Lilie Sayang. Kenalkan, dia Nona Julia. Istri Zein. Kamu ingat kan?"


Senyum Veron memudar dengan nafas yang tertahan.

__ADS_1


"Bukan, Tuan Zello. Bukan di tempat resepsi. Tapi ... di ponsel Zein."


__ADS_2